Perfect Love

Perfect Love
Reuni



Aku masih menatap Nathan, lidahku sangat keluh untuk berkata. Aku tidak akan pernah bisa memilih diantara mereka berdua yang sangat aku sayangi. Mayra adalah sepupu yang sudah aku anggap saudara kandung, sedangkan Rafael, laki - laki pertama yang bisa membuat ku jatuh cinta hingga seperti ini, akupun baru saja memulai perjalanan cinta ku dengan dia. Nathan menyeringai masih fokus pada jalanan,


" Kau tidak bisa meninggalkan Rafael kan, berarti aku tidak akan ikut , " Ujarnya dingin,


" Aku tidak bisa Nathan, tapi aku mohon ikut lah aku bisa memenuhi semua keinginan mu kecuali satu itu, " Aku kembali memohon pada Nathan,


" Baik aku akan pikirkan lagi, " Pungkasnya kemudian yang tidak aku tanggapi lagi.


Mobilku terus melaju memasuki pusat kota yang masih ramai meski ini sudah larut malam. Nathan kemudian memarkir mobilku di pinggiran jalan yang sedikit lengang. Ia mengajakku turun memasuki gang sempit dengan perumahan kumuh yang berdesakan. Jalanan nya terdapat genangan air meski sebelumnya tidak ada hujan. Rumah - rumah kecil itu temaram dengan lampu yang hanya satu dua di setiap rumah nya. Kami terus berjalan semakin masuk ke dalam gang sempit yang sepi itu. Saat hampir di ujung nya, ia berbelok menuju sebuah rumah yang lebih kecil dan reyot dari rumah lainnya. Beberapa lubang menghiasi dindingnya yang terbuat dari triplek. Nathan mengetuk pintunya perlahan takut jika terlalu kencang akan membuatnya roboh. Seorang anak perempuan membuka pintu itu sedikit dan menyembulkan kepala dari baliknya. Begitu ia tahu Nathan yang datang, ia segera membuka pintunya lebih lebar tersenyum sumringah,


" Kak Nathan datang, ayo kak masuk !" Ujarnya mempersilahkan kami,


Kami memasuki ruangan yang hanya satu petak dengan segala perabotan yang berjubel disana. Di ruangan itu terdapat sebuah dipan kecil dan usang dengan tiga anak kecil menggeletak gelisah tak bisa tidur. Sang kakak, anak perempuan tanggung yang membukakan pintu tadi membangunkan ketiga adiknya, memberi tahu bahwa Nathan telah datang. Seketika ketiga anak kecil yang usianya antara lima sampai delapan tahun itu bangun langsung menghambur memeluk Nathan. Nathan yang dipeluk memeluk balik mereka dengan senyum yang mengembang. Aku sedikit kaget melihat Nathan yang tidak pernah tersenyum sebelumnya, dapat mengembangkan senyum menawan dihadapan ketiga anak laki-laki yang terlihat lusuh . Lamunanku buyar saat anak perempuan itu mempersilakan kami duduk di atas dipan yang sebelumnya mereka tiduri. Kami berenam duduk di atas dipan yang sudah usang itu saling memandang. Nathan mengeluarkan bungkusan plastik yang ia bawa dengan tambahan beberapa bungkus soto dari gerobak pinggiran jalan tempat kami makan tadi.


" Maaf ya kakak tidak datang tadi pagi karena motor kakak rusak, kalian pasti sangat lapar kan, sekarang makanlah kakak membawakan soto kesukaan kalian !"


Segera keempat anak itu membuka bungkusan makanan dengan sangat antusias. Mereka makan dengan sangat lahap seperti belum makan seharian,


" Kakak tidak ikut makan, ini kak makan sama aku !" Ujar anak perempuan itu menawarkan makanannya padaku,


" Tidak, kamu makan aja, kakak tadi sudah makan kok, " Jawabku sambil tersenyum haru memandang mereka.


