
Hari hari yang dilalui Dafa tampak sama yaitu hampa. Sampai saat ini pun pelaku tabrak lari belum juga terungkap. Tapi Dafa dan Raka tak pernah menyerah. Bahkan mereka sudah melaporkan kepada pihak yang berwajib.
Dafa merasa setiap harinya terasa hambar. Ia tak semangat menjalani hari harinya. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Nayla,Nayla dan Nayla.
Setiap hari ia pergi ke rumah sakit. Berharap Nayla sudah membuka matanya, tapi nihil.
Saat ini Dafa sedang berada di cafe . Baru saja duduk, ponsel Dafa tiba tiba berdering,tertera nama Nadia diponselnya.
"Hallo Na".
"Cepet kerumah sakit, Nayla udah sadar", pekiknya.
Dafa langsung mematikan sambungan telefonnya begitu saja tanpa menjawab ucapan Nadia terlebih dahulu. Ia langsung berlari keluar.
Dafa memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata. Setelah sampai dirumah sakit,ia langsung berlari masuk. Ini adalah kabar gembira untuknya. Kabar yang selalu ia tunggu.
Sampai didepan pintu, Dafa mengatur nafasnya terlebih dahulu,apalagi tadi ia berlari sepanjang koridor rumah sakit.
Dengan perlahan ia membuka pintunya, semua orang yang berada didalam langsung menatap Dafa. Begitupula dengan Nayla, ia yang tadi sempat tertawa bahagia,setelah melihat Dafa langsung merubah raut mukanya menjadi datar.
Bukannya ia tak suka Dafa ada disini, tapi ia masih kecewa dengannya. Melihat Dafa, Nayla langsung teringat dengan Foto yang diterimanya waktu itu.
"Say-" ,belum sempat menyelesaikan ucapannya, Nayla langsung memotongnya.
"Pergi!" ,sentaknya.
"Kenapa harus pergi. Aku kangen banget sama kamu",ujar Dafa bingung.
"Pergi!,aku gak mau liat kamu" ,ucap Nayla datar.
Dafa berfikir sebentar, kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai membuat Nayla marah. Ia langsung teringat sesuatu.
" Aku minta maaf soal kejadian dicafe, aku telat datangnya" ,ucap Dafa sembari mendekat kearah Nayla.
Tapi Nayla langsung mengangkat tangannya pertanda bahwa ia tak mau didekati.
Semua orang yang berada didalam, hanya mengerutkan keningnya, apalagi Fara, ia bingung sebenarnya putrinya ini kenapa.
"Sayang, Dafa itu pengen ketemu kamu. Masa kamu kaya gitu si", ucap Fara mencoba untuk memberi pengertian.
"Nayla lagi gak pengin ketemu dia ma. Mending suruh keluar aja".
"Tap-", Nadia menggantungkan ucapannya, setelah melihat tatapan tajam dari Nayla.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Fara meminta Dafa untuk mengikuti kemauan Nayla.
"Dafa, tante mohon kamu keluar dulu ya.Biar tante bujuk Nayla dulu ", ucap Fara tak enak.
"Cobaan apalagi ini", ucapnya frustrasi.
Dari kejauhan nampak Brian sedang memandang kearah Dafa. Ia langsung berjalan mendekat kearahnya.
"Daf" ,panggilan dan tepukan dibahunya membuyarkan lamunan Dafa. Ia hanya menoleh sebentar. Akhirnya Brian langsung duduk disebelahnya.
"Gue tau apa yang lo rasain" ,Brian mencoba membuka obrolanya. Namun Dafa hanya diam menatap kedepan.
"Nayla kaya gini pasti ada sebabnya Daf. Gue udah hafal sama sifatnya". Meskipun Dafa tetap mendiaminya tetapi Brian tetap terus berbicara.
"Coba inget inget, lo sebelum nya bikin kesalahan apa sama dia".
Dafa menghela nafasnya, " sebelumnya gue udah janjian sama Nayla mau ketemu, tapi pas gue di perjalanan tiba tiba gue dapet telfon dari nomor gak dikenal yang terus terusan nelfon gue. Akhirnya gue angkat siapa tau emang penting. Ternyata yang nelfon gue itu Risa".
Brian melotot tak percaya ," Risa mantan lo?" tebaknya.
Dafa hanya mengangguk.
"Berarti lo lebih mentingin Risa daripada Nayla" ,ujar Brian.
"Karena Risa lagi butuh gue Yan. Dia lagi dalam bahaya. Gue nolongin sebagai teman bukan mantan", bentaknya tak terima,
"Bodoh. Mau aja dikibulin mantan. Pikir tuh pake otak".
"Nyesel gue ngelepas Nayla sama cowo kaya lo", sinis Brian.
"Lo kalau gak mau ngasi solusi. Lebih baik Diem!,Dafa langsung berdiri mencengkeram kerah baju Brian.
"Tenang dulu,gue tau Nayla marah sama lo itu pasti gara gara Risa. Pasti dia udah tau", ucap Brian sembari melepas cengkeraman tangan Dafa.
"Mana mungkin, gue aja belum cerita".
"Terus lo gak mau jelasin apa apa gitu ke Nayla?", tanya Brian.
"Ya jelasin, tapi nanti".
"Halah kelamaan,semua terserah lo. Saran gue si secepatnya".
"Nunggu waktu yang tepat Yan".
"Kapan?",sinis nya.
Dafa hanya mengaruk tengkuknya yang tidak gatal,ia juga tidak tau kapan yang namanya waktu yang tepat.