Perfect Love

Perfect Love
Pulang



 


Keesokan harinya, aku berkemas membereskan semua barang - barangku dari kamar hotel karena siang ini aku harus sudah check out. Saat berkemas seperti ini aku baru sadar bahwa barangku sangat banyak. Baju saja ada sekitar dua puluh pasang yang aku bawa, belum lagi peralatan make up, aksesoris mulai ujung kaki hingga kepala, sepatuku sepuluh pasang, dan masih banyak barang lagi. Aku memang tipe orang yang sangat memperhatikan penampilan, aku tidak mau terlihat lusuh dihadapan orang lain, aku harus selalu terlihat segar, bersih, cantik, dan wangi dalam setiap kesempatan. Maka dari itu untuk seragam saja aku hanya menggunakan satu hari dan saat sudah tiga bulan aku akan mengganti semua seragamku dengan yang baru. Tepat pukul sepuluh aku baru selesai berkemas, aku bahkan melewatkan jam sarapan, tidak masalah aku bisa makan diperjalanan pulang nanti. Setelah aku berkemas aku segera mandi dan bersiap untuk pulang. Saat semuanya siap aku keluar kamar hotel ini, salah seorang panitia dari sekolah lain sudah menungguku di depan pintu,


 


" Loh ada Kak Michelle, ada apa kak ?" Tanyaku terlebih dulu, ia kemudian mengeluarkan sebuket bunga dari balik punggungnya,


" Melvin, sejak awal aku melihat kamu aku sudah suka pada kamu, apalagi melihat semua kelebihan mu selama acara membuat aku semakin suka padamu, Melvin apa kamu mau jadi pacarku ?" Lagi - lagi aku harus menghadapi hal seperti ini, jika aku hitung - hitung sejak awal aku berada di acara ini sudah ada dua puluh lima orang yang menyatakan perasaannya baik itu dari panitia ataupun peserta, dan sekarang ditambah Michelle total sudah ada dua puluh enam.


Aku heran kenapa harus mereka yang menyatakan perasaannya, kenapa bukan Rafael saja,


" Em....Kak Michelle sebelumnya aku minta maaf ya kak, aku tidak bisa menerima perasaan kakak, " Jawabku sesopan mungkin mengingat dia adalah senior sekaligus mantan ketua JOS sebelumnya,


" Tapi kenapa Melvin, apa kurangnya aku ?" Tanyanya dengan sangat percaya diri, dalam batin aku berkata jelas kurang banyaknya jika dibandingkan Rafael,


" Tidak, kakak tidak ada kurangnya, memang aku tidak bisa saja menerima kakak, sekali lagi maaf ya kak," Aku merasa mulai sebal dengan orang ini,


" Kalo aku sudah tidak ada kurangnya, lalu kenapa , apa kamu sudah punya pacar ?" Belum sempat aku menjawab, seseorang langsung menyambar pertanyaan nya,


" Iya, Melvin itu pacarku, dan kamu jangan pernah ganggu Melvin lagi, karena Melvin itu milikku !" Ujar Nathan dengan ekspresi dingin dan nada bicara yang mengintimidasi.


Tanpa permisi Nathan merangkul pundakku, membawaku pergi menjauh dari Michael yang masih tertegun seakan tak percaya, ya memang bagaimana mungkin orang akan percaya kalo pacarku si kacamata cupu ini. Tapi tidak masalah lah, dia sudah berjasa menyelamatkan aku dari Michelle.


 


Saat sudah masuk ke dalam lift, ia baru melepaskan rangkulannya,


" Terima kasih ya sudah menolong ku dari Michelle, " Ujarku membuka pembicaraan,


" Tidak usah berterima kasih, aku hanya kebetulan lewat saja, " Ujarnya menatap lurus ke depan tak menoleh ke arahku,


" Lagian aku heran, apa sih yang ada dipikiran mereka hingga bisa suka pada gadis jelek sepertimu ?" Lanjutnya membuatku memukul pundaknya gemas hingga ia mengaduh,


" Enak saja ngomong aku jelek, kamu itu yang gimana isi pikirannya, masak gak bisa bedakan cewek cantik sama jelek? " Aku memanyunkan bibirku dan ia malah tertawa melihatku yang cemberut,


" Itukan bener apa kataku, orang jelek kayak gini apanya yang disukai, apalagi kalo cemberut gini, tambah berlipat jeleknya, " mendengar itu aku kembali memukul - mukulnya lagi hingga ia akhirnya meminta ampun,


" Uh.....sakit tahu, ampun deh ampun, cuma bercanda kok aku, " Ujarnya tertawa cekikikan, dan aku pun menghentikan memukulnya,