Meskipun kuyakini mereka belum makan seharian tapi mereka masih mau berbagi dengan orang lain, hal yang tidak pernah terpikirkan olehku. Pemahaman berbagi yang kuperoleh selama ini hanyalah yang berlebih harus berbagi pada yang kekurangan. Namun malam ini pemahaman itu terpatahkan, aku memetik pelajaran bahwa kita harus berbagi pada orang lain bagaimana pun keadaannya seperti yang dilakukan Nathan dan anak perempuan ini. Tak terasa setetes air mata keluar dari pelupuk mataku melihat mereka sangat bahagia mendapatkan makanan yang untukku selama ini tidak ada artinya karena itu sudah menjadi kebutuhan semua mahluk hidup. Tangan Nathan terulur menyeka air mataku,


" Selama ini kamu pasti tidak pernah menduga ada anak-anak yatim piatu seperti mereka, setiap hari harus berjuang hanya untuk bertahan hidup, " Ujar Nathan menatapku menyunggingkan senyum,


" Apakah setiap hari kamu yang memberi mereka makan ?" Tanyaku kesusahan menahan isakan tangisku,


" Ya begitulah, tapi aku hanya mampu memberi mereka makan sehari sekali dari hasilku menarik ojek online, " Jawab Nathan dengan nada prihatin,


" Aku sudah memikirkan keinginan ku, aku akan memberi tiga syarat, " Lanjutnya membuat aku menatap Nathan waswas takut ia mengajukan permintaan aneh lagi,


" Permintaan pertama ku, berikan mereka kehidupan lebih baik Melvin, berikan mereka kecukupan makanan dan pendidikan, hingga aku dapat memberikannya sendiri suatu hari nanti, " Ujar Nathan membuat diriku menghela nafas lega,


" Baiklah, aku akan turuti keinginan mu itu, " Sahutku dengan mantap, itu bukan hal yang sulit bagiku dengan uang saku puluhan juta sebulan dari papaku,


" Untuk permintaan kedua dan ketiga nya menyusul, tapi kamu harus berjanji menepati nya meskipun aku sudah ikut ke pesta itu atau kamu akan tahu akibatnya !" Seru Nathan berubah mengintimidasiku yang kuangguki sedikit gugup.


Setelah selesai makan, ketiga anak laki-laki itu segera melanjutkan tidur nyenyak nya dengan perut kenyang. Sang kakak mengantar kepulanganku dan Nathan hingga pintu,


" Terima kasih ya kak, aku tadi sempat berpikir kakak tidak akan datang yang itu artinya kami tidak akan makan hari ini, " Ucap gadis kecil itu sedih,


" Kakak pasti akan datang bagaimana pun kondisinya, dan mulai besok kamu tidak perlu khawatir tidak makan lagi, karena Kak Melvin akan mencukupi makanan kalian serta sekolah kalian, " Ujar Nathan berjongkok mensejajarkan diri mengelus rambut gadis kecil itu,


" Apa, jadi kakak cantik ini akan menyekolahkan kami, Kakak tidak bercanda kan ?" Sahutnya tidak percaya,


" Kak Nathan tidak bercanda sayang, mulai besok dan seterusnya kalian tidak akan kekurangan makanan lagi, dan kalian akan pergi ke sekolah seperti anak- anak lain, tidak perlu khawatir dengan biaya nya , itu menjadi tanggung jawab kakak, tapi kalian harus berjanji untuk sekolah dengan sungguh - sungguh !" Ujarku turut berjongkok disebelah Nathan seraya memegang tangan mungilnya,


" Terima kasih banyak kakak, aku tidak tahu bagaimana jadinya aku dan adikku tanpa kakak berdua, " Dia memeluk kami berdua bahagia.


Malam ini terasa panjang bagiku, setelah mengunjungi anak \- anak yatim piatu, kami melanjutkan perjalanan pulang. Aku meminta Nathan untuk menyetir lagi karena aku merasa sangat mengantuk. Sejak kemarin malam menjaga Nathan, aku belum tidur hingga sekarang. Jalanan menuju rumah Nathan nampak masih jauh sehingga aku menggunakan waktu yang ada untuk tidur sebentar. Ku mulai memejamkan mata dan seketika aku telah pergi ke alam mimpi. Sayup \- sayup terdengar olehku suara bising kendaraan, ku paksa membuka mata yang masih sangat berat. Kudapati diriku ada di dalam mobil yang terparkir dipinggiran jalan tidak jauh dari rumah Nathan. Aku terjaga membelalakkan mata melihat jam di mobil menunjukkan pukul setengah enam. Selanjutnya kuedarkan pandangan melihat Nathan masih tertidur pulas dengan kacamata miring di kursi kemudi . Aku berusaha mengingat kejadian terakhir yang membuatku bisa tertidur di mobil. Beberapa saat aku teringat, diriku tertidur diperjalanan pulang menuju rumah Nathan. Kuguncang perlahan tubuh Nathan membangunkan,


