
Karena permintaan Sean yang tidak masuk akal dan terus merengek akhirnya acara pernikahan di majukan menjadi satu Minggu lagi. Semua persiapan dadakan di lakukan dengan cepat atas suruhan Jerry serta Devan tentunya.
Setelah menidurkan Sean kemarin Alana pikir Sean akan melupakan permintaannya pada Alana tentang adik itu. Namun ia salah, nyatanya Sean malah semakin menjadi dan terus merengek meminta adik.
Hari ini adalah jadwal fitting baju pengantin. Alana sudah bersiap dengan Sean yang terus nemplok di kakinya. Bahkan saat ia akan mandi pun Sean tak melepaskan pelukannya dari kaki Alana.
" Mommy mau ikut". Ujar pria kecil itu.
Alana langsung memandikan Sean dan mendandaninya dengan tampan dan rapi.
Kala devan datang untuk menjemput mereka keduanya turun dengan Sean yang terus menggandeng lengan mommynya. Tak melepaskannya sama sekali.
Tak lupa keduanya pamit pada Edgar serta mily yang sedang ngopi berdua sambil menonton tv.
" Devan sudah menjemput?" Tanya Edgar.
" Iya. Katanya dia menunggu di luar". Jawab bintang.
" Sean akan ikut?". Kini giliran mily yang bertanya.
Bintang mengangguk sembari melirik Sean yang terus memeluk kakinya.
" Kami permisi dulu yah Bu".
" Iya. Hati hati di jalan!". Kompak kedua orang yang sedang bersantai itu.
Alana serta Sean menghampiri Devan yang sudah standby di mobilnya. Melihat kedatangan Alana serta putranya Devan keluar dari mobil lalu membukakan pintu sebelah pengemudi dan membiarkan Alana serta sean yang terus nemplok masuk. Kemudian ia putari lagi mobil dan kembali masuk. Langsung dia tanjap gas.
Devan mengambil alih tubuh Sean hingga duduk di pangkuannya. Nemplok di sana dengan memeluk tubuhnya erat.
" Daddy mau adik". Pinta Sean lirih. Sesekali menatap Alana dan devan secara bergantian.
Alana hanya menghela napas kasar frustasi dengan keinginan Sean. Berbeda dengan devan yang terkekeh tertawa serta mengulum senyumnya.
" Nanti Daddy berikan". Jawab devan.
" Dua Daddy". Kata Sean meminta.
" Iya. Sepuluh pun Daddy sanggup". Celetuk Sean di akhiri ukiran senyum di bibirnya.
Sesampainya di lokasi fitting keduanya langsung masuk dan mulai memilih milih serta mengukur. Alana yang tak suka ribet memilih gaun yang simple tidak terlalu mewah tapi terlihat cantik dan elegan.
Begitupun dengan devan yang memilih tuxedo berwarna putih selaras dengan warna gaun yang Alana pilih. Tak lupa si kecil Sean yang juga memakai tuxedo mini berwarna putih mirip dengan milik Alvaro. Sama sama tampan dan keduanya milik Alana.
Selesai pengukuran Devan melakukan transaksi membayar. Gaun serta pakaian mereka akan dikirim satu hari menjelang hari pernikahan.
" Kita pulang atau mau makan siang lebih dahulu?" Tawar Devan.
Alana menimbang. Lalu beralih matanya menatap Sean yang setia memeluk kakinya.
" Makan siang saja. Sepertinya Sean lapar". Jawab alana.
Devan mengangguk. Dia berjongkok lalu menggendong tubuh mungil Sean di tangannya.
" Sebentar. Ayah telpon". Ujar Alana tiba tiba. Saat ponselnya berdering dan menampilkan nama papanya di sana.
Buru buru Alana angkat telepon itu dan menerimanya. Dia berbicara sebentar dengan ayahnya.
" Ada apa Al?" Tanya devan.
Alana kembali menyimpan ponselnya. " Ayah bilang kita langsung pulang. Ada yang mau bertemu denganmu di rumah ayah. Sembari makan siang bersama". Beritahu alana.
Edgar menelponnya dan meminta untuk segera pulang dan makan bersama di rumah.
Tak membantah Devan pun langsung kembali melajukan mobilnya. Sampai di rumah pria itu masuk bersama alana serta Sean. Matanya membulat kala tahu siapa yang ingin bertemu dengannya
"Arsen?!"
...****************...
siapa yang masih ingat dengan arsen??
maaf author telat update dari jam biasanya. lagi sibuk sibuknya banyak kerjaan. Untung masih bisa nyempetin waktu buat nulis.
thanks for like vote and komenππππΉπ₯