" Bentar deh , aku gak yakin kalo kamu cuma sekedar lewat aja, kamarku kan bukan deretan kamar peserta, jujur aja lah sebenarnya kamu emang mau nemuin aku kan?" Godaku padanya,


" Apaan kepedean banget kamu, yang ada kamu ya yang berharap aku mau nemuin kamu, " Sahutnya melihatku dengan menaikkan salah satu alisnya,


" Ya ampun, gak ada ceritanya seorang princess Melvin yang cantik jelita berharap ditemui upik abu, " Ujarku membalasnya, tapi kali ini ia tidak marah yang ada dia malah tertawa lepas membuatku juga ikut tertawa,


" Iya deh aku ngaku, emang sebenarnya aku mau nemuin kamu, soalnya aku mau ngasih kamu ini, " Nathan mengeluarkan sebuah gelang dari emas putih yang sangat indah berbentuk seperti akar - akar tanaman dengan daun di tengah nya,


" Ini untuk aku, kamu serius, tapi kenapa kamu kasih ke aku gelang secantik ini ?" Tanyaku memastikan bahwa Nathan tidak sedang membual,


" Tentu saja ini untuk kamu, kamu kan sudah memberi aku hadiah kemarin sebagai tanda persahabatan kita , sekarang giliran aku yang harus kasih kamu hadiah, " Nathan memasangkan gelang itu di pergelangan kiri tanganku, gelang itu terlihat sangat indah dan cocok melekat di tangan putihku yang mulus.


Aku terus memperhatikan gelang itu, mengagumi keindahan nya meskipun harganya tidak seberapa, tetapi aku bisa merasakan gelang ini memiliki makna tersendiri. Aku baru tersadar dari kekaguman ku saat mendengar pintu lift terbuka. Tepat pintu lift terbuka Rafael sudah berdiri di depan pintu,


" Syukurlah ternyata kamu sudah ada disini, sebenarnya aku hendak menjemput kamu tapi sudahlah aku akan bantu membawa koper ini, " Rafael langsung menyeret koperku begitu saja yang aku ikuti dibelakangnya,


" Tunggu, kamu mau bawa koper ini kemana ?" Tanyaku saat kami tiba di parkiran,


" Aku ingin mengantar kamu pulang, " Jawabnya sudah membuka bagasi sebuah mobil keluaran terbaru dari merek ternama berwarna putih,


" Tapi aku akan dijemput sopirku Rafael, " Meski mendengar itu ia tetap memasukkan koperku ke dalam bagasi mobilnya,


" Ayolah kumohon, aku ingin sekali mengantar kamu pulang lagipula rumah kita di kawasan yang sama, kamu telfon saja sopir kamu supaya tidak jadi menjemput, " Ia memohon dengan pandangan yang berbinar - binar memelas, membuatku tak bisa menolak permintaan nya.


 


Selama diperjalanan Rafael tak henti - hentinya berbicara, ia menceritakan segala hal mulai dari sekolah nya, OSIS nya, peliharaan nya, kesukaannya dan Nathan wakilnya. Saat ia menceritakan Nathan, ada hal yang menarik untukku. Rafael bilang Nathan adalah temannya yang jarang tertawa ataupun tersenyum, bahkan saat semua orang tertawa melihat komedi Nathan hanya akan menarik sedikit ujung bibirnya hingga senyuman itu benar - benar tidak terlihat. Namun dibalik sikap dingin dan ketusnya itu Nathan adalah teman yang sangat baik. Sepanjang perjalanan aku hanya menjadi pendengar yang baik dan semaksimal mungkin menikmati setiap detik yang hanya tersisa sedikit lagi bersamanya. Rafael terus berkicau segala hal yang terkandang membuat kami tertawa. Pembicaraan terus berlanjut hingga pada sesuatu yang membuatku bahagia untuk bisa memiliki kesempatan bertemu dia lagi,


 


" Vin, OSIS sekolah kita kan dari dulu sudah bersahabat, selama periode ini kan kita belum mengadakan acara bersama, gimana kalau minggu depan kita adakan acara Futsal OSIS kamu dan OSIS ku ?" Ujarnya, membuatku merasa senang karena itu artinya aku akan memiliki kesempatan bertemu dengannya,


" Wah.....ide bagus itu, yaudah nanti aku rundingkan dulu ya sama teman - teman yang lain, " Ujarku bersemangat,


" Oke, nanti kalo teman - teman kamu setuju, kamu bilang aja dimana tempatnya ya, " Tambahnya. Pembicaraan kami terhenti ketika Rafael berhenti di sebuah rumah makan untuk makan siang.


