
Aku melangkahkan kakiku lebar - lebar menelusuri lorong rumah sakit yang menampakkan beberapa orang tengah terduduk sedih di bangku depan ruang rawat. Aku terus melangkah melewati kerumunan orang menangis, meratapi sanak saudara yang meninggal dunia malam ini. Di ujung lorong, kudapati Mayra terduduk menggelesot di lantai menunduk dalam. Ku guncang perlahan pundaknya, ia menoleh dengan mata yang sembab berderai air mata. Ia berdiri memelukku erat semakin keras terisak. Kuusap punggung nya menenangkan, sejujurnya aku juga sangat syok mendapatkan kabar Mayra menabrak seseorang. Aku tidak menyangka Mayra akan membawa mobilku entah pergi kemana hingga peristiwa seperti ini terjadi. Kupikir ia akan langsung pulang jadi kubiarkan ia membawa mobilku tadi siang. Bagaimanapun juga kejadian ini tidak semuanya salah Mayra, akupun turut ikut bersalah. Aku tidak berani memberitahu kejadian ini pada papaku, yang beruntungnya beliau sedang ada di Moskow atau pada siapapun di rumahku yang bisa membocorkan pada papa. Aku menyeka air mata Mayra, mengajaknya duduk di kursi depan ruangan sambil memberi sebotol air yang sempat ku beli dalam perjalanan kemari.
" Bagiamana keadaan orang itu Mayra, apa buruk ?" Tanyaku berhati - hati, sebenarnya aku tidak mau bertanya tapi mau tidak mau aku juga harus tahu situasinya,
" Dokter masih memeriksanya Vin, " Jawabnya pelan hampir tidak terdengar.
Setelah perkataan itu, pintu ruangan terbuka. Aku langsung menghampiri dokter dan menanyakan keadaan orang tersebut dengan waswas,
" Dok, bagaimana keadaannya ?" Suaraku sedikit tercekat,
" Pasien dalam kondisi baik, hanya luka - luka biasa, setelah istirahat dan diobati , besok pagi sudah boleh pulang, " Aku menghela nafas lega mendengar penjelasan dokter, beban berat yang barusan kurasakan menguar begitu saja.
Begitu dokter itu pergi, aku menggandeng Mayra masuk ke dalam ruang rawat itu. Awalnya Mayra menolak, tapi aku berusaha menenangkan dan berhasil membujuknya ikut masuk ke dalam. Di ruangan yang tidak terlalu luas itu, seorang lelaki terbaring lemah dengan infus menancap di pergelangan tangannya, perban membalut kepala , lengan dan kakinya. Bau obat seketika menyengak ke hidung saat aku semakin mendekatinya. Mata lelaki itu terpejam dengan rambut yang berantakan dan beberapa sobekan di pakaiannya. Mayra semakin terisak melihat lelaki itu terbaring lemah dihadapan ku yang tak lain adalah Nathan. Aku memandang Mayra prihatin sekaligus bingung, bertanya - tanya bagaimana Mayra dapat menabrak Nathan hingga seperti ini.
Mendengar isakan Mayra yang
memenuhi ruangan membuat Nathan terbangun, mengerjapkan mata perlahan hingga pandangannya fokus melihat aku dan Mayra di sebelah tempat tidurnya.
" Uch.....sakit sekali, bisakah sepupumu itu diam, aku semakin pusing mendengarnya menangis !" Nathan mengeluh sambil mengusap kepalanya,
" Bagaimana keadaan mu Nathan ?" Ujarku mendekati ranjang setelah mendudukkan Mayra di sofa sebelah ranjang,
" Kamu punya mata kan, lihat saja bagaimana kondisi ku setelah sepupu cengengmu itu menabrak motor ku !" Jawabnya sangat ketus membuatku ingin meleparkan tiang infus pada mukanya,
" Aku sebagai sepupu Mayra minta maaf yang sebesar - besarnya Nathan, Mayra mungkin teledor saat itu !" Ujarku mengendalikan diri agar tetap sabar menghadapi mulut cabainya itu,
" Sudah kubilang kan, dengan meminta maaf tidak akan merubah kesalahan yang sudah diperbuat, meski kamu minta maaf seribu kali sampai menyembahku sekali pun tidak akan membuat kondisi ku lebih baik, jadi simpan saja maafmu itu aku tidak perlu, paham ?" Aku tak habis pikir dengan pola pikirnya yang kaku itu, aku memilih diam tak melanjutkan komentar apapun.
