
Seminggu berlalu setelah lamaran yang Devan berikan. Pun penolakan yang dia berikan pada Brian. Entah kemana perginya pria yang patah hati itu. Sudah seminggu pula Brian tak mengunjunginya.
Bahkan saat ia chat pun Brian hanya melihat nya tanpa membalas. Tentu dia bersedih akan hal itu. Padahal dia masih ingin berteman dan bersahabat dengan baik dengan Brian meski tak harus bersama. Ia bingung harus berbuat apa. Karena nyatanya perasaannya memang tersimpan dalam untuk Devan. Dan ia tak bisa mengkhianati itu. Apalagi berbohong soal perasaannya pada Brian yang akan berakibat semakin besar. Bukan hanya Brian yang akan tersakiti. Pun ia sendiri.
Alana yang kini sudah kembali ke Indonesia. Bersama devan dan keluarganya. Jerry dan Diana sendiri memang sudah lama kembali ke Indonesia karena pekerjaan yang menuntutnya.
Dua hari sudah mereka tinggal di rumah Edgar. Dan hari ini Alana kedatangan devan serta kedua orang tuanya ke rumah. Bermaksud meresmikan hubungan mereka dan merencanakan acara pernikahan.
" Bagaimana kabarmu?" Tanya Edgar menyapa Jerry yang sudah duduk menghadapnya.
" Baik. Sangat baik. Seperti yang kau lihat". Jawab jerry.
" Aku dengar dari beberapa orang kalau putra berengsek ku ini melamar putrimu." Imbuh Jerry melirik devan singkat dengan mata tajamnya.
Edgar pun beberapa orang disana terkekeh mendengar ucapan Jerry yang terkesan meledek putranya. " Seperti yang kau dengar." Edgar membenarkan.
" Dan kau menerimanya Alana?". Kini mata tajam Jerry menatap Alana yang sedari tadi diam. Mengangguk Alana menjawab pertanyaan Jerry.
Kembali terkekeh berat pria itu." Bagaimana bisa kau mau menerima pria berengsek sepertinya di hidupmu. Harusnya kau tolak dan kau tumbuk dia hingga nyawanya tercabut". Candaan Jerry. Terdengar menyeramkan di telinga Devan. Ia lirik sang ayah dengan tajam yang sedang meracuni pikiran alana. Dipikir mudah apa mendapat maaf dari Alana.
Alana hanya membalasnya dengan senyuman. Kembali mereka terkekeh melihat tingkah laku kedua pasangan itu. Jerry, pria itu kini menegakan tubuhnya. Merubah raut wajahnya serta nada bicaranya semakin serius.
" Dengan maksud yang tulus, kami kesini ingin membicarakan rencana pernikahan putri putra kita kembali. Untuk segera meresmikan hubungan serta tali persaudaraan ini." Imbuh tegas Jerry.
Lama berbincang akhirnya mereka memutuskan untuk dua Minggu lagi adalah resepsi. Tentu saja hal itu diterima Alana pun Devan. Bahakan pria itu berharap jika besok adalah hari pernikahannya.
" Jadi bagaimana Al Dev?". Tanya Diana melirik kedua orang yang menyimak itu.
Alana mengangguk setuju begitu pun devan. " Aku sih besok juga gak papa". Celetuk pria itu yang mengundang geplakan sang ayah.
" Kau ini Dev. Yang kau pikirkan hanya hal itu. Ingat banyak persiapan yang harus kau lakukan." Peringat diana tegas. Dia tak mau putranya kembali mengulang kesalahan seperti masa lalu.
Devan, pria itu berdecak kesal. Lantas memutar bola matanya malas dengan ledekan dari orang tuanya. Matanya mengikuti Sean yang datang ke arah mereka duduk. Dengan mengucek mata serta jalan yang sempoyongan khas orang bangun tidur.
" Mommy!" Panggil serak Sean.
Alana mengalihkan atensinya lalu menyambut sang putra yang langsung berlari pada pangkuannya. Pria kecil itu baru saja terbangun setelah dia menidurkannya tadi.
" Mommy!" Panggil Sean lagi.
Alana menunduk lalu mengecup puncak kepala sang putra. "Kenapa hm?" Tanyanya pelan.
"Mommy mau adik!"