
hallo minna.......
author come back nih hihi....
selamat membaca
Sudah satu Minggu Devan koma. Namun tidak ada tanda tanda dia akan bangun. Alana serta yang lainnya menjaga Devan dengan bergantian.
Sean sendiri kondisinya sudah membaik. Sudah tak perlu lagi di rawat namun harus tetap hati hati karena luka sayatan nya belum kering. Sedangkan mily sudah sehat. Dia juga ikut sedih sekaligus terharu atas kejadian ini. Dia benar benar syok.
Siang ini adalah giliran Alana menjaga Devan. Dia bersiap dengan menyiapkan beberapa keperluan dirinya serta Sean untuk di rumah sakit. Seperti bekal karena Sean dilarang untuk makan sembarangan.
Alana sebenarnya lebih memilih untuk tidak mengajak Sean, namun putranya itu ngotot ingin ikut dengan alasan memberi semangat pada daddynya. Alana hanya pasrah pada keinginan putranya itu.
Alana menyewa sebuah apartemen di dekat rumah sakit. Rumah neneknya masih sedang di selidiki polisi. Niatnya jika sudah selesai Alana akan menjual rumah itu.
Setelah selesai menyiapkan keperluan mereka Alana memanggil sean yang masih di kamar.
" Sean kau sudah siap?" Alana sedikit berteriak.
" Sudah mom". Sahut Sean keluar dari kamar lalu menghampiri alana.
Alana merapikan pakaian Sean terlebih dahulu. Lalu menenteng tasnya untuk di bawa.
" Ayo keluar. Om Brian sudah menunggu". Ajak alana.
Tiba tiba sean berhenti. Alana menatap tanya pada putranya itu. "Kenapa berhenti?" Tanyanya bingung.
" Aku tidak mau lagi bersama om Brian". Ujar Sean memberengut.
Alana berbalik pada sean. Lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya. " Kenapa begitu? Bukankah sudah mommy beritahu. Apa kau lupa?" Tanya Alana lembut.
Sean menggeleng pelan. " Aku ingat mom. Tapi mommy janji tidak akan lama. Ini sudah sangat lama." Keluhnya.
Alana menghela napas sesaat sebelum kembali melanjutkan ucapannya. " Sean dengarkan mommy. Sudah mommy katakan kau harus bisa menghargai orang lain sekalipun kamu membencinya. Kemarin kau janji seperti itu kenapa sekarang berubah lagi?"
Sean terdiam." Tapi mommy janjinya sebentar. Ini sudah lama mommy. Bukankah mommy juga mengatakan tidak boleh berbohong. Kenapa mommy malah berbohong?" Bantah Sean balik.
Alana menghela napas berat. Anaknya ini sulit sekali untuk di nasihati. Kalaupun iya pasti harus memiliki alasan yang jelas.
" Maafkan mommy. Tapi kau tetap harus menghargai om Brian. Kenapa kau tak mau bersama om brian?" Tanya Alana.
Kali ini dia benar benar penasaran dengan alasan Sean. Kenapa putranya itu sangat tak suka pada Brian. Padahal menurutnya Brian orang yang baik dan humble.
Sean mengangguk lemah. " Baiklah aku mau. Tapi mommy harus janji mommy tidak boleh menikah dengan om brian. Mommy hanya boleh menikah dengan Daddy saja. Mommy jangan mengkhianati Daddy yang sedang tidur". Pesan Sean tegas.
Alana menggelengkan kepalanya sambil meneguk ludah kasar. Dia benar benar heran bagaimana bisa Sean sangat dekat dengan daddynya. Bahkan sikap posesif nya pun sama. Alana jadi berpikir Devan telah mencuci otak Sean.
" Mommy janji tidak akan menikah dengan om brian". Jawab alana.
Lagipun jika dirinya menolak Devan pun Alana tidak akan menerima Brian. Dia sudah menganggap Brian sahabat bukan kekasih. Dia tak memiliki rasa apapun untuk pria itu. Apalagi dia pikir Brian pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik di banding dirinya yang memiliki anak di luar nikah. Itu akan menjadi aib baginya nanti.
Mereka keluar dari apartemen dan langsung masuk kedalam mobil yang sudah terdapat Brian.
Selama Devan koma pria itu memang sering mengantarkannya menuju rumah sakit. Bahkan kadang ikut menjaganya. Dia juga sering datang ke apart meski sekedar mampir biasa.
Di mobil alana dan Brian saling mengobrol tanpa Sean tentunya. Pria kecil itu hanya diam dan menatap tak minat pada Brian. Yang di pikirannya hanya terpikir daddynya lebih keren dari pada om di depannya.
Sampai di rumah sakit mereka turun dan masuk ke dalam ruang rawat Devan. Pria yang sudah satu Minggu koma. Sean langsung duduk kursi di samping berangkar daddynya. Sudah hal biasa sejak Sean keluar dari ruang rawat.
" Al tadi Tania menitip pesan. Dia memintaku memberitahumu jika dia tidak bisa menemanimu hari ini. Katanya banyak pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan". Beritahu brian.
Pria itu duduk di samping Alana dengan memberi sedikit jarak. Alana mengangguk sebagai jawaban.
Dia itu tahu teman satunya itu pasti sangat sibuk. Apalagi sekarang mereka baru mengeluarkan sebuah desain terbaru yang langsung di buru warga.
Pintu terbuka menampilkan Diana dan Jerry yang datang. Entah dari mana mereka.
" Al. Kau sudah datang?" Tanya Diana.
Alana berdiri dan menyalami tangan Diana serta Jerry. Lalu mengangguk sebagai jawaban.
" iya ma. Mama dari mana?" Tanya Alana.
" Kita dari kantin. Tadi lapar jadi makan siang dari sana". Jawab Diana.
Alana mengangguk. Lalu matanya beralih menatap Jerry yang berada di belakang Diana.
" Em p-pa. Bagaimana tentang kasus karina?" Tanya Alana.
Karena selama ini Jerry dan Edgar lah yang mengurus kasus ini. Dia hanya diminta fokus pada kesembuhan Sean dan devan. Namun dia juga ingin tahu perkembangannya.
" Masih dalam pencarian. Dan Karina di tetapkan sebagai buronan". Jawab jerry.
" Tenang saja Al. Kau tak perlu khawatir. Papa pastikan Karina akan mendapat balasannya." Ujar jerry yakin.
Alana tersenyum lega mendengar itu. Setidaknya jika Karina mendapatkan balasannya perempuan itu akan berpikir dua kali sebelum menyentuh putra dan keluarganya.
---
to be continued
minal aidzin wali faidzin mohon maaf lahir dan batin untuk ramadhan 1444 Hijriyah...
minta doa nya untuk author semoga di beri kesehatan dan kelancaran. dan semoga bisa konsisten dan rutin update...