Di kondisi seperti ini bukan saatnya aku berdebat dengan si cupu bermulut cabai ini. Aku menghampiri Mayra di sofa, dirinya masih tetap syok dengan kejadian yang menimpanya terlebih lagi ia membuat celaka Nathan, lelaki yang baru ia sukai. Aku berinisiatif menyuruhnya pulang agar ia dapat menenangkan diri di rumah. Mayra yang keras kepala itu tidak mau pulang meski aku sudah membujuknya dengan segala cara. Mengetahui itu, Nathan pun ikut angkat bicara,
" Lebih baik kamu pulang saja sesuai kata Melvin, aku sudah tidak apa - apa, berhentilah menangis dan pulanglah daripada membuatku semakin pusing !" Ujar Nathan dingin seraya memincingkan mata ke arah Mayra membuat Mayra terdiam,
" Kamu dengar kan, lebih baik kamu pulang ya, tenangkan diri biar aku yang menjaga Nathan disini, besok kamu bisa kemari lagi jika sudah tenang !" Akhirnya Mayra mau mendengarkan aku, dengan memesan taksi online dia pulang di tengah malam yang sepi.
Setelah mengantar Mayra hingga naik ke taksi dan memastikan kondisinya baik aku segera masuk kembali ke ruangan Nathan. Aku merasa bertanggung jawab menjaganya malam ini karena ia tidak mau sampai keluarganya tahu, itu akan membuat keluarganya khawatir. Di tengah malam yang sepi seperti saat ini, suasana rumah sakit menjadi cukup mencekam. Hanya suara langkah kakiku yang terdengar di lorong \- lorong yang kulewati. Semua pasien pasti sudah tertidur termasuk keluarga yang menjaga. Di persimpangan lorong tak disangka aku berpapasan dengan perawat yang waktu itu aku temui di taman. Perawat itu tersenyum menyapa yang kubalas dengan senyuman juga, rupanya ia masih ingat padaku. Tiba \- tiba ia menghentikan langkah dan berbalik ke arahku,
" Saya sangat prihatin dengan kondisinya yang semakin memburuk, semoga ada keajaiban untuknya, " Ia berujar membuatku teringat pada Nathan, sepertinya ia tahu aku kesini untuk menjaga Nathan,
" Apa, tapi tadi kata dokter dia tidak apa - apa ?" Aku cemas mendengar itu dari perawat yang kini memandang ku kasihan,
" Tidak, keadaanya sekarang tidak baik, aku tahu ini sulit untukmu tapi yang bisa kita lakukan hanya berdoa, " Mendengar ucapan perawat itu aku langsung berlari menuju ruangan Nathan tanpa pamit pada perawat itu.
Aku tidak mampu membayangkan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Nathan. Jika sampai hal itu terjadi, Mayra juga akan mendapatkan imbasnya. Dengan perasaan tidak karuan aku terus berlari melintasi lorong - lorong tak memperdulikan para pasien yang mungkin akan terganggu mendengar derap langkahku. Saat tiba di depan ruangan, aku langsung menerobos masuk tanpa permisi menghambur ke ranjang Nathan yang kutemui sudah kosong. Aku mencoba memeriksanya di kamar mandi tapi nihil, Nathan menghilang. Aku mencari informasi dimana Nathan dipindahkan tapi para perawat bilang Nathan tidak dipindahkan kemana pun. Ini semakin membuatku gila, lalu jika tidak dipindahkan kemana Nathan pergi ? Gelap semua ini terasa gelap. Langkahku gontai kembali menuju kamar Nathan sebelumnya. Saat hendak membuka pintu ruangan tak jauh dari situ aku mendengar sedikit keributan yang kutahu itu suara Nathan. Aku segera menuju sumber suara, disana kudapati Nathan sedang beradu mulut dengan Rafael hingga mendorong Rafael.
