Perfect Love

Perfect Love
Pentas Seni



 


Pagi ini sebelum acara dimulai aku sudah berada di lobby hotel menunggu teman - teman kelompokku untuk membahas pentas seni yang akan ditampilkan nanti malam. Cukup mendadak memang, kami hanya diberi waktu sehari ini saja untuk mempersiapkan penampilan kami. Semalam si kacamata yang memberi tahuku, ia datang ke kamarku marah - marah dan mencibirku dengan kata - kata kasar karena semalam aku tidak ada di kamar saat panitia menginstruksikan untuk ketua kelompok berkumpul di ruang pertemuan. Alhasil si kacamata lah yang mewakili kelompokku menggantikan. Aku sudah berulang kali meminta maaf padanya tapi tetap saja di akhir pembicaraan ia mencibirku dengan mulut pedasnya. Tidak lama sebelum waktu yang disepakati, satu persatu temanku berdatangan dengan pakaian mereka yang casual karena memang pertemuan ini diadakan di luar kegiatan pelatihan. Aku sendiri pagi ini mengenakan sebuah hoodie berwarna putih keluaran dari salah satu brand ternama dunia dengan celana training berwarna merah maroon. Saat jam menunjukkan waktu yang disepakati semua teman sekelompokku sudah berkumpul kecuali si kacamata,


 


" Udah kumpul semua nih, tinggal si Nathan aja yang gak ada, " Ujar Dimas seusai mendata satu persatu anggota kelompok,


" Gimana sih, ini kan udah waktunya, " Ujar Nicky teman sekolompokku yang lain melipat kedua tangannya bersandar di sofa dengan sebal,


" Dim, emang si Nathan kemana ?" Tanyaku kemudian,


" Wah gak tahu juga aku, tadi waktu aku jemput aku disuruh duluan, nanti nyusul katanya, " Aku yang mendengar itu memutar bola mataku sebal.


Selalu saja dia datang terlambat, sangat tidak profesional untuk ukuran seorang wakil ketua OSIS. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kesulitan Rafael memiliki wakil macam si kacamata. Akhirnya aku putuskan untuk memulai diskusi terlebih dulu tentang apa yang akan kami tampilkan. Setelah berdiskusi dengan matang kami memutuskan untuk menampilkan dance yang dikolaborasikan dengan tarian tradisional dan diselingi nyanyian. Di detik-detik terakhir pertemuan si kacamata dengan santainya baru menampakkan batang hidungnya,


" Loh, kok sudah mau selesai ?" Tanyanya tanpa merasa bersalah,


" Yaiyalah sudah dari tadi kita ngumpul, kamu itu yang dari tadi kemana aja, gak disiplin banget!" Ujarku dengan sakratis padanya,


" Aku itu barusan habis ada urusan sama panitia, " Ia mengambil tempat duduk bersebrangan denganku melipat salah satu kakinya dengan santai,


" Jadi penampilan kita nanti malam gimana?" Tanyanya lanjut, aku meminta Dimas yang menjelaskan detail penampilan kami padanya karena aku malas berbicara dengannya,


" Ih ..... penampilan apaan begitu ?" Ia memasang wajah menjengkelkan membuat beberapa teman kelompok semakin kesal,


" Yaudahlah tinggal ikutin aja, siapa suruh telat datangnya, " Sahut Nicky menatap si kacamata sebal,


" Enggak, aku gak mau ikut begituan, jijik banget, lagian kelompok kita itu dapet bagian nampilin drama bukan tari sama nyanyi, " Sontak semua teman sekelompokku membelalakkan mata terutama diriku,


" Kok kamu gak ngomong kalo sudah ditentukan dan kita dapat bagian drama ?" Dimas langsung menyambar pernyataannya barusan dengan nada yang sedikit meninggi,


" Siapa suruh mulai duluan sebelum aku datang, barusan itu aku dapat info terbaru dari panitia, makanya aku telat kesininya, lagian sih ketua kelompok ini gak punya tanggung jawab banget, " Celetuknya sengaja menyudutkan aku,