" Nathan bangun.....bangun Nathan, ayo kita pulang !" Ujarku dengan suara serak khas orang bangun tidur,


" Eh.....aku masih ngantuk, kamu pulang aja sendiri !" Jawabnya masih setengah sadar,


" Pulang sendiri gundulmu, gimana mau pulang kalo kamu tidur di kursi kemudi begini !" Seruku berteriak di telinganya,


" Berisik banget sih, masih pagi juga udah bikin orang stress aja, " Kini ia sudah membuka matanya melihat ku malas,


" Yaudah minggir , biar aku yang nyetir !" Perintah ku padanya membuat ia pindah ke belakang kursi kemudi,


" Siapa juga yang nyuruh ikutan tidur di mobil ? " Ujarku ketus membawa mobilku menjauh dari tempat itu,


" Heh.....kamu mau bangun - bangun udah di liang lahat, udah untung dijagain bukannya terima kasih, " Ujarnya sambil merebahkan diri di kursi belakang melanjutkan tidur.


Waktu melesat begitu cepat menuju hari yang membahagiakan untuk tante tersayang ku yang sebentar lagi akan melepaskan masa lajang. Aku dan Mayra ijin pulang lebih awal untuk mempersiapkan diri menghadiri pesta pernikahan Tante Jasmine. Kami sekarang sedang berada di pusat perawatan kecantikan langganan kami. Dengan serangkaian perawatan yang kami lakukan pasti membuat kami berlipat kali semakin cantik. Baik aku maupun Mayra tidak henti\-hentinya mengembangkan senyum selama perawatan. Kami membayangkan bagaimana kami berdua berjalan bersama dengan pasangan kami masing \- masing yang sangat mempesona. Kemarin saat aku baru tiba dari mengantar Nathan, Mayra sudah menungguku di teras rumah dengan gelisah karena aku tidak pulang semalaman tanpa kabar. Aku beralasan tidur di salah satu penginapan dekat rumah Nathan karena aku sudah tidak mampu menyetir sepulang dari rumah Nathan. Aku tidak menceritakan kejadian sebenarnya bersama Nathan yang akan membuatnya cemburu maupun perjanjian antara aku dan Nathan. Saat Mayra mendapat kabar kesediaan Nathan menjadi pasangannya dalam pesta membuat nya berteriak histeris memelukku, melihat nya bahagia membuat aku ikut bahagia terlepas dari apa yang sudah aku pertaruhkan. Sore ini kami melakukan perawatan bersama Nathan dan Rafael, meskipun Rafael dan Nathan tidak saling tegur tapi situasi nya cukup baik sehingga tidak menggangu acara perawatan kali ini. Mayra sempat bertanya padaku apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua, akupun menjelaskan situasinya membuat Mayra tidak berkomentar. Setelah kami berempat selesai menjalani perawatan, aku dan Mayra lanjut dirias oleh make up artist yang kami panggil ke rumah, sementara Rafael dan Nathan pulang ke rumah masing\-masing untuk mempersiapkan diri. Setelah semuanya siap, Mayra berangkat terlebih dahulu dengan sopir untuk menjemput Nathan. Aku sendiri menunggu kedatangan Rafael yang akan menjemput ku. Persis pukul setengah tujuh Rafael tiba di rumah ku dengan sebuah Lamborghini urus berwarna putih. Ia turun dari mobilnya membukakan pintu untukku dengan sangat gentle membuat diriku terkesan. Selama diperjalanan tidak henti\-hentinya kami saling melempar pujian atas penampilan kami malam ini. Aku sendiri terkesima melihat Rafael menggunakan tuxedo hitam yang aku pesankan dengan rambut rapi tersisir ke belakang, ditambah mata tajam dengan retina hitam gelap, hidung mancung , rahang yang terpahat tegas memancarkan aura kebangsawanan dalam dirinya. Aku tak hentinya memandang ia kagum sekaligus bahagia bisa menjadi pasangannya yang akan membuat orang iri. Setengah jam perjalanan, kamipun tiba di gedung tempat pernikahan tante Jasmine diselenggarakan. Saat aku hendak turun, lagi \- lagi Rafael membukakan pintu terlebih dahulu untukku. Rafael menyodorkan lengannya agar aku menggandengnya, kami melangkah memasuki ruangan besar dan mewah yang sudah ramai orang. Tak disangka kedatangan kami bersamaan dengan kedatangan Mayra dan Nathan yang juga berjalan beriringan. Kami berempat berjalan bersama membaur dengan kaum borjuis yang mendominasi ruangan. Beberapa dari tamu undangan sejenak memperhatikan kedatangan kami, dua pasangan yang sangat mempesona. Meskipun mereka tidak mengatakan secara langsung kekagumannya, aku cukup tahu melihat tatapan iri dari ekspresinya yang tampak acuh. Aku tidak heran dengan perilaku mereka yang sangat pandai mengendalikan ekspresi wajahnya, karena memang begitulah ciri khas orang \- orang dari kalangan ku yang berbeda dari golongan orang biasa.