" Nathan, kenapa kamu mendorong Rafael ?, " Aku berlari membantu Rafael berdiri,
" Diamlah, kamu tidak perlu ikut campur urusanku dengan ******** ini !" Nathan meninggikan suara beratnya yang terdengar semakin menggelegar,
" Aku mencarimu dari tadi bodoh, apa kamu tidak tahu bagaimana bingungnya aku saat melihat tempat tidurmu kosong, tapi kamu disini malah bertengkar, otakmu itu ditaruh dimana !" Aku balik mendorong Nathan pelan membuatnya mundur beberapa langkah,
" Baiklah aku akan kembali ke ruangan, kamu hati - hati sama ******** ini !" Nathan berlalu meninggalkan aku dan Rafael.
Aku menatap Rafael meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi tapi Rafael menggeleng,
" Sudahlah itu urusanku dengan dia, aku tidak ingin kamu ikut terlibat, lebih baik kita pulang saja !" Rafael menarik tanganku tapi aku hentakkan hingga genggamannya terlepas,
" Tidak Rafael, aku harus menjaga Nathan, sebaiknya kamu saja yang pulang !" Rafael mengangguk mematuhi ucapan ku tak membantah sepatah katapun, rupanya ia mengerti situasi apa yang tengah aku hadapi,
Ia melangkah pergi menjauh dariku yang masih diam tak bergeming dari tempat ku. Aku semakin bingung dengan semua ini, perawat itu bilang kondisi Nathan memburuk tapi nyatanya Nathan tidak apa - apa bahkan ia masih bisa berjalan dan bertengkar. Sekarang kebingungan itu ditambah lagi dengan kehadiran Rafael yang tak diduga disini, apa Mayra yang memberi tahunya semua ini ? Entahlah, aku akan menanyakan padanya saat kondisi dia sudah lebih baik. Saat ini aku memilih tidak mau berlarut memikirkan hal - hal rumit yang justru akan membuat kepalaku semakin pusing saja.
Aku memasuki ruangan Nathan, ia terbaring dengan kondisi masih terjaga. Melihat aku datang, ia segera duduk memanggilku agar mendekat.
" Vin, kemarilah ada yang ingin aku katakan !" Ia melambaikan tangan memanggilku saat aku baru menutup pintu,
" Ada apa sih, udah ah aku malas ngomong sama kamu, lebih baik kamu istirahat saja biar besok cepat pulang, aku tidak mau berlama-lama menjaga kamu seperti ini, " Ujarku mengacuhkan panggilannya lebih memilih membaringkan tubuhku yang sudah lelah di atas sofa.
