Perfect Love

Perfect Love
Sean di culik



Tubuh alana lemas. Bahkan ponselnya pun nyaris jatuh jika saja dia tidak mengeratkan genggamannya.


Tidak ini pasti mimpi kan' pikirnya. Ingin tertawa namun deretan kata dalam pesan itu tak berubah sedikitpun.


Buru buru Alana berdiri. Dia bahkan mengabaikan pekerjaan nya yang masih menumpuk. Membuat karyawan yang melihatnya menatap heran pada Alana.


" Saya pergi. Tolong bilang jika saya ada urusan darurat". Pesan Alana pada ketua HDR disana.


Dia berlari. Kakinya bahkan terasa seakan lepas saking syoknya. Alana memberhentikan satu taksi yang untungnya melewat di depannya.


Disisi lain Devan dan Sean tengah berada di rumah sakit tempat Mira di rawat. Sean bahkan tak berhenti menangis di pelukan Devan.


Devan benar benar tak menyangka. Tadi selepas mengantar Alana Devan dan Sean mampir ke salah satu toko kue untuk memberikan hadiah pada Mira. Sebagai tanda terima kasih darinya dan Sean.


Namun saat baru saja memasuki halaman dia melihat rumahnya dikerumuni banyak orang. Hal itu membuat devan serta Sean penasaran ada apa.


Mereka menerobos masuk dan tepat saat tiba di ambang pintu Devan dibuat lemas dengan kondisi Mira kala itu.


Darah berceceran dimana mana dengan Mira yang tergeletak di Depan tangga. Dengan cepat devan melepas Sean lalu meraih tubuh Mira.


Dia meminta pertolongan orang lain untuk membantu mengangkat Mira dan membawanya ke dalam mobil untuk di bawa ke UGD. Devan menyuruh salah satu warga untuk menghubungi polisi.


" Dengan keluarga pasien?" Tanya dokter yang baru saja menangani Mira.


Buru buru devan berdiri. Dia menghampiri dokter itu.


" iya saya cucunya". Jawab devan asal.


Dokter itu menarik napas panjang sebelun dia memberitahukan kabar tak mengenakan ini.


"Sebelumnya kami meminta maaf. Tapi pasien sudah meninggal beberapa menit sebelum di bawa kesini". Beritahu dokter itu.


Duk


Devan terjatuh. Kakinya tak dapat menopang tubuhnya akibat berita yang dia dengar. Bahkan tubuhnya pun tak dapat bergerak sedikitpun akibat syok.


" Anda Baik baik saja tuan?" Tanya dokter itu khawatir.


Melihat reaksi sang pasien tentu dokter itu sangat tahu kondisinya sekarang.


Devan mengangguk. " Saya baik baik saja". Lirihnya.


Dokter itu mengangguk ragu lalu berpamitan." Jika seperti itu saya permisi".


Devan hanya mengangguk. Tubuhnya terasa kaku. Semua ini terasa mimpi baginya.


" Daddy!" Panggil Sean.


Membuat devan sadar dan menoleh pada putranya itu. Dia mencoba bangkit meski terasa sulit.


" Daddy apa nenek sudah sembuh?" Tanya Sean. Mata anak itu masih berembun.


Devan menggeleng pelan. " Nenek sudah tidak ada Sean. Nenek sudah meninggalkan kita".


Sean yang memang mengerti pun bersedih. Dia kembali menangis di pelukan sang ayah.


Devan masuk ke dalam ruangan rawat Mira. Dia menatap nanar pada tubuh pucat perempuan itu yang kini sudah meninggalkan nya beberapa waktu lalu.


Mendekat lalu meraih tangannya. Dingin, itu yang dia rasakan saat menyentuh tangan itu. Tanpa sadar air matanya menetes. Diikuti suara Sean yang mengalun di telinganya.


" Nenek kenapa pergi ninggalin Sean. Tadi Sean sudah membeli hadiah untuk nenek. Kenapa nenek tidak bangun".lirih Sean.


Anak berusia hampir enam tahun itu menangis di atas pangkuan daddynya. Mengusap tangan Mira dengan pelan.


Tak lama terdengar suara pintu di buka. Atensi Devan teralih menatapnya.


Alana yang baru masuk di buat mematung. Dia menatap kosong pada tubuh pucat Mira yang terbaring itu.


Ingin bergerak namun tak mampu. Tubuhnya lemas namun kakinya masih bisa menopang tubuhnya.


Mencoba meraih tubuh Mira namun tiba tiba kepalanya pusing hingga akhirnya dia tak sadarkan diri dalam pelukan Devan yang menangkapnya.


Tidak. Ini pasti mimpi. Ya hanya mimpi


....


Tangis duka masih menyelimuti keluarga besar Mira. Bahkan mily sang ibu pun sampai di rawat di rumah sakit akibat mendengar kabar kematian Mira yang tragis.


Pemakaman di lakukan kemarin setelah Alana sadar dari pingsannya. Mily serta Edgar datang tadi sebab mily yang sempat harus di rawat.


Devan sudah menghubungi polisi yang mengurus kejadian tadi.


Dari keterangan polisi kematian Mira sangat janggal. Sebab mira terjatuh dari tangga dengan luka yang sudah ada di tubuhnya.


Dari salah satu saksi yaitu orang yang pertama menemukan Mira bilang jika dia menemukan Mira sudah tergeletak di lantai. Tidak tahu pasti apa penyebab kematiannya. Polisi masih menyelidiki sampai sekarang.


" Yang tenang ma. Mama ninggalin aku terlalu cepat". Ujar Mily.


Mereka sedang ada di pemakaman Mira untuk mendoakan nya.


" Mama pasti bahagia sekarang. Yang sabar ma". Ujar edgar.


