
" Al ayah punya kabar untukmu".
Edgar datang dengan semangat. Ingin memberitahu putrinya tentang kabar yang di dapatnya dari Jerry. Bahkan saking semangatnya Edgar masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Membuat kedua orang yang hampir berciuman itu menjadi salah tingkah.
Terutama Alana. Wanita itu langsung berdiri kaget hingga menjatuhkan kotak makan milik devan. Untung makanan yang di dalamnya sudah habis Devan makan.
Berbeda dengan devan yang langsung memejamkan matanya erat. Menghela nafas dengan kasar. Gagal lagi bukan. Memperbaiki posisinya tapi tidak dengan wajahnya yang menekuk. Jelas sekali keadaan nya begitu menyedihkan.
" Kabar apa yah?" Tanya Alana. Dia mengambil kotak itu lalu menyimpannya di sofa.
" Ayah tak bisa menjelaskan padamu secara rinci. Kita tunggu Jerry sebentar lagi oke?".
Niatnya tadi dia memang ingin memberi tahu Alana soal ini. Namun jika dipikir pikir lebih baik jika nanti saja Jerry yang memberitahu. Agar lebih rinci dan jelas.
" Baiklah". Setuju Alana.
Matanya sesekali melirik devan. Dia terkejut dengan kedatangan Edgar yang sangat tiba tiba. Sangat terkejut bahkan sampai saat ini jantung nya masih memompa begitu cepat.
Tatapan memelas Devan berikan pada calon mertuanya. Jika tahu begini kenapa harus mengganggu waktunya bersama alana? Menyebalkan sekali.
" Dev kau tak apa? Apa kau kembali merasakan sakit? Kenapa wajahmu pucat?". Tanya Edgar. Khawatir melihat kondisi menyedihkan Devan.
Dengan lemah Devan menggeleng. Tanpa menatap edgar melainkan menatap Alana. "Tidak papa. Aku sehat".
Edgar mengerutkan kening. Lalu pandangannya mengikuti arah pandang Devan. Seketika dia mengerti. Apalagi saat Alana memalingkan wajahnya karena malu.
" Ck kau ini. Seperti sedang kasmaran saja. Ingat Dev kau hanya ayah Sean bukan kekasih alana". Ujarnya. Diiringi kekehan kecil melihat tingkah laku Devan yang menurutnya kekanakan.
" Hmm. Aku akan segera melamarnya". Ucapnya asal. Lalu merebahkan tubuh nya di ranjang rawat itu. Menutup matanya menghirup udara yang penuh bau obat itu. Sambil membayangkan kehidupannya setelah menikah bersama Haikal.
Kembali pipi Alana bersemu. Merah merona hampir seluruh wajah. Dia malu. Sungguh. Apalagi kini Edgar menatapnya dengan senyuman tipis.
Ikut bahagia mendengar Devan akan segera melamar putrinya. Dia berharap devan akan menjaga Alana pun Sean dengan baik mungkin. Karena jika tidak, dia akan membunuh pria itu dengan tangannya sendiri.
Bersamaan dengan itu Jerry masuk ke dalam ruangan itu. Menatap semua orang di sana lalu melebarkan senyumannya.
" Bagaimana kabarmu Dev?" Tanya Jerry berat.
" Hm sudah membaik". Jawab devan. Pria itu membuka matanya. Lalu kembali terduduk melihat kedatangan papanya.
Berjalan mendekat pada sofa lalu duduk di single sofa itu. Matanya beralih menatap Alana dan Edgar bergantian.
" Apa kabar Al?" Tanya Jerry. Sudah dua hari dia tidak menjenguk putranya. Karena sibuk mengurusi kasus yang melibatkan putra dan cucunya.
Alana tersenyum tipis. Menatap Jerry lalu menganggukan kepalanya. " Baik pa. Papa gimana kabarnya?"
Tentu Alana bertanya. Sudah dua hari Jerry pergi. Mengurus kasus karina yang kabur. Dia sangat berterima kasih pada Jerry karena telah mau membantu nya mengurus masalah ini.
" Tentu". Jawabnya.
Tiba tiba pria berumur lima puluh empat tahun itu tersenyum. Sedikit kekehan terdengar di telinga semua orang di sana.
" Ada kabar tentang karina?". Ucapnya diiringi senyum tipis.
" Benarkah? Apa Karina sudah tertangkap?" Tanya Alana penasaran.
Jerry mengangguk dan mulai menceritakan kejadian yang di dapatnya.
" Karina di temukan tak sadarkan diri kemarin sore di salah satu apartemen di Niagara. Dengan darah yang mengalir di tubuhnya. Dari keterangan yang di dapat Karina pingsan setelah menggugurkan kandungannya."
"Kini Karina tengah menjalani pemulihan dan akan mendapat hukuman setelah dia keluar dari rumah sakit".