
Pagi pagi sekali Alana di buat terkejut oleh kabar yang Edgar berikan. Ayahnya itu menelponnya pagi sekali dan mengatakan jika devan sudah sadar.
Alana yang belum apa apa bersiap untuk kerumah sakit. Dia membangunkan sean yang memang masih tidur seperti biasanya.
'' sayang ayo bangun. kamu mau ikut mommy tidak?'' ujar alana.
sean menggeliatkan tubuhnya. '' mommy mau kemana?'' sean balik bertanya.
'' mommy mau ke rumah sakit. tadi grandpa bilang daddy udah sadar'' beritahu alana.
"Mommy benar?"
Alana mengangguk. "Iya. Jika kau tak percaya mommy tinggal saja". Ujar Alana bangkit.
" Tunggu mom. Aku ikut. Aku akan bersiap sebentar lagi". Sean bangkit dari tidurnya. Menyibakan selimut lalu masuk ke kamar mandi.
Keluar dari kamar sang putra Alana pun bersiap siap. Tak lama setelah Sean selesai mereka berangkat menggunakan taksi.
Sampai di rumah sakit Alana buru buru berlari ke arah ruangan Devan di rawat.
Dan benar saja, sesampainya di sana dia dapat melihat devan yang tengah duduk sambil memalingkan wajahnya dari Diana yang menyodorkan sendok berisi bubur. Serta Jerry mily dan Edgar yang menatapnya dengan kesal.
"Daddy!"
Teriakan itu membuyarkan atensi mereka. Mata mereka menatap Sean yang berlari meloncat dan memeluk Devan yang baru sadar.
Dalam ngambek nya pada sang ibu yang memaksanya untuk makan Devan terkejut dengan tubrukan di tubuhnya. Dia menatap Sean serta Alana dengan binar.
" Daddy sudah bangun?" Tanya Sean.
Pria kecil itu malah asik menempel di dada daddynya. Kepalanya mendongak menatap wajah devan dengan gemas.
" Udah dong. Daddy kan kuat jadi udah bangun". Jawab devan.
Dia mencoba mengangkat tubuh Sean yang nemplok padanya namun tak berhasil sebab Sean malah semakin mengeratkan pelukannya.
" Aku nggak mau Daddy. Aku maunya disini". Pekik Sean kuat.
Mau tak mau Devan mengalah pada sang anaknya yang sedang dalam mode manja itu. Matanya beralih menatap Alana yang menyimpan tasnya di sofa.
" Alana syukurlah kamu datang sayang. Mama minta tolong yah. Kamu bujuk devan makan. Mama sudah cape meladeninya yang kekanak Kanakan". Ujar Diana.
Perempuan itu meletakan piring serta sendok di atas nakas sebelah ranjang rawat. Lalu berjalan menuju kursi sambil mengipasi wajahnya.
" Kenapa kau tidak makan?" Alana maju dan memberi pertanyaan pada Devan.
" Itu kah yang pertama kau ucapkan untukku?" Tanya devan kesal.
Kening Alana berkerut. Bingung dengan pertanyaan devan. " Hah? Apa maksudmu?"
Devan semakin sebal. " Apa kau tidak mau mengatakan jika kau merindukanku atau mengkhawatirkan ku? Kau langsung bertanya soal makan!" Ujarnya sewot.
" Sudahlah jangan membahas itu. Yang penting kau sudah bangun dan membaik sekarang." Alana duduk di kursi menghadap pada Devan dan putranya.
" Sekarang kau makan Dev jangan seperti anak kecil saja". Titah Alana tegas.
" Kamu suapin". Pintanya manja dan itu terdengar menggelikan di telinga Alana.
" Jangan mengada Ngada Dev. Tangan mu masih berfungsi untuk sekedar makan".
Devan menekuk wajahnya dengan tubuh yang di buat buat lemas. " Tangan ku masih lemas. Tidak kuat untuk makan".
Alana menghela napasnya kasar sembari memberi devan tatapan tajam. Dengan sebal dia meraih piring dan sendok itu lalu menyendok nya dengan kuat. Setelahnya dia arahkan pada mulut pria yang telah terbuka dengan mata yang berbinar.
" Aws pelan pelan Al". Devan meringis kala Alana menyuapinya dengan satu sendok penuh dan menyentaknya.
" Makanya punya tangan itu di gunain". Ketus Alana.
Devan mengerdikan bahunya. Acuh saja. Dia malah sibuk berbicara dengan Sean yang terus mengejeknya.
" Daddy manja sekali". Celetuk Sean.
Bermain dengan kancing baju yang di pakai Devan. Tetap duduk di atas pangkuan pria itu.
Devan mengerucutkan bibirnya kesal dengan cibiran Sean. " Daddy tidak manja Sean. Tangan Daddy masih sakit. Jadi sulit untuk di gunakan". Ujar devan membela diri.
" Kalau begitu kenapa tadi pas nenek mau suapin gak di makan? Tapi pas mommy yang suapin Daddy makan". Sean menimpali.
Devan gelagapan. Bingung harus merespon apa. Sedangkan Alana malah terkikik geli melihat ekspresi devan yang memohon padanya.
" Um.. itu kan supaya mommy mau menikah dengan Daddy".
Alana membulatkan matanya. Astaga pria yang satu itu memang meresahkan sekali.
" Jadi kapan mommy sama Daddy menikah?". Sean beralih menatap Alana dari pangkuan devan.
Alana terdiam. Menatap devan kesal karena ucapan pria itu ia jadi imbasnya. Kini giliran Devan yang terkekeh geli melihat Alana memelototinya.
" Nanti kalau Daddy sudah sembuh. Mommy akan menikah dengan Daddy". Jawab devan mengambil alih.
" Kapan daddy akan sembuh?"
Astaga! Devan tergelak dalam hati. Anaknya itu sungguh menggemaskan sekali. Rasanya mengingat dia telah melewatkan masa masa pertumbuhan serta kelahiran Sean sangat di sayangkan. Rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya. Membiarkan Alana berjuang seorang diri membesarkan putra mereka. Sungguh dia berjanji akan membahagiakan Sean maupun Alana. Itu janjinya.
" Secepatnya". Jawab devan telak.
...****************...
jangan lupa follow akun author!