Dia berusaha menenangkan istrinya yang terus menangis itu.


Sean tak ikut karena tertidur di dalam mobil. Devan menyuruh Ronnie untuk menjaganya. Untuk di perusahaan devan memutuskan menyuruh papanya untuk ambil alih sebentar.


Di saat mereka sedang mencurahkan isi hati. Ronnie datang dengan terburu buru. Napasnya masih tersengal dengan beberapa luka di wajah serta tubuhnya. Membuat devan mengernyit bingung dengan keadaan sang asisten.


" Tuan. Gawat tuan". Ronnie berbicara.


Devan semakin khawatir. Perasaannya benar benar tak enak tentang hal ini.


" Kenapa?" Tanya devan berusaha tenang. Dia tak mau membuat semua orang panik.


" Tuan muda dia...dia di culik".


Deg


....


Di sisi lain seorang wanita menyeringai melihat tawananya. Ini kedua kalinya bagi Karina menculik Sean.


Tapi kali ini dia akan membuat berbeda dari yang pertama. Sedikit menambah bumbu merah pada tawanannya.


" Ck. Kalau saja mommy mu itu tak berulah. Mungkin aku tak akan menculikmu". Monolog Karina.


" Aku sudah memperingatkannya. Tapi dia tetap saja tak mendengarkan ku bahkan lebih parahnya dia membuatku berpisah dari daddymu." Lanjutnya.


Satu tangannya memegang teko kecil untuk menyirami tangan lainnya yang penuh darah.


" Andai saja dia mendengarkanku. Mungkin aku tidak akan menculikmu dan-'' Karina menjeda ucapannya.


Dia menyimpan teko itu lalu matanya beralih menatap sean.


" Aku tidak akan membunuh nenekmu". Lanjutnya diiringi kekehan kecil.


Andai saja Alana mendengarkan ucapannya waktu itu mungkin semua ini tak akan terjadi. Namun Alana malah mengingkarinya membuat Karina terpaksa melakukan hal ini.


Namun dalam hatinya dia puas sekali.


" Ck dasar psikopat". Celetuk Sean.


Sebenarnya dia sudah bangun sejak Karina mengoceh tidak jelas. Namun dia berpura pura tidur menunggu wanita jelek di depannya ini selesai berbicara.


Karina terkejut dengan celetukan Sean. Dia menatap putra rivalnya itu dengan sinis.


" Kau anak kecil. Mana tahu yang begitu". Cibirnya sinis.


" Aku memang anak kecil. Tapi aku pintar. Tak seperti dirimu yang bodoh karena cinta hingga membuat mu menjadi gila". Cibir balik Sean.


Tubuh Sean terikat di kursi kecil. Tangan serta kakinya pun ada sedikit bekas luka gores yang masih basah. Mungkin perbuatan wanita gila di depannya ini. Pikirnya.


Tapi Sean tak meringis sakit. Walau sebenarnya lumayan perih karena luka goresnya banyak dan tubuhnya yang kecil.


" Berani sekali kau mengataiku gila. Aku gila karena perbuatan ibu sialan mu itu". Umpat Karina. Dia menyorot tajam mata Sean yang menatapnya dengan datar.


" Ibuku bukan wanita sialan. Justru dirimu yang sialan. Sudah jelek sok cantik bodoh lagi." Ucap Sean pedas.


"Tutup mulutmu! Bukan aku yang sialan tapi ibumu. Wanita licik rubah yang merebut suamiku hingga lahir anak haram sepertimu. Seharusnya kau malu menjadi anak haram dari wanita ****** sepertinya." Umpat karina.


Karina mengepalkan tangannya. Anak kecil di depannya ini bukan anak kecil biasanya. Dia berani sekali mengatainya hingga membuatnya emosi.


Ia harus memberikan pelajaran pada putra kecil Alana ini.


Sean mengepalkan tangannya saat mendengar ibunya di hina. Tentu saja dia tak terima. Meski dirinya masih berusia lima tahun tapi dia mengerti apa yang di ucapkan nenek sihir di depannya.


" Aku tidak peduli. Justru aku akan terkutuk jika lahir dari wanita sepertimu". Balas Sean santai namun mampu membuat emosi Karina meladak.


Dia maju dengan satu tangannya merogoh saku. Mengeluarkan pisau bedah yang dia bawa setelah membunuh Mira dan menggores luka pada sean.


" Kau memang anak haram tidak berguna". Desisnya. Dia meraih tangan Sean lalu mulai menggoresnya.


Sean mencoba menahan tangisnya saat merasakan sakit dan perih saat tangannya di sayat oleh Karina.


Setelah puas menyayat tangan mungil itu Karina mengambil sebuah suntikan dari laci yang ada disana dan menyuntikkannya pada Sean. Membuat Sean kembali tak sadarkan diri.


" Ck. Kau memang merepotkan". Ujarnya setelah selesai.


Dia mundur sambil kembali memasukan pisau itu ke dalam saku bajunya.


Sebuah ide muncul. Karina meraih ponselnya lalu memotret Sean yang tak sadarkan diri itu dengan luka di mana.


Lalu mengirimkan nya pada Alana dengan sedikit ancaman.


" Lihat putramu. Bagaimana nasibnya jika kau tak segera datang kesini."


" Aku tunggu dirimu dan suamiku. Jangan membawa orang lain jika tidak nyawa anakmu terancam".


Karina menyeringai. Dia kembali meletakan ponselnya lalu membuka gorden gudang rumah kosong disana. Membuat sedikit cahaya masuk ke dalam ruangan gelap itu. Hingga memperjelas seringaian tajam di bibir Karina.


......


1400 kata untuk para pembaca setia! jangan lupa like dan VOTENYA bye love😘