" Heh siapa yang kamu bilang gak bertanggung jawab, memang kamu aja yang sengaja gak bilang ke aku, mau sok - sok an jadi yang lebih baik! " Ujarku menatapnya dengan sangat marah,


" Eh .....jaga ya mulutmu, emang kenyataan nya kamu gak punya tanggung jawab, heran aku kenapa orang kayak kamu bisa dipilih jadi ketua, jadi ketua jangan cuma modal tampang!" Ia berdiri berkacak pinggang seakan menantang, aku yang tidak terima mendengar hinaanya itu langsung balas berdiri menatapnya dengan garang. Melihat situasi yang tegang Dimas berinisiatif langsung mencegah kami agar tidak bertengkar,


" Udah lah jangan kayak anak kecil kalian itu, mending sekarang kita rundingan ulang aja, waktu kita juga sudah mepet ini setengah jam lagi acara mau dimulai, " Dengan mengesampingkan ego, kamipun mulai merundingkan ulang drama yang akan kami tampilkan.


 


Siang harinya, di sela - sela istirahat kami menyempatkan untuk berlatih drama. Nanti malam kami akan menampilkan drama putri tidur dan tujuh kurcaci dengan aku sebagai pemeran utamanya. Jika kalian mengira si kacamata adalah pangerannya kalian salah, karena si kacamata tidak ambil bagian di drama ini, dia yang bertindak sebagai sutradara serta pengiring musik di akhir drama dan hal itu cukup membuat aku menghela nafas lega karena tadinya si kacamata lah yang dipilih menjadi pangeran, tapi kami berdua menolak mentah - mentah. Kami berlatih dengan sungguh - sungguh untuk menampilkan performa yang maksimal dengan hanya sekali latihan, teman - teman sekelompokku juga ternyata dapat diandalkan dengan improvisasi yang sangat baik. Meskipun begitu si kacamata tetap saja beberapa kali merasa tidak puas dengan akting kami yang menurut ku akting kami sudah sangat bagus,


 


" Stop....stop....kamu itu gimana sih, seharusnya kamu pasang wajah sedih kecewa berat gitu kalo perlu nangis lihat putri itu mati !" Tegurnya pada Miko yang berperan sebagai pangeran,


" Terus kalo udah kamu cium putrinya !" Tambahnya membuat aku langsung membelalakkan mata,


" Eh....yang bener aja, gak maulah aku di cium - cium seenaknya !" Sahutku yang dibenarkan oleh Miko dengan anggukan,


" Kamu harus mau dong, biar drama kita lebih bagus, ayo yang profesional !" Ujarnya tetap bersikeras dengan pendapat nya,


" Yaudah deh, tapi nanti aja pas di panggung itupun nyiumnya di pipi dan gak boleh kena pipi, jadi nyiumnya ditangan Miko sendiri yang megang pipiku !" Malas berdebat denganku ia pun menyetujui dengan terpaksa dan aku bersorak gembira dalam hati.


Latihan kami terus berlanjut hingga kami rasa sudah cukup dipengulangan ketiga, disaat kami hendak bubar aku baru tersadar bahwa kami belum menentukan kostumnya,


" Eh tunggu dulu jangan bubar !" Teman - temanku langsung berhenti dan berbalik melihat ke arahku,


" Ada apa lagi vin?" Tanya Dimas bingung,


" Kita lupa kalo kostumnya belum ditentukan," Semua temanku langsung menepuk dahinya bersamaan,


" Oh....iya hampir aja lupa, gimana ya ini dramanya gak bisa kalo pake kostum sembarangan, " Ujar Nicky bingung begitu pun teman - teman yang lain,


" Apa kita ganti aja ya dramanya ?" Saran Miko,


" Ya gak bisa begitu, gimana latihannya ini aja sudah hampir waktunya acara lagi, " Tolak Dimas , karena memang ide itu buruk untuk kami saat ini yang hanya memiliki sedikit waktu,


