
"al kami bawakan makanan untuk kalian".
Alana dan devan seketika menoleh pada diana yang datang membawa kotak makan. Diana menghampiri alana dan memberikan kotak itu. Lalu matanya menatap putranya yang sangat manja itu tajam.
" Ingat dev jangan menyusahkan Alana. Kasihan dia juga sudah mengurus sean." Peringat Diana tajam.
" Iya". Devan bergumam pelan. Menjawab perkataan mamanya.
" Sudah mama mending pulang. Biarkan alana dan Sean yang menjaga Devan disini". Usir devan sengaja.
Mata Diana mendeliki sang putra. Jika bukan putra satu satunya sudah di pastikan pria itu tercoret dari kk.
" Dasar anak nakal". Umpat Diana pelan.
Kini matanya beralih menatap Alana yang sedang memangku Sean yang tertidur. Meskipun Sean sudah pulih namun dia masih harus banyak beristirahat.
" Al. Sean Biar mama bawa. Kamu makan dan istirahat lah sebentar". Diana mengambil alih Sean yang tertidur. Lalu membawanya keluar untuk di tidurkan.
Setelah Sean di bawa mama Diana. Alana masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti baju. Lalu keluar dengan wajah serta tubuh yang telah fress. Duduk di sofa lalu meraih tas miliknya. Meraih pencepol lalu mencepol rambutnya.
Kemudian Alana mengambil satu kotak makan pemberian Diana lalu membukanya. Dia mulai makan yang kebetulan perutnya sudah terasa keroncongan.
Hal itu tak luput dari pandangan Devan yang mengikuti setiap gerakan Alana. Ditatapnya intens wajah cantik yang sedang makan itu. Cantik dan sangat dia cintai. Dulu maupun sekarang. Perasaannya pada Alana tetap sama.
Rasanya masih sangat tak percaya jika dia dan Alana telah memiliki Sean. Buah hati mereka. Hatinya sangat beruntung dan sangat berterimakasih pada Tuhan karena mempertemukan kembali dirinya dengan Alana. Tak lupa juga dengan Sean.
Sungguh. Dia tak menyesal dengan malam itu. Malam yang mampu menghasilkan benih keturunannya. Meski harus dengan drama terpisah.
" Alana". Panggil devan.
Sontak Alana menoleh. Dengan mulut yang masih mengunyah. Mengangkat kedua alisnya isyarat dia bertanya.
Terkekeh geli melihat tingkah gemas Alana. " I love you". Ujarnya dengan kekehan.
Alana tersipu. Pipinya memerah. Sontak memalingkan wajah agar tak melihat wajah menyebalkan Devan.
Kembali devan terkekeh. " Aku tidak bercanda Al. Aku memang mencintaimu". Ucapnya meyakinkan.
Alana tak merespon. Tanpa di beritahu dia memang sudah tahu. Melihat dari senua pengorbanan pria itu. "Ya. Aku tahu". Ucapnya pelan kembali mengunyah makanan.
Dalam diamnya Devan terus menatap Alana yang tengah makan. Wanita yang telah melahirkan putranya ke dunia. Yang telah mengurus dan membesarkannya. Entah bagaimana caranya untuk berterima kasih pada Alana. Dengan membahagiakan nya pun rasanya masih sangat kurang.
" Alana". Kini nada berubah serius.
Seketika alana menoleh. Suasana menjadi lebih canggung dan tegang. Menatap devan yang juga menatapnya. Dia merasa aura Devan berubah saat ini.
" Hmm?"
" Ayo menikah". Ajaknya serius.
Alana mematung pun menegang. Ajakan yang Devan lontarkan sangat tiba tiba. Hati pun dadanya berdebar kala itu. Ditatap oleh devan sintens itu membuat jantungnya seakan berhenti bekerja. Dia diam. Bingung harus menjawab apa. Ingin mengiyakan tapi hatinya belum yakin.
" Dev aku.."
" Demi Sean. Beri aku satu kesempatan lagi untuk membuktikan ucapan dan janji aku buat bahagiain kamu dan Sean. Setelah nya jika aku ingkar, kau boleh pergi. Sejauh mungkin agar kau bahagia tanpa kesakitan. Please..."
Devan memohon. Dengan serius bahkan sangat dia meminta Alana untuk menikahinya.
Hening. Alana tak menjawab. Bingung dia rasakan. Kepala nya seakan pecah saat kata ya dan tidak bertengkaran. Rasa traumanya masih ada untuk Devan atau pernikahan.
Namun disisi lain melihat perjuangan dan pengorbanan Devan apalagi setelah kejadian ini hatinya seolah mengatakan jika dia menerimanya. Jujur saja dia masih menyayangi Devan. Nyaman bersama pria itu dan devan adalah ayah Sean.
" A-ku...aku"
Ceklek
"Good afternoon!".