Kami bercakap\-cakap santai sebelum acara dimulai, meskipun Nathan dan Rafael tampak tak mau saling bicara tapi keduanya cukup lancar berkomunikasi denganku dan Mayra. Disaat itu juga sepupuku Jacklyn Adams Putra Wijaya yang tidak pernah kuinginkan kedatangannya menghampiri kami membuat suasana menyenangkan berubah seratus delapan puluh derajat,


" Well, lihat siapa ini ?" Sahutnya datang memotong pembicaraan kami dengan seorang gadis blasteran menggelanyut manja di lengannya,


" Oh....hei Jack, kau disini juga, kukira kau sudah mati, " Ujar Mayra malas,


" Tentu saja aku masih hidup, malahan kukira kamu yang sudah menjadi bangkai makanan ikan piranha di Amerika, " Balasnya mengolok Mayra,


" Malam yang sangat menarik, ternyata para sepupuku tersayang datang dengan para ******** busuk, terlihat sangat serasi untuk sampah seperti kalian !" Ujarnya terkekeh meremehkan,


" Diamlah Jack, aku malas meladeni kegilaan mu di malam bahagia ini !" Seruku berusaha menghentikannya,


" Hei....anak haram beraninya kau memerintah pewaris tunggal keluarga Wijaya !" Serunya sambil mendorong membuatku terkejut dengan kemarahan membuncah dadaku mendengar penghinaannya,


" Brengsek, berani nya kau mengolok Melvin dan mendorong nya, dasar tidak tahu diri, kau sendiri berkacalah, semua orang juga tahu kalo kamu cuma anak dari selingkuhan ayahmu yang ditutupi !" Rafael meninggikan suara mencengkram kerah baju Jacklyn,


" Lepaskan tangan kotormu dariku, ******** tengik yang suka main perempuan seperti mu tidak pantas sok jadi pahlawan ! " Balas Jacklyn menggenggam tangan Rafael berusaha melepaskan cengkraman,


" Jaga ucapanmu, kau benar - benar kelewat malam ini , pergi dari sini !" Sahut Mayra meninggikan suara sudah tidak tahan melihat sikap semena - menanya,


" Tentu saja aku akan pergi, aku tidak tahan berdekatan dengan sampah seperti kalian, yang satu anak haram punya pasangan ******** yang suka main perempuan, satu lagi anak manja dengan pasangan pangeran melarat, benar - benar menggelikan , " Ia menyunggingkan senyum merendahkan kami, ingin rasanya aku menampar wajahnya dengan heels ku tapi aku berusaha menahan diri agar tidak terjadi keributan di pesta malam ini,


" Namanya orang bodoh memang banyak omongan ya, pengecut sepertimu yang cuma berani sembunyi di ketiak ayahnya tidak pantas disebut manusia, derajatmu bahkan lebih rendah dari kotoran kumbang tinja, cepat pergi sebelum kesabaran ku habis atau kau akan tahu akibatnya ! " Ucap Nathan dingin dengan aura mengintimidasi menguar dari tubuhnya,


" Baiklah aku akan pergi pangeran melarat , aku tidak sabar melihat kalian berdua hancur di tanganku !" Serunya tertawa meninggalkan kami,


" Kita lihat saja sampai dimana sombong mu kutu busuk !" Sahut Rafael menanggapi ucapanya.


