
"Brian.." lirih Alana pelan.
Pelukannya pada Devan kian melemah hingga membuat devan bingung. Pria itu melepaskan pelukannya lalu berbalik pun dia sama terkejutnya dengan Alana. Kala Brian berdiri tegak terdiam disana.
Alana maju perlahan. Lalu menghampiri Brian yang mungkin telah melihat semuanya.
"Brian". Panggil Alana.
Brian, pria itu tersenyum yang sangat sulit untuk Alana artikan. Mata mereka semua memandang keduanya dengan terkejut.
" Aku tidak papa". Ucap Brian tersenyum paksa.
" Brian". Alana lirih.
Sungguh dia kehabisan kata kata. Melihat wajah serta senyum paksa Brian rasanya kata kata yang sudah dia rangkai musnah. Dia bingung dan tak tahu harus menjelaskan semuanya dari mana.
" Hahaha... Huh! Berarti aku kalah". Lirih pria itu pelan. Menunduk dia pejamkan matanya erat. Merasakan sesak pun dadanya yang bak tertusuk benda tajam. Meresapi sakitnya cinta tulus yang di tolak secara halus. Ia terkekeh pelan meratapi nasibnya.
" Brian..." Kembali Alana panggil pria itu. Dapat dia lihat raut wajah kecewa serta kesedihan tergurat disana. Meski bibirnya tersenyum namun dia tahu luka Brian menoreh. Dan itu di sebabkan oleh dirinya.
" Aku tidak papa al sungguh. Aku tidak papa". Dia tersenyum namun di hatinya retakan itu terasa. Amat dalam nyata dan menyayat. Sungguh seperti ini rasanya di tolak sebelum melamar. Kenapa rasanya semenyakitkan ini.
Dia Raup mukanya dengan satu tangan. Menarik napas panjang lantas dia hembuskan dengan kasar. Kembali dia tarik netranya pada Alana.
" Alana. Aku hanya ingin menyampaikan ini padamu". Brian berdiri. Tegak lantas dia tatap dengan intens.
" Aku mencintaimu. Sungguh sangat tulus. Kau perempuan yang mampu menyembuhkan luka ku yang sangat tergores. Aku berusaha memperjuangkanmu dan mendapatkan mu. Selalu berdoa untuk memintamu pada Tuhan. Nyatanya kau tetap bukan untukku. Tuhan menakdirkan kita tak berjodoh. Aku mencintaimu tapi kau tidak begitu" Imbuh nya.
" Kembalilah pada Devan. Pria yang kau cintai dan mencintaimu. Cinta kami mungkin sama besarnya padamu. Tapi cinta serta pengorbanan Devan telah lama hinggap di hidupmu. Aku sadar jika aku hanya pendatang baru di kehidupan kalian."
Memejamkan matanya erat lantas mendongak. Menarik napas panjang pun berat lalu dia hembuskan pelan. Kembali netranya dia tarik dan menatap Alana.
" Alana. Demi tuhan aku ikhlas. Dan demi Tuhan dengan ikhlas aku melepaskanmu bersama pria pilihanmu. Pergi dan berbahagialah. Aku mencintaimu".
Dia tersenyum. Manis namun menyiksa. Menatap setiap inci wajah Alana. Dia pamit. Lantas berbalik dan mulai melangkah jauh bersamaan dengan air mata pria itu yang jatuh.
Sungguh. Dia tak sekuat itu sebagai pria. Dia rapuh. Dia gagal. Dulu atau pun sekarang. Luka yang baru saja di sembuhkan kini kembali menyayat. Lebih besar dan lebih lebar. Dia tak tahu lagi caranya menyembuhkan luka itu. Sungguh dia putus asa.
Langkah nya gontai memasuki mobil. Melajukan mobilnya dengan hati hati. Pusing pening sesak sakit semuanya dia rasakan. Ingin rasanya mencekik dirinya supaya tak merasakan rasa sakit luar biasa ini.
" Aku gagal. Yah, aku memang pria yang gagal. Kembali gagal. Dulu maupun sekarang." Monolog lirih berat serak. Menahan air mata dari matanya yang memanas merah.
I
" Takdirku. Hidupku. Kenapa semenyedihkan ini".
...****************...
jujur di part ini author bingung. awalnya author mau bikin Brian kecelakaan di part ini. tapi rasanya kayak gak adil gitu buat Brian. dan author gak mau ada yang hilang. jadi author bikin kayak gini. maaf kalau feel nya kurang. tapi jujur aku bener bener gak mau Brian ngalami hal itu.
thanks for vote like coment♥️♥️
jangan lupa follow akun nv dan Ig ku @notyouyoi. spoiler author bikin di story' Ig.
see you next part 🌹🌹🌹🥂