" Aku tahu sudah salah membuat kamu khawatir dengan tiba - tiba menghilang begitu saja, aku tidak bermaksud membuat kamu khawatir, haha aku juga tidak menyangka akan membuat kamu sampai bereaksi seperti itu, " Ujarnya terkekeh hampa memandangku yang hanya kubalas meliriknya,
" Aku hanya ingin bilang terima kasih sudah mengkhawatirkan aku dan menemani aku seperti ini, seharusnya kamu tidak perlu menjagaku sampai seperti ini, tidak akan terjadi apapun padaku, " Tambahnya, lalu ia membaringkan diri kembali,
" Aku melakukan semua ini karena aku merasa bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan Mayra, yang kuinginkan saat ini hanya melihat kamu segera sembuh dan memaafkan kesalahan sepupuku itu, " Sahutku kemudian mulai membuka suara,
" Oh....jadi ini semua demi sepupumu itu ya, baiklah jika kamu meminta aku memaafkan dia aku akan memaafkannya, aku berjanji besok diriku akan sudah sembuh, sehingga kamu tidak perlu lagi susah - susah menjagaku seperti ini , " Setelah menyelesaikan perkataannya, Nathan memejamkan mata segera pergi ke alam mimpi.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Aku masih terjaga, bukannya aku tidak mau tidur tetapi mata ini yang enggan untuk dipejamkan. Aku berusaha beberapa kali memejamkan mata alhasil kembali terbuka dan tak ingin menutup lagi. Aku memandang langit ruangan yang berwarna putih ini, tak ada suara apapun, hanya suara tetesan infus Nathan dan jam dinding yang terdengar memenuhi ruangan. Aku memandang gelang pemberian Nathan di tangan kiriku. Sesaat aku teringat kronologi kecelakaan yang menimpa Nathan dari cerita Mayra sebelum ia pulang. Cerita ini dimulai saat Mayra meninggalkan restoran Skandinavia tadi siang dengan mobilku. Mayra merasa tidak nyaman dengan kehadirannya ditengah kencanku dan Rafael. Ia memacu laju mobil dengan kecepatan di atas rata \- rata seperti kesukaannya dulu saat masih di USA. Ketika berhenti di perempatan jalan yang sedang lampu merah, ia melihat Nathan melaju di depannya dengan mengenakan jaket ojol sedang mengantar seorang wanita setengah baya. Mayra yang penasaran memutuskan untuk mengikuti Nathan. Ia berhati \- hati mengikutinya dari belakang sepanjang hari itu, beruntungnya Nathan tidak mengetahui Mayra yang mengikutinya. Mayra terkesan dengan kemandirian Nathan, ia tidak malu menjadi seorang pengemudi ojek online untuk membantu orang tuanya. Dalam bekerja, tak ada ekspresi sedih ataupun menyesal sedikit pun di raut mukanya, ia selalu melayani customer nya dengan sangat baik. Saat melewati rumah sakit ini, Mayra melihat Rafael dengan motor besarnya memasuki halaman rumah sakit, di depan motornya terdapat sebuket bunga berwarna putih yang menyembul dari bungkusnya. Karena terlalu fokus melihat Rafael, tanpa ia sadari Nathan yang berada di depannya berhenti untuk menurunkan penumpang. Disaat itu juga Mayra terkejut melihat Nathan berhenti tiba \- tiba, bukannya menghentikan laju kendaraannya ia malah salah menginjak pedal gas dan seketika menabrak motor Nathan dari belakang. Karena hal itu, Nathan terpental dari motornya jatuh berguling di pinggiran jalan yang berbatu. Seketika mobil Mayra dikepung banyak orang yang mulai mengetuk kaca mobilnya dengan marah untuk meminta pertanggungjawaban. Mayra yang ketakutan tidak berani keluar mobil dan menelfon diriku terlebih dahulu. Lagi \- lagi cerita ini ada hubungannya dengan Rafael. Apa yang sebenarnya Rafael sembunyikan selama ini. Mayra bilang Rafael membawa sebuah bungkusan sebuket bunga putih, aku menduga yang dimaksud Mayra adalah Bunga Lily putih. Rumah sakit, Rafael, sebuket Lily putih, perawat, hal \- hal itu terus berputar di kepalaku, membuat kapalaku terasa pening. Aku tersentak kaget mendengar Nathan berteriak, saat ku dekati ternyata ia sedang mengigau. Ia berteriak \- teriak meminta maaf sambil menangis histeris memanggil \- manggil mamanya. Aku mengguncang tubuhnya keras agar ia segera terbangun.
" Nathan....bangun, Nathan bangun, bangun Nathan !" Aku mengguncang tubuhnya semakin keras saat ia belum juga tersadar,
" Mama....!!!!" Ia bangun terduduk, matanya terbuka lebar dengan air mata yang terus mengalir.