Setelah kepergiannya kami berempat terdiam. Entah mengapa Jacklyn tahu semua aib kami, sepertinya ia juga sudah mengenal dekat Rafael dan Nathan. Ucapannya tentang ku yang anak haram tidaklah benar. Memang beberapa orang keluarga Wijaya sangat menentang pernikahan papa dengan mama yang bukan dari keluarga berada, tapi kakekku merestui papa mamaku dan aku lahir setelah pernikahan yang sah. Namun, dimata nenekku dan ayahnya Jacklyn menganggap mamaku tidak pernah menjadi istri papa, dan aku lahir diluar pernikahan. Terkadang aku miris dengan keluarga macam apa yang sebenarnya kumiliki, mereka hanya mendewakan harta dan status menjadi binatang tak mengenal saudara seperti kelakuan Jacklyn. Lamunan kami buyar saat Mayra mulai membuka suara,


" Jadi kalian sudah saling kenal dengan Jacklyn ?" Tanyanya diangguki oleh Rafael dan Nathan,


" Kami satu club bela diri, dan dia itu pengecut sekaligus musuh bebuyutan kami, " Jawab Rafael kemudian,


" Sudahlah aku malas membicarakan kotoran itu, lebih baik kita membicarakan hal lain saja, " Sahut Nathan memasang wajah sangat sebal hingga kedua alisnya menyatu,


" Benar kata Nathan, lebih baik kita pergi kesana karena sebentar lagi tante Jasmine memasuki ruangan, " Ujarku seraya menarik Mayra diikuti Rafael dan Nathan menuju kerumunan orang yang telah berbaris rapi menunggu kedatangan Tante Jasmine.


Tante Jasmine memasuki ruangan dengan wajah yang berbinar bahagia menambah kecantikannya. Disebelahnya sang mempelai pria Om Arga terlihat sangat gagah juga tersenyum bahagia mendapatkan seorang yang cantik dan baik hati seperti Tante Jasmine. Para tamu undangan berbaris di kanan kirinya menghambur kan bunga ke arah mempelai yang datang tak terkecuali aku dan Mayra. Aku dan Mayra bahkan saling berpelukan terharu melihat tante cerewet kami kini sudah menikah. Di belakang kedua mempelai terlihat kakek nenekku, ayah Jacklyn Om Putra bersama istrinya Tante Sarah, papaku, dady Mayra Om Candra bersama mom Mayra Tante Miranda mengiringi langkah mempelai hingga sampai di singgasana mereka malam ini. Dimata orang lain keluarga kami mungkin terlihat sangat harmonis. Namun nyatanya, anak tertua keluarga Wijaya, Om putra ayahnya Jacklyn memusuhi papaku dan dady Mayra. Dia ingin memiliki semua kekayaan kakekku. Mengetahui itu, baik papa maupun dady Mayra membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Meski begitu ayah Jacklyn masih tetap tidak suka dan berusaha merongrong bisnis papa dan dady Mayra agar ia tetap menjadi yang paling kaya dalam keluarga Wijaya. Lalu ketamakannya diturunkan ke anaknya Jacklyn, yang setahun lebih tua dariku dan Mayra atau bisa dibilang seusia Rafael dan Nathan. Rafael dan Nathan sebenarnya setingkat di atas ku dan Mayra, hanya saja mereka tidak mau kupanggil dengan sebutan kakak seperti pada umumnya aku memanggil seniorku.


Kembali ke pembahasan utama, Jacklyn sejak kecil tidak pernah menganggap aku dan Mayra sepupunya. Dia melihat kami lebih seperti saingan dan penghalang untuk mendapatkan warisan. Aku dan Mayra tidak pernah ambil pusing dengan sikap anak dan bapak yang sama menyebalkan itu selama mereka tidak bertindak merugikan kami. Kakekku tahu dengan sifat busuk Om putra tapi beliau memilih acuh karena sang istri, nenekku selalu memihak anak pertamanya dibandingkan anak lainnya.


Tidak ingin berlarut dalam masalah keluarga, aku mengalihkan dengan mengajak Mayra, Rafael dan Nathan menyalami Tante Jasmine di depan. Saat tiba giliran kami, Tante Jasmine tersenyum menggoda aku dan Mayra,


" Wah..... sepertinya para keponakan ku akan segera menyusul, " Ujarnya terkekeh,


" Tidak lah Tante, kami ini masih kecil, masa depannya masih panjang, ada hal lain yang harus kami kejar, " Sahutku menimpali,


" Baguslah kalo begitu, dan kalian para cowok jangan sampai membuat keponakan tersayang ku menangis atau kalian akan berhadapan dengan ku !" Candanya menatap Rafael dan Nathan garang membuat kami tertawa,


Setelah itu kami melanjutkan dengan sesi pemotretan bersama seluruh keluarga Wijaya termasuk dengan Jacklyn dan pacarnya yang blasteran. Meskipun ada hal menyebalkan terjadi, tapi aku tetap bahagia dan bersyukur dengan euforia pernikahan tanteku tersayang malam ini.