 


Kami memasuki rumah makan dengan bunga - bunga seruni putih menghiasi bagian depan jendela nya. Dari bentuknya rumah makan ini berarsitektur khas ala Eropa timur Dan benar saja, di dalamnya rumah makan ini memiliki desain interior Skandinavia dengan barang - barang yang tampak minimalis tapi tetap elegan dengan didominasi warna coklat muda dan putih. Aku cukup menikmati suasananya sekaligus makanan nya, kurasa rumah makan ini akan menjadi favoritku. Saat semua makanan tandas Rafael tiba - tiba memegang tangan kiriku,


 


" Dimana kamu membeli ini Melvin?" Lanjutnya,


" Aku tidak tahu dimana tempatnya dibeli, karena ini hadiah, " Jawabku sedikit gugup,


" Oh ya, siapa yang memberi kamu hadiah sebagus ini, pasti orang itu memiliki selera yang sangat baik, " Ujarnya yang hanya kutanggapi senyuman dan anggukan,


" Tapi kalau dilihat - lihat lagi sepertinya aku pernah tahu gelang ini, " Refleks aku langsung menarik tanganku,


" Ya mungkin saja, gelang ini kan tidak limited edition, lagipula ini hanya gelang biasa yang harganya juga tidak seberapa, pasti banyak dijual di tempat lain, " Jawabku mengada - ada, jantungku langsung berdetak tak tenang, jelas mungkin ia pernah melihatnya karena memang gelang ini dari Nathan, dan Nathan itu adalah temannya yang juga sekamar selama pelatihan,


" Iya benar juga sih, tapi seriusan aku pernah lihat gelang ini beberapa kali, oh ya aku ingat ini mirip gelang punyanya Nathan, aku sering lihat dia memandangi gelang seperti ini, " Seketika aku mati kutu, sekuat tenaga berusaha menenangkan diri dan berpikir cepat apa yang harus dikatakan pada Rafael,


" Hahahaha.....kan benar, gelang ini tidak limited edition, buktinya mirip sama punya Nathan kayak kata kamu, aku dapat gelang ini dari temanku saat aku ulang tahun, " Aku berusaha mengelak sebaik mungkin hingga Rafael percaya dan tidak membahas gelang ini lagi.


 


Rafael mengantarku hingga memasuki halaman rumahku, kemudian ia membantu membawakan koperku hingga ruang tamu,


 " Udah, kamu taruh disini aja, nanti biar pembantuku yang akan membereskan, " Ujarku membuatnya meletakkan koperku,


" Yasudah aku pamit pulang dulu ya, "


" Loh kamu gak duduk dulu gitu sebentar ?" Sahutku melihat ia hendak meninggalkan rumahku,


" Lain kali aja ya, soalnya aku sudah ditunggu mamaku, " Jawabnya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang kuyakini tidak gatal,


" Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak ya sudah mengantar aku pulang sampai sini dan mengajak aku makan di tempat yang mengesankan, sepertinya rumah makan itu akan menjadi favoritku setelah ini, lain kali aku pasti akan kembali kesana, " Ucapku membayangkan lagi rumah makan yang berkesan itu,


" Syukurlah kalau kamu suka, jika ada kesempatan aku akan ajak kamu kesana lagi, ya sudah aku pulang dulu, titip salam buat orang tua kamu, " Kuantar Rafael hingga teras rumah, saat mobilnya mulai melaju ia turunkan kaca jendela mobilnya dan melambaikan tangan padaku.


 


Saat aku kembali masuk ke rumah, terlihat papaku sedang menuruni anak tangga menyambut kepulanganku. Aku langsung menghambur ke pelukan papaku begitu melihat beliau yang jarang berada di rumah saat ini menyempatkan untuk menyambut kedatanganku. Ia tertawa melihat aku yang masih tetap manja dan balik memelukku,


 " Bagaimana acaranya seru ?" Tanyanya seraya menggiring aku ke ruang tengah,


" Tentu saja seru, disana Melvin ketemu banyak teman baru, terus dapat banyak pengalaman juga, " Jawabku bersemangat menjelaskan,


" Tumben papa di rumah?" Tanyaku balik,


" Ya untuk apa lagi kalo bukan untuk menyambut kedatangan tuan putri cantik ini, " Papa memencet hidungku membuatku mengaduh,


" Ah....papa sakit tahu, selalu saja memencet hidung, nanti kalo hidung mancung Melvin jadi jelek gimana ?" Papa terkekeh mendengar protes ku,


" Ya sudah kamu istirahat sana, kamu pasti capek kan, papa juga mau siap - siap, nanti malam papa akan berangkat ke New York, papa kesana selama seminggu, " mendengar itu aku merasa kurang suka, meski sudah terbiasa ditinggal tapi tetap saja aku tidak suka itu,


