
"good afternoon!"
Ucapan alana terpotong kala Brian masuk. Datang dengan sebuah buket bunga serta kantung keresek di tangan kirinya.
" Hai Al". Sapanya dengan tersenyum.
Tak menyadari muka jutek Devan yang cemberut. Alana hanya melongo. Lalu dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya.
" Um.. hai Brian". Sapa Alana kembali.
Matanya melirik devan sekilas. Menyadari muka jutek serta menekuk pria itu Alana mengerdikan bahunya tak tahu jika Brian akan datang.
" Kau tak apa Alana? Kenapa wajahmu begitu". Tanya Brian.
Dia tahu jadwal Alana menjaga Devan. Karena itu dia kemari untuk menemuinya. Saat perjalanan menuju ke sini tak sengaja dia melihat sebuah toko bunga dan membeli buket untuk Alana. Dia juga mampir membeli makanan ringan untuk sean.
Pria mendekat lalu duduk di samping Alana yang gugup. Sontak Alana mengubah raut wajahnya. Membereskan makannya lalu menyimpannya di nakas yang ada di dekat sofa itu.
Brian menatap Alana sebentar. Lalu menyerahkan buket serta kantung keresek itu. Membuat Alana menatap bingung padanya.
" Ini?" Tanya Alana memandang buket serta keresek itu dengan seksama.
" Untukmu". Singkat Brian.
" Untuk ku? Untuk apa? Maksudku kenapa kau memberikanku ini?". Alana meriah kedua benda tersebut.
Tentu saja Alana bingung. Brian tiba tiba datang dan langsung memberinya buket serta berbagai macam makanan ringan.
Brian menyunggingkan senyum tipisnya. Lalu bersandar pada sandaran sofa dengan kedua tangannya sebagai bantal.
"Hanya ingin. Entahlah mungkin ini sebagai satu bukti perjuanganku buat dapatkan kamu". Ujarnya dengan sengaja. Sembari melirik devan tak lupa menyunggingkan seringaian nya.
Semakin bingung. Alana tak mampu merespon apapun. Terlebih melihat tatapan tajam devan padanya membuatnya meneguk ludah dengan sulit sulit.
" Um yah. Terima kasih". Ucap Alana. Menaruh bunga itu di atas nakas.
" Oh dan makanan ringan itu untuk Sean. Dimana Sean?". Tanya Brian kala menyadari disana tak ada Sean. Hanya ada Alana dan depan.
" Sean sedang tidur. Dia di bawa Tante Diana". Beritahu Alana.
" Mama!" Ralat Devan cepat.
Mendelik tak suka saat Alana mengganti panggilannya pada mama Diana. Devan dengan sengaja memanggil Alana.
" Alana bantu aku makan." Dengan nada datar Devan meminta bantuan.
Sampai sampai alana bengong di buatnya. Alana bangkit lalu mengambil kotak makan lain pemberian mama Diana. Berjalan dan duduk di samping ranjang pasien itu. Dengan sabar Alana menyuapi Devan. Devan sendiri sudah tersenyum penuh kemenangan. Menatap Brian yang juga menatap pada mereka. Lalu menampilkan senyum mengejek.
" Kenapa kau mau disuruh suruh olehnya Al?". Tanya Brian tak suka.
" Kenapa? gak suka lu?". Tanya devan dengan sewot. Sungguh pria itu benar benar menjengkelkan baginya.
" Lebay". Cibir Brian.
Bukannya merasa tersindir Devan justru semakin gencar melakukannya. Pria itu dengan sengaja menatap Alana dengan intens. Sesekali melirik pria yang sedang kepanasan sembari menatapnya dengan tajam.
Tring tring tring
Dering bunyi telpon membuyarkan atensi masing masing. Mereka langsung menatap sumber suara itu berbunyi. Brian meriah saku celananya lantas mengangkat telponnya yang berbunyi.
" Hm baiklah".
Brian kembali memasukan ponselnya kala panggilan berakhir. lalu melangkah mendekati Alana yang masih menyuapi Devan makan.
" Kenapa?" Tanya Alana kala Brian berdiri di belakangnya.
Menghela napas pelan Brian menatap Alana. " Aku harus pulang. Daddy memintaku untuk menemuinya sekarang". Beritahu brian.
" Pergilah". Ujar Alana diiringi senyum. Membuat Brian menyunggingkan bibirnya berbeda dengan devan yang menekuk wajahnya kesal.
" Kita masih bersaing ingat?!" Ujar Brian datar. Menatap devan pun dengan wajahnya yang datar.
" Tentu saja". Sahut devan santai. Tak lupa seringaian tipis terlihat di bibirnya.
" Aku pulang Al. Nanti kita ketemu lagi. Salam untuk Sean. Bye".
Setelahnya Brian pergi dari ruangan itu. Suasana yang awalnya tegang sedikit kendur. Alana membereskan kembali kotak makan. Lalu menyodorkan minum yang langsung di raih pria itu.
Gluk gluk
Terlihat jakun pria itu naik turun. Sangat menonjol dan menggoda iman. Sekejap Alana terhipnotis namun dia segera menyadarinya. Apalagi ketika devan tersenyum misterius padanya.
"Al". Panggil devan menggoda. Menaik turunkan kedua alisnya secara bersamaan.
Sungguh, Alana di buat gugup dengan itu. " A-apa?".
Cup
Alana membulatkan matanya hebat. Tubuhnya menegang dan terdiam. Seperti di sengat listrik nyatanya dia di sengat oleh bibir Devan. Hanya kecupan, tidak lebih. Devan melepaskan tempelan bibir mereka.
" Jangan menemuinya lagi. Aku cemburu". Pinta devan tepat di depan bibir Alana. Lirih berat suaranya serta sedikit serak.
Gugup. Alana memalingkan wajahnya ke samping. Berusaha menetralkan detak jantungnya yang terpompa begitu cepat.
"U-um?". Ucapnya pelan.
Entahlah bagaimana dia bisa jadi wanita bodoh seperti itu. Dan malah memainkan kotak makan yang di pegang nya tanpa melihat pada Devan.
" Berhentilah berhubungan dengannya. Aku mohon. Alana demi apapun aku sangat mencintaimu. Tidak bisakah kau memberiku satu saja kesempatan?". Lirih kini pria itu memohon. Seolah berada di ambang keputusasaan yang sesungguhnya.
" Devan. A-aku.."
"Please?". Potong Devan lagi.
" A-ku ... Tunggu lamaranmu".
Gila. Ini gila. Dia tak pernah terpikir untuk mengucapkan kata kata itu. Sungguh itu keluar dari mulutnya begitu saja. Sangat licin seolah dia keluar tanpa bisa di cegah.
Senyum di bibir Devan merekah pun lebar. Rasa bahagia sekaligus terharu. Menatap Alana dengan senyum yang tak luntur. Sebentar Alana terpaku pada senyuman pria itu. Sangat manis rasanya. Dia tak menyangka devan akan sebahagia itu mendengar ucapannya tadi.
Tanpa sadar devan mendekatkan wajah mereka. Perlahan dengan saling menatap. Kening keduanya bersentuhan. Lalu hidung hingga akhirnya..
Ceklek
" Al ayah punya kabar untukmu".