Aku segera mengambil air putih di atas nakas sebelah tempat tidur. Ku bantu meminumkannya perlahan hingga ia mulai tenang. Setelah itu, kuraih tangan Nathan, mengusap punggung tangannya agar semakin tenang,
" Tenanglah Nathan, kamu hanya mimpi buruk, " Ujarku berkata selembut mungkin,
Nathan memandangku dengan tatapan memelas, tanpa diduga ia menarik tanganku dan menjatuhkan diriku dalam pelukannya. Ia menenggelamkan kepalanya ditengkukku dan mulai terisak kembali. Aku sedikit tercengang melihat orang yang sangat dingin dan ketus ini sekarang terlihat begitu rapuh, aku tak pernah menduga ia mungkin menyimpan kesedihan yang mendalam. Mungkin saja benar apa yang dikatakan Rafael tempo hari, penyebab sikapnya sekarang berhubungan dengan masa lalu pahitnya entah itu bagaimana dan se menyedihkan apa. Sejenak aku membiarkan ia memelukku, dengan seperti ini kuharap bisa membuatnya lebih tenang.
" Jangan tinggalkan aku, kumohon !" Gumamnya samar - samar dengan suara yang serak,
" Tidak, aku tidak akan meninggalkan kamu, sekarang tenang ya !" Ujarku melepaskan pelukannya dariku.
Aku tersenyum memandangnya. Saat ini aku benar-benar merasa bersimpati pada si dingin ini. Melihat nya begitu sangat kasihan, kesan menyebalkan dan ketusnya seakan sirna dari dirinya menampakkan image asli dalam diri Nathan yang sedih dan kesepian. Aku tak mau menanyakan apa yang mengganggu tidur nya, rasanya tak etis untukku mengorek terlalu dalam. Biarlah itu menjadi rahasianya,
" Jika kamu perlu mengatakan sesuatu, aku akan selalu siap mendengarkan , " Ujarku kemudian yang dia angguki.
Pagi sekali saat matahari masih malu menampakkan wajahnya, hanya menggurat rona kemerahan di ujung langit timur. Aku mebereskan barang Nathan yang hanya beberapa setelah infusnya dilepaskan. Nathan menolak saat aku mengajaknya masuk ke mobilku. Ia hendak memilih pulang naik motornya yang rusak. Aku memaksa ia naik mobilku dan akan menelfon bengkel untuk mengambil motornya. Setelah beberapa menit, ia baru memutuskan setuju ikut denganku. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam sibuk dengan pikiran masing\-masing. Ia baru membuka mulut untuk mengarahkan jalan ke rumahnya. Mobilku berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas, pohon rambutan besar berdiri gagah di depannya. Selain pohon rambutan, ada beberapa tanaman sayuran dan bunga beraneka warna mengisi pekarangan yang luas membuatnya terlihat asri. Sebelum turun sekali lagi Nathan mengucapkan terima kasih yang kubalas senyuman. Ketika Nathan sudah masuk ke dalam rumahnya, aku menemukan sebuah handphone di kursi yang Nathan duduki barusan. Aku segera turun dari mobilku dan mengetuk pintu rumahnya. Tak lama Seorang wanita setengah baya membukakan pintu,
" Iya, cari siapa mbk pagi - pagi seperti ini ?" Ujarnya ramah,
" Saya mencari Nathan Bu, saya temannya, " Balasku tersenyum ramah.
Wanita itu mempersilahkan aku masuk ke rumah sederhana itu dan segera memanggil Nathan. Nathan dengan wajah bertanya - tanya yang sedikit terkejut menemuiku ,
" Ada apa lagi kamu kesini ?" Ujarnya dingin,
" Ini handphone mu tertinggal di mobilku, lain kali jangan teledor !" Aku menyerahkan handphone dan segera beranjak pergi, tetapi langkahku terhenti oleh wanita setengah baya yang mencegah kepergian ku.
" Tunggu, ada yang mau ibu tanyakan !" Aku urung pergi, duduk kembali di kursi,
" Iya ibu, ibu mau menanyakan apa ?" Sahutku ramah,
" Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Nathan tidak pulang semalam lalu pulang dengan kondisi babak belur seperti ini, dan lagi kemana motornya, kenapa pulang diantar mbaknya?" Cecar ibu Nathan membuatku kebingungan menjawab, sementara Nathan menatapku tajam memperingatkan.