" Kok lama sekali, Melvin kan jadi sendiri di rumah, " Aku memanyunkan bibirku,


" Sebagai gantinya Melvin mau apa deh, nanti papa belikan, " Bujuknya membuat aku tersenyum hambar, karena memang aku tidak ingin apa - apa, yang kuinginkan hanya kehadiran papa di rumah ini,


" Udah ya jangan ngambek lagi, barusan siapa yang ngantar kamu pulang sampai kamu gak mau dijemput sopir, jangan - jangan pacar kamu ya ?" Papa mengalihkan pembicaraan sambil menggodaku,


" Bukan pa, itu tadi namanya Rafael, cuma teman kok pa, kebetulan rumahnya satu kompleks sama kita, jadi ya sekalian aja bareng, dia tadi juga titip salam ke papa, " Ujarku yang hanya diangguki oleh papa. Setelah pembicaraan itu aku menuju kamarku untuk beristirahat.


 


Malam harinya, aku termenung di balkon kamarku memandangi bintang yang bertaburan di langit malam yang cerah. Pikiranku melayang mengingat semua peristiwa di pelatihan, dari serangkaian kejadian mengesankan, hal yang terus - menerus terbayang olehku adalah saat Rafael memelukku, menemaniku di kolam ikan malam itu, menguncir rambut ku, dan Nathan yang memberikan gelang indah itu. Lucu memang, aku juga tidak menyangka sepotong kenangan dari Nathan juga membayangi ingatanku mengingat di awal pertemuan dengannya aku sempat memiliki dendam. Peristiwa menyedihkan itu yang membuat hubunganku dan Nathan menjadi lebih baik, itupun tak lepas dari peran Rafael yang memintaku memaafkannya. Jika bukan karena Rafael aku tidak yakin apakah akan memaafkannya atau tidak, selain itu juga aku tidak akan pernah tahu kalau Nathan suka menyakiti diri sendiri saat merasa bersalah, sesuatu yang membuatku miris serta bersimpati pada Nathan. Kini aku semakin yakin bahwa Rafael memang lah yang terbaik untukku, aku tidak akan melepaskan dia begitu saja karena benih cinta ini sudah tumbuh subur di hatiku. Hanya Rafael seorang yang saat ini berada di dalam hati dan pikiranku. Dialah orang pertama yang membuat ku merasakan namanya cinta. Memang benar apa yang dikatakan di novel cinta yang sering aku baca, cinta rasanya memang sangat indah hingga terkadang pikiran logisku kalah dengan perasaan. Tak terasa senyumanku mengembang begitu saja mengenang setiap inci wajah Rafael yang sempurna, tapi bayangan itu seketika buyar saat aku melihat di pintu gerbang seorang driver pengantar makanan online berusaha memanggil satpamku yang mungkin tertidur lelap. Melihat tak ada respon dari satpamku, aku berinisiatif akan membukakan pintu gerbang itu, aku kasihan melihat pengemudi malang yang sudah terlihat mulai putus asa. Saat aku membuka pintu rumah hendak menuju halaman, pembantuku, Mbak Ina menghentikan aku,


 " Mau kemana non ?" Tanyanya membuat aku menghentikan langkah,


" Itu mbk mau buka gerbang, ada driver online yang kayaknya mau nganter makanan tapi Pak Yono kayaknya ketiduran, " Jawabku membuat Mbak Ina segera menuju ke arahku,


" Eh.....itu saya non yang pesen makanan, udah biar saya saja yang ambil !" Aku mengangguk dan membiarkan Mbak


Ina mengambil pesanannya.


Saat gerbang dibuka samar - samar aku dapat melihat wajah driver online itu mirip dengan Nathan. Kuputuskan untuk mendekat memastikan apakah benar itu Nathan atau bukan. Masih selangkah aku berjalan tak disangka telfonku berbunyi, pada layarnya menampilkan nama Rafael sehingga aku berhenti dan memilih menjawab telfon itu,


" Hallo Rafael, iya malam, ada apa kok telfon larut malam begini ?" Tanyaku,


" Gini Vin, besok kan hari minggu, kalo kamu gak ada acara aku mau ajak kamu jalan besok, kamu bisa gak?" Ujarnya diseberang sana membuatku menahan diri untuk tidak berteriak,


" Bisa kok, besok jam berapa ?" Tanpa sadar aku menahan nafas,


" Oke, besok aku jemput kamu jam sembilan pagi, sampai ketemu besok, selamat malam Melvin, have a nice dream, " Aku merasa akan meledak mendengar Rafael mengucapkan kata - kata itu,


" Selamat malam juga Rafael, " Kata pendek itu yang hanya mampu terucap dari bibirku karena setelahnya aku langsung memutus sambungan telefon Rafael dan berteriak histeris kegirangan memasuki rumah, melupakan rasa penasaranku pada driver online itu.