
Pagi hari seperti ini,Nayla sudah disibukan dengan kegiatan memasak di dapur. Sedangkan Dafa dan El?, masih setia bergelung didalam selimut tentunya .
"Tolong dilanjutin masaknya ya bu, saya mau ke atas dulu",ucap Nayla pada ART-nya.
"Baik nyonya" ,jawab nya dengan sopan.
Nayla mencuci tangannya terlebih dahulu. Setelah selesai,ia langsung berjalan ke arah kamar nya terlebih dahulu untuk membangunkan suaminya.
Ceklek
Nayla membuka pintu kamarnya. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Dafa yang sedang tertidur dan El yang berada dipelukan nya.
Sejak kapan El pindah kamar?,pikir Nayla.
Ia berjalan untuk membuka gordennya terlebih dahulu,membiarkan cahaya matahari pagi memasuki kamarnya. Nayla berjalan ke arah lemari untuk mengambilkan baju Dafa dan menaruhnya di atas sofa.
Setelah selesai, ia langsung berjalan kearah kasur dan menepuk pelan pipi suaminya.
"Ayah" ,panggil nya.
Ya, mulai sekarang mereka sepakat untuk membiasakan memanggil satu sama lain dengan sebutan ayah dan bunda jika didepan anaknya,karena ia takut jika nanti El akan meniru memanggil mereka dengan nama saja.
Dafa tak terusik dalam tidurnya sama sekali saat Nayla membangunkannya. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada El.
"Ayah" ,panggil nya lagi.
Tetap saja Dafa tak terusik. Akhirnya Nayla beralih untuk membangunkan anaknya saja.
"El" ,panggil Nayla dengan menepuk pelan pipinya juga.
"Elvano,bangun nak. Udah pagi ini kan harus sekolah".
Sepertinya El terusik,ia akhirnya mengerjapkan matanya dan menyipitkan matanya kala pandangannya bertubrukan dengan cahaya matahari.
El menguap sebentar ," bunda", panggil nya dengan suara khas bangun tidur.
"Ayo bangun,kan El mau sekolah" ,ajak Nayla.
"Gendong" ,ucapnya manja sembari merentangkan tangannya.
"Boleh, tapi El bangunin ayah dulu".
El menoleh ke arah ayahnya ,"ayah" ,panggil nya.
"Hem....", dehemnya tapi matanya masih saja terpejam.
"Bangun ayah udah pagi, kasian bunda nungguin,ayah kan harus kerja. El juga mau sekolah loh", ucap nya. Namun Dafa tetaplah Dafa, ia tetap saja memejamkan matanya.
Akhirnya El menghujami wajah Dafa dengan banyak ciuman. Dafa pun akhirnya mulai membuka matanya, mungkin ia merasa basah disekitar area wajahnya karena air liur anaknya.
Ia langsung melepaskan pelukan anaknya. Dan langsung menatap Nayla.
"Aku kira kamu yang nyium, ternyata El" ,ucap Dafa dengan cengirannya. Tak lupa juga ia mengusap wajahnya yang basah karena El.
"Eh! apa tadi. El?, sejak kapan kamu dikamar ayah?",kaget Dafa dan menatap El bingung.
"Sejak tadi, soalnya El pengen tidur sama ayah jadi El pindah deh", ucap El sembari bangkit dan meminta Nayla untuk segera menggendongnya.
"Ayah kira itu bunda tau".
"Bunda terus,bunda tuh punya El",sahut El ketus.
"Udah...udah kalian ini, masih pagi juga. Sekarang ayah mandi sana. Bunda mau mandiin El dulu", Nayla melerai mereka.
"Iya sayang iya" ,Dafa mencium kening Nayla sebentar sebelum Nayla bangkit menuju kamar anaknya.
...***...
Setelah selesai dengan semuanya,Nayla dan El turun kebawah untuk sarapan. Mereka langsung duduk ditempat masing masing.
Tak berselang lama Dafa juga ikut bergabung di sana. Nayla dengan cekatan mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Dafa dan untuk El. Sedangkan dia?akan makan nanti.
"Segini cukup?",tanya Nayla memastikan.
"Kurangin dikit lagi,aku pake ayam aja ya bun", pintanya. Nayla pun menurutinya.
"Sayurnya juga harus dimakan dong El",sahut Dafa.
"Engga mau",tolaknya.
Beginilah Elvano,ia sedikit susah untuk disuruh makan sayur. Entah harus bagaimana lagi Nayla membujuknya.
"Kamu ngga sekalian?",tanya Dafa setelah melihat Nayla yang tidak ikut sarapan.
"Aku nanti, yang terpenting kalian dulu",ucap Nayla sembari tersenyum.
"Sekalian aja, makan sama sama!",paksanya.
"Iya udah deh" ,Nayla lantas mengambil makanan untuknya sendiri.
Sarapan mereka selalu ramai karena celotehan El. Ia memang tipikal anak yang cerewet dan aktif.
"Cepet abisin El, ayah ada jadwal dirumah sakit",ucap Dafa.
Telinganya terasa panas karena El selalu saja membahas kecebong nya. Ya, selama ini El memang tetap memaksa memelihara kecebong. Yang mungkin sebentar lagi akan berubah jadi katak.
"Sabar ayah",jawab El santai, ia terus menyuapkan makanannya kedalam mulut.
"Ayah tinggal nih",ancamnya.
"Iya-iya, ini udah selese" ,El langsung turun dan langsung menggendong tasnya dibantu oleh Nayla. Tak lupa ia juga menyalami Nayla.
"El berangkat dulu ya bun",pamitnya tak lupa ia juga mencium pipi Nayla.
"Belajar yang bener, jangan nakal oke".
"Oke", sahutnya.
"Aku juga berangkat ya bunda", Dafa mencium kening Nayla.
"Hati-hati", jawabnya sembari mencium tangan suaminya.
"Iya".
Nayla akhirnya mengantarkan mereka berdua sampai kedepan.
"Dadah bunda", El melambaikan tangannya saat sudah didalam mobil. Nayla hanya membalas melambaikan tangannya dengan tersenyum.
Setelah mobil milik suaminya sudah tak terlihat lagi, Nayla langsung kembali masuk kedalam rumah. Bersiap untuk mandi.
"Ayah?",panggil El.
"Ya?".
"Waktu itu ayah tanya cita-cita El apa kan?,El udah pikirin El pengen jadi dokter aja kaya ayah", celetuknya tiba tiba.
"Wah bagus dong kalau gitu",jawab Dafa senang.
"Ngomong ngomong El pengin jadi dokter apa?", tanya Dafa.
"Dokter hewan".
"Kenapa dokter hewan?,kenapa engga kayak ayah".
"Ya, biar bisa nyembuhin hewan sakit yah. Jadi kalau nanti kecebong El sakit kan El bisa obatin" ,jawab El dengan polosnya.
Dafa yang semula raut wajahnya berseri dan senang karena anaknya menginginkan menjadi dokter langsung pudar menjadi datar.
Kecebong lagi , kecebong lagi.