" Em.....yaudah deh masalah kostumnya kalian gak usah bingung biar aku yang usahakan, aku minta ukuran baju kalian aja deh, " Aku teringat bahwa aku kan bisa meminta papaku untuk mencari kostum kami sebelum pentas dimulai, itu bukan hal yang sulit bagi papaku,


" Yang bener, gak usah halu lah, aku gak percaya bualan kamu !" Nathan menatapku dingin,


Melihat kesungguhan dari kata - kataku teman - temanku mau mempercayai sehingga mau tak mau si kacamata juga ikut percaya dengan embel - embel ancaman dari mulut berbisanya, yang akhir-akhir ini aku sudah mulai terbiasa dengan itu.


 


Hari ini, hari yang cukup sibuk untukku. Selain memastikan kostum tersedia, aku juga meminta papa untuk melengkapi dengan beberapa properti pendukung penampilan. Aku bisa membayangkan drama kelompokku akan sangat menakjubkan. Memang seperti inilah diriku, aku seorang yang perfeksionis dalam melakukan segala hal tidak mau tanggung - tanggung, semua harus Sempurna sesuai keinginanku bagaimanapun caranya. Karena kesibukanku, seharian ini juga aku tak sempat berkomunikasi dengan Rafael. Sepertinya diapun juga sibuk menyiapkan penampilan kelompoknya, sesekali kami hanya tersenyum saat sedang berpapasan, hal itu sudah cukup untukku terlebih lagi setelah melewati malam yang berkesan bersamanya. Hari ini semua acara selesai lebih cepat untuk memberi kesempatan peserta mempersiapkan pentas seni. Saat matahari mulai kemerahan di ufuk barat, tepat pukul setengah enam aku menerima barang - barang yang ku pesan pada papa tadi siang. Dengan dibantu Nicky di kamarku, kami mengeluarkan semua barang dari bungkusnya untuk memastikan semua sudah sesuai, ternyata semua sudah sesuai, papaku memang orang yang sangat bisa diandalkan. Di tengah kesibukan nya beliau selalu memprioritaskan segala sesuatu yang berkaitan denganku, dan tak pernah sekalipun membuatku kecewa karena beliau juga orang yang sangat perfeksionis seperti ku, sifat beliau memang banyak diturunkan padaku termasuk sifat yang tidak suka dengan hal - hal yang tidak cocok dengan pikiran kami. Saat tengah asyik berbincang dan menata barang , terdengar bel kamarku berbunyi, aku segera membuka pintu kamarku menampakkan Dimas yang terlihat cemas,


 


" Vin gawat, gawat vin !" Ujarnya dengan nafas yang sedikit tersengal,


" Ada apa, apa yang gawat ?" Tanyaku merasa ikut cemas melihat Dimas,


" Itu si Miko vin, jatuh dari tangga saat lagi main kejar - kejaran sama aku waktu kami mau kesini, " Mendengar itu aku refleks menutup mulutku dengan kedua tangan,


" Apa , terus gimana sekarang keadaannya, dimana Miko sekarang, sudah ditangani belum sama tim medis ?" Berondong ku dengan banyak pertanyaan,


" Barusan Miko sudah dibawa ke rumah sakit sama panitia, dan aku tadi sempet ikut juga, kondisinya buruk tangannya terkilir, jadi dia gak bisa nerusin kegiatan ini yang itu artinya dia juga gak bisa ikut drama kita nanti malem, terus ini gimana vin? " Tanpa menjawab pertanyaan Dimas aku menggiringnya masuk ke kamarku, memberikan segelas air putih untuk menenangkan dia yang masih sedikit syok.


" Pokok kamu tenang aja, ada atau tanpa Miko kita tetep akan lanjutkan dramanya, kamu lebih baik disini saja sama Nicky bantu nyiapin properti, aku bakal panggil temen - temen yang lain buat kesini sama sekalian bilang ke Nathan tentang masalah ini, " Aku bergegas pergi karena waktu tampil kami tinggal beberapa jam lagi.


