Nayla's Love Story

Nayla's Love Story
Penjelasan Dafa•



Baru saja memarkirkan mobilnya dipelataran rumahn,ia sudah disuguhkan mobil milik kekasihnya. Jadi tamu yang dimaksud Fara adalah Dafa.


"Assalamualaikum, mam" ,salamnya.


"Waalaikumsalam" ,jawab Fara dan Dafa.


"Aku ke kamar dulu" ,pamit Nayla, tanpa menoleh ke arah Dafa.


Dafa hanya menghela nafasnya.


"Mau ngapain?" ,tanya Fara.


"Mau mandi, badan Nayla udah bau".


"Oh iya sana".


Fara langsung melanjutkan langkahnya menuju Dafa, begitu pula dengan Nayla yang melangkah menuju kamarnya.


"Tunggu ya Daf", ucap Fara.


"Iya tante".


Akhirnya Fara menemani Dafa sembari menunggu Nayla selesai mandi. Mereka bercerita tentang masa kecil Nayla. Sesekali mereka tertawa bersama.


20 menit berlalu, Nayla turun kebawah dengan badan yang kelihatan lebih segar dari sebelumnya. Ia memakai celana pendek setengah paha dan baju lengan panjang.


"Ada apa?" ,tanya Nayla setelah duduk disamping Dafa.


"Kangen" ,ucap Dafa tanpa tau malu, padahal disitu masih ada Fara.


Fara hanya tersenyum, "ya sudah kalian lanjutin ngobrol dulu ya,mama mending nyusul papa ke kantor Nay".


"Oke".


"Jangan macem macem",Fara memperingati.


"Siap tante", ucap Dafa.


Selepas kepergian Fara, mereka berdua hanya diam, Nayla yang terus memakan camilan sedangkan Dafa yang selalu menatapnya.


"Nay",panggil Dafa.


"Ya".


"Aku mau ngomong sama kamu" ,ucapnya.


"Dari tadi juga udah ngomong tuh".


"Ini penting",rengek nya.


"Ya udah", jawab Nayla sembari terus memakan camilannya.


"Maaf".


Nayla langsung menelan camilannya dan langsung menoleh ke arah Dafa.


"Maaf?" ulang Nayla.


"Iya aku minta maaf buat masalah yang aku telat ke cafe buat nemuin kamu".


Nayla paham, ternyata Dafa mau membahas masalah ini.


"Terus--" ,ucap Nayla.


"Waktu itu aku ada urusan, ak--".


"Urusan dihotel sama perempuan gitu maksud kamu" ,Nayla langsung menyela ucapan Dafa.


Dafa terkejut ,"kok kamu tau".


"Maksudnya kok kamu tau itu apa!?".


"Itu-",Dafa menggantung kan ucapannya.


Nayla langsung membuka ponselnya dan memperlihatkan foto yang ia terima. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat.


Dafa menegang ditempatnya," i-itu salah paham".


"Salah paham?".


"Iya salah paham, sekarang kamu diem. Aku jelasin ya".


Nomor tak dikenal itu terus saja menghubungi Dafa, akhirnya dengan sangat terpaksa ia menerimanya.


"Hallo".


"Hallo Dafa,gue Risa. Tolongin gue. Gue lagi dalam bahaya. Tolong bantu gue keluar dari sini. Cepat datang ke hotel xx,kamar no 25",ucap Risa dengan terisak.


Dafa langsung merubah raut wajah nya",oke tenang dulu, gue segera nyusul lo kesana".


Dafa langsung mematikan sambungan telefonnya, ia memacu kecepatan mobilnya diatas rata rata.


Setelah sampai disana, Dafa melihat bangunan hotel didepan nya, 'sepi ' kata itulah yang menggambarkan suasana disana,tanpa curiga ia langsung berlari masuk dan berlari mencari kamar nomor 25. Saat memasuki ruangan pun sepi. tidak terlihat resepsionis atau pengunjung lainya. Hotel ini seperti sudah tidak terawat.


Setelah menemukan apa yang ia cari, ia langsung mencoba membuka pintunya. Anehnya kenapa pintunya tidak dikunci, tapi Dafa cuek, ia langsung masuk dan mendapati Risa sedang menangis terisak duduk bersandar dengan penampilan yang sangat berantakan.


Akhirnya Dafa langsung duduk didepan nya dan secara reflek langsung membuka kemejanya untuk dipakai Risa, karena pakaiannya sudah tak layak.


Setelahnya ia langsung membawa Risa pergi keluar dari hotel tersebut. Lagipula Dafa masih memakai kaos polos didalamnya.


Dafa mengantarkan Risa ke apartemen milik Risa.


Flashback off.


Nayla melongo setelah mendengar cerita Dafa.


"Jadi gitu,katanya dia hampir dilecehkan oleh seseorang tak dikenal", ucap Dafa mengakhiri ceritanya.


"Sebentar..... sebentar... pasti ini cuma jebakan" ,ujar Nayla.


"Jebakan?".


"Iya jebakan,dari yang aku denger cerita kamu. Apa kamu ngga ngerasa aneh?, waktu kamu masuk pintunya gak kekunci,terus kalau dia ngerasa hampir dilecehin kenapa ngga lapor polisi aja. Harusnya mikir, pintu ngga dikunci ya harusnya langsung pergi kabur terus lapor polisi terdekat atau apa kek. malah ngedekem disana. emang dia ngga takut penjahat itu dateng lagi atau apa".


"Ya awalnya curiga si".


"Bodoh banget emang kamu. Ini pasti akal akalan si Risa itu. Udah tau dalam bahaya terus pintunya gak ke kunci ,ngapain dia gak langsung lari keluar.Malah di dalam kamar terus" ,ujar Nayla frustrasi, bisa bisanya Dafa mudah sekali dibohongi.


"Sebentar, ada yang janggal. lagi. Terus siapa yang fotoin kalian berdua terus kirim ke aku kan ,ini bener bener cuma akal akalan si Risa doang".


"Sialan" ,umpat Dafa.


Nayla memicingkan matanya,"kamu masih suka ya sama Risa",tuduhnya.


"Hah, engga ya. Aku udah gak ada rasa apa apa sama dia".


"Buktinya dibela belain datang nolongin dia dan malah ninggalin aku dicafe tuh".


"Ya kan sebagai manusia harus tolong menolong ".


Nayla hanya diam.


"Beneran deh aku udah gak ada rasa apapun sama Risa, aku udah punya kamu, aku sayang ya sama kamu,cinta ya sama kamu".


"Maaf" ,ucap Dafa lagi.


"Iya" ,hanya kata itulah yang Nayla ucapkan .


"Tapi jangan diulangin lagi, udahlah gak usah berurusan lagi sama si Risa itu.Awas aja kalau ketahuan, aku gak bakal mau ketemu kamu lagi. Sebenarnya aku pengen marah tapi ya udah lah mau gimana lagi, kamu ini kenapa jadi gampang banget dibohongin si" .


"Jadi kamu udah maafin aku kan?".


Nayla mengangguk saja, Dafa pun langsung menerjang Nayla dengan pelukan yang erat. Ia bahagia ,akhirnya kesalahpahaman ini telah selesai. Ia tinggal fokus mencari siapa pelaku tabrak lari yang sampai saat ini belum ditemukan, ternyata orang tersebut pandai bersembunyi.


"Udah sore pulang sana" ,ucap Nayla setelah melepaskan pelukan nya.


"Nanti lah, masih kangen juga".


"Pulang!, kamu masih sakit udah pergi pergi aja" ,tegasnya.


"Iyaiya deh aku pulang,anterin ke depan hayuk",pasrahnya.


Mereka berdua berjalan kedepan dengan beriringan.


"Bye sayang" ,pamit Dafa dari dalam mobil.


"Bye" jawab Nayla sembari melambaikan tangannya.


Ia langsung kembali masuk kedalam rumah setelah Dafa pergi dari pelataran rumahnya.