 


Aku menyusuri lorong - lorong kamar hotel yang lengang, memfokuskan pandangan mencari kamar milik si kacamata, aku harus susah - susah seperti ini karena dia tidak pernah mau melihat pesanku dan pasti akan selalu terlambat jika aku tidak segera menemui nya sendiri. Tidak butuh waktu yang lama, aku bisa menemukan kamar si kacamata berdasarkan informasi yang kudapat dari panitia. Aku ketuk pintu nya beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Tiga menit aku berdiri di depan kamarnya mengetuk pintu berulang kali barulah pintu itu terbuka,


 


" Ih.......ada apa sih boncel, ganggu orang tidur aja, " Ia berdiri dengan penampilan yang berantakan, hanya mengenakan kaos oblong, celana pendek dan rambut acak - acakan dengan suara berat yang serak memandang ku tak fokus,


" Apa tadi kamu panggil aku boncel, matamu buta ya aku tinggi langsing begini dipanggil boncel, kamu itu yang kayak kutu beras, yang lain lagi pan....emppp !" Tangan kurang ajarnya mendekap mulutku begitu saja,


" Ah .....diem kenapa berisik banget, pusing kepalaku dengar ocehanmu !" Saat itu juga terdengar suara orang dari dalam kamarnya memanggil si kacamata.


Sekilas aku dapat melihat Rafael berdiri menghadap pintu hanya melilitkan sebuah handuk di pinggang dengan air yang masih menetes dari ujung - ujung rambut dan pipinya. Dapat kulihat jelas perutnya dan otot - otot tubuhnya yang masih basah terpahat indah, beberapa saat aku tak berkedip sama sekali melihat pemandangan langka yang menakjubkan itu, sementara Rafael yang sadar ada aku di pintu segera masuk ke kamar urung memanggil si kacamata,


" Heh.....malah bengong, woy......sadar ngapain kamu bengong disini, pergi sana kalo cuma buat bengong doang !" Suara si kacamata segera memecah lamunanku,


" Aku gak bengong, aku kesini mau bilang kalo Miko kecelakaan , tangannya terkilir dan dia gak bisa ikut drama !" Seruku membuat ia juga cukup terkejut terlihat dari raut wajahnya yang berubah,


" Apa Miko kecelakaan terus gak bisa ikut drama, terus siapa yang jadi pangerannya ?"


" Ya aku gak tahu, makanya aku kesini bilangin kamu makanya kalo ada pesan itu dilihat, jangan mentang - mentang orangnya gak guna handphone nya juga ikutan gak guna!"


" Yaudah - yaudah aku mau mandi dulu bentar, nanti kita ketemu di ballroom, udah pergi sana !" Lanjutnya langsung membanting pintu di mukaku setelah menyelesaikan kata - kata terakhir nya. Benar - benar lelaki kurang ajar, selama di perjalanan menuju kamarku tak henti-hentinya aku melontarkan kalimat - Kalimat ajaib meruntuki si kacamata menyebalkan itu.


 


Setengah jam sebelum pentas seni di mulai, aku dan teman - temanku sudah berada di ballroom bersiap - siap karena kami akan menjadi penampil pertama malam ini. Meskipun tanpa kehadiran Miko drama kami tetap bisa dilanjutkan dengan Nathan yang menggantikan peran Miko menjadi pangeran. Mau tak mau kami harus profesional, hanya Nathan di kelompok ini yang tidak ikut ambil peran dalam drama jadi dialah satu - satunya orang yang dapat menggantikan Miko. Aku sudah selesai bersiap dengan gaun yang melekat sempurna di tubuhku serta riasan tipis yang terlihat natural. Aku menatap diriku di cermin tersenyum puas melihat hasil riasan ku sendiri yang menakjubkan membuatku semakin terlihat cantik. Saat aku tengah mengagumi diriku sendiri, muncul pantulan Nathan di cermin yang sama sedang berdiri di belakangku membuat aku reflek menoleh. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat, dengan balutan pakaian pangeran yang melekat pas di tubuhnya ia terlihat lebih gagah. Apalagi saat ini Nathan melepas kacamata cupunya dan merapikan rambut hitam legamnya, membuat ia terlihat seperti pangeran - pangeran di negeri dongeng,


 


" Wow.....tampan sekali, " Mulut sialku tanpa sadar melepaskan kalimat itu yang untungnya tak terdengar jelas oleh Nathan,


" Apa, apa yang barusan kamu bilang?" Aku segera bersikap senormal mungkin menutup rasa maluku sudah melontarkan kata sialan itu,


" Aku bilang baju itu membuat kamu jadi kelihatan tidak terlalu memalukan seperti biasanya, " Aku segera pergi meninggalkan dia sebelum hal yang lebih buruk terjadi.


 


Pentas seni pun dimulai tepat pukul tujuh malam. Aku mulai beradegan sesuai latihan siang tadi. Awalnya aku sempat demam panggung, tapi saat aku sudah berada di atas panggung semua kegelisahan ku lenyap begitu saja digantikan rasa percaya diri dan semangat apalagi setelah melihat Rafael yang berada di bangku paling depan tersenyum manis padaku serta sebelumnya ia juga mengirim pesan dukungan padaku. Aku dan kelompok ku melakukan pertunjukan dengan sangat baik termasuk Nathan, ia berimprovisasi dengan sangat baik bahkan lebih baik daripada Miko. Sejauh ini pun aku juga merasa nyaman karena Nathan di panggung seakan berubah menjadi pangeran yang sesungguhnya dan citra menyebalkannya selama ini seakan lenyap. Di adegan terakhir saat putri tidur tidak sadarkan diri setelah memakan apel dari penyihir, Nathan masuk dengan sangat dramatis. Ia berlutut menampakkan wajah kesedihan dan kehilangan yang mendalam, bahkan aku bisa mendengar ia terisak menangis. Nathan benar - benar totalitas dalam berakting, satu - satunya hal yang baik dari Nathan yang menyebalkan selama ini. Saat tiba adegan ciuman, ia mulai membelai wajahku seakan aku kekasih nya membuat aku sedikit risih, kemudian hal yang paling mengejutkan aku ketika ia benar - benar mencium pipiku membuat aku tersentak kaget membuka mata dan semua orang yang hadir seketika bersorak melihat kejadian itu. Wajahku sudah merah padam setelah nya menahan diri sekuat - kuatnya menyelesaikan pertunjukan. Saat pertunjukan selesai aku langsung berlari ke belakang panggung menangis. Aku sangat syok menerima perlakuan Nathan yang sudah kelewat batas, tidak seharusnya ia melakukan hal yang melecehkan diriku, selama ini aku tidak pernah dicium oleh lelaki manapun dan sekarang Nathan menjadi laki - laki pertama yang menciumku.


 


Teman - temanku satu persatu mendatangi aku menanyakan kenapa aku menangis, tapi tak ada jawaban dariku, seharusnya mereka tahu, tidak perlu bertanya lagi kenapa aku menangis.


Nathan datang menghampiri ku berusaha menjelaskan,


" Udahlah jangan nangis, itu cuma akting supaya keliatan makin bagus, aku gak ada tujuan sama sekali buat kurang ajar, "


Plak


Aku tak mengeluarkan sepatah katapun, justru tanganku lah yang melayang tepat di pipinya membuat ia langsung terdiam. Aku berlari menjauh dari panggung dan Nathan yang masih terdiam. Aku terus berlari menuju kamarku tak memperdulikan sekitar, saat aku memasuki lift baru kusadari Rafael mengikuti sedari tadi di belakangku. Kini ia ikut masuk ke lift bersamaku, saat pintu lift tertutup suara isakan tangisku terdengar memenuhi ruang lift yang sepi karena hanya aku dan Rafael di dalamnya. Rafael menarik tanganku dan langsung memelukku membuatku semakin menangis kencang.