
Sudah dua hari Nayla dirawat dirumah sakit bersama bayi nya. Dan sekarang ia sudah di perbolehkan pulang ke rumah.
Dafa saat ini sedang membereskan beberapa barang keperluannya, sedangkan Nayla, ia sedang menggendong baby El.
"Udah?" ,tanya Nayla saat melihat Dafa sudah menutup resleting tasnya.
"Udah, ayo pulang" ,ajak Dafa. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya, sedangkan tangan satunya menenteng tas.
Mereka berdua keluar dari rumah sakit dan menuju parkiran.
"Ayo masuk sayang, kasian El kepanasan", ucap Dafa sembari membukakan pintu mobil untuk Nayla.
Setelah memastikan Nayla duduk barulah ia memutari depan mobil dan masuk duduk dibalik kemudi, ia meletakan tasnya di jok belakang terlebih dahulu.
"Kamu udah ngabarin mama sama papa kan?", tanya Nayla. Ia menenangkan El yang sedikit terusik tidurnya.
"Udah sayang", jawab Dafa sembari terus fokus mengemudi.
Selama perjalanan akhirnya mereka berdua hanya diam,Nayla malah sampai tertidur sembari menggendong El yang sama sama sedang tidur.
Hal itu tak luput dari pandangan Dafa, ia terkekeh kecil melihat pemandangan didepannya ini. Ia mengusap pipi istri dan anaknya bergantian dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya tetap menyetir.
Bahkan saat Dafa mengusapnya, mereka berdua tak ter usik sedikitpun.
Mungkin Nayla lelah, setiap tengah malam ia bangun karena tangisan El. Dan dengan setia Dafa juga menemaninya.
Begitu pula dengan El, siang siang begini ia tidur,sedangkan nanti tengah malam malah mengajak orang tuanya untuk begadang.
Mobil yang ditumpangi mereka berhenti sejenak saat lampu merah menyala,di saat seperti ini ,Dafa mengambil ponselnya untuk memotret istri dan anaknya yang sedang pulas tertidur. Ia tidak mau kehilangan moment seperti ini .
Dafa tersentak kaget saat kendaraan dibelakangnya membunyikan klaksonnya, ternyata lampu telah berubah menjadi hijau.
Saking asiknya memandangi istri dan anaknya, ia sampai tak sadar. Dafa lantas menaruh ponsel nya pada saku dan kembali menjalankan mobilnya.
Dafa membelokan mobilnya saat sampai dirumahnya, ia langsung memarkirkannya dan bergegas turun.
Ia membuka pintu mobil untuk Nayla, tapi yang dibukakan masih nyenyak tertidur. Dafa akhirnya membangunkan Nayla dengan menepuk-nepuk pelan pipinya.
"Sayang" ,panggil Dafa sembari terus menepuk pipinya.
Nayla mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya.
"Loh udah sampai?" ,tanya Nayla saat pandangannya melihat ke sekelilingnya.
"Udah, yuk turun", ajak Dafa, ia mengulurkan tangannya dan disambut oleh Nayla. Setelah Nayla keluar,ia tak lupa mengambil tas yang berada di jok belakang.
Seperti biasa Dafa langsung melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya.
Mereka bertiga langsung masuk kedalam. Baru saja membuka pintu. Nayla dibuat terkejut.
"Selamat Datang baby El dan Nayla", ucap kedua orang tuanya,mertuanya dan sahabat sahabatnya dengan kompak.
Nayla hanya mampu diam ditempat. Ia tak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini.
"Ayo sayang masuk, jangan didepan pintu terus", ajak Dafa.
Akhirnya mereka berdua masuk dan langsung duduk di sofa. Bahkan rumahnya sudah dihias sedemikian rupa. Indah, kata itulah yang menggambarkan rumah nya saat ini.
"Sini sini baby El biar mama yang gendong" ,ujar Fara.
"Eh biar sama oma Winda aja ya El". Mereka berdua selalu seperti itu, selalu berebut cucunya. Dirumah sakit waktu itu pun sama.
"Biar aku dulu jeng", ucap Fara pada Winda.
"Aku dulu lah".
"Stop!", teriak para suami mereka bebarengan. Sedangkan anak muda di sana hanya terkekeh geli melihatnya.
"Makanya bikin satu lagi Daf, biar gak rebutan" ,celetuk Brian.
"Gampang itu" ,celetuk Dafa enteng.
Nayla langsung mencubit perut Dafa.
"Eh kok dicubit si" ,ucap Dafa sembari mengelus bekas cubitan manja istrinya.
"Kalau ngomong itu ya,baby El aja belum ada satu minggu. Udah mikir anak kedua. Dikira lahiran itu gampang apa. Sana kamu yang hamil terus lahiran sendiri", Nayla mendengus kesal.
Sedangkan semua orang di sana langsung tertawa melihat tingkah Dafa dan Nayla.
"Iyaa maaf, kan maksudnya nanti kalau El udah besar",Dafa mencoba untuk merayu.
Nayla hanya meliriknya sekilas, ia langsung menoleh pada El karena sepertinya El terusik dalam tidurnya.
Tangisan El pun pecah, Nayla akhirnya bangkit dan mencoba menenangkan.
"Dibawa kamar aja Nay", ujar Raka.
"Iya siapa tau El haus" sahut Fara.
Nayla lantas pamit untuk pergi ke kamar sebentar.
Nayla menidurkan El di kasur setelah memberinya asi. Ia juga ikut berbaring disebelah kiri El.
Ceklek
Nayla menoleh,pintu dibuka oleh Dafa, ia masuk kedalam dan menutup pintunya kembali dengan pelan.
Dafa mendekat kearah Nayla.
"Loh kok kamu masuk, emang udah pada pulang?", tanya Nayla.
"Udah" ,singkatnya, Dafa langsung berbaring disebelah kanan El. Jadi sekarang El diapit oleh orang tuanya.
"Aduh, aku jadi gak enak,mereka udah nyiapin kejutan malah aku tinggal gini".
"Engga papa sayang, mereka ngertiin kok", ujar Dafa dengan mata yang terpejam.
Tak berselang lama, Dafa pun ikut tertidur dengan nyenyak di samping El yang sama sedang tidur.
Sedangkan Nayla,ia malah tidak bisa memejamkan matanya, akhirnya ia bangkit. Namun sebelumnya ia menaruh guling di samping kiri dan kanan El, meskipun ada Dafa disebelah kanan, tapi tetap aja ia takut nanti Dafa kelupaan malah tidurnya mengenai anaknya sendiri.
Nayla berjalan membuka pintu dengan perlahan, ia berjalan kearah dapur.
Saat sampai di sana ternyata Fara mamanya sedang membuatkan makanan. Nayla kira orang tuanya juga sudah pulang.
Ternyata orang tua serta mertuanya masih disini, yang pulang hanya sahabatnya saja, karena anak Neta juga sudah mulai rewel.
"Loh mama" ,kagetnya.
"Eh Nayla, El udah bobo ya?", tanya Fara.
"Udah ma" ,jawabnya.
"Mami Winda kemana?", tanya Nayla.
"Lagi ketoilet tadi", balas Fara.
"Nayla,mami kira kamu tidur" ,sahut Winda.
" Engga bisa merem mi, jadi cuma Dafa sama El yang tidur".
"Ya udah sekarang bantu bantu masak aja. Kalau kamu ngga capek. Tapi kalau capek,engga usah ,kamu istirahat aja", sahut Fara.
"Aku ikut bantuin aja deh ma. Lagian engga ngapa ngapain juga,dibawa tidur juga ngga bisa merem".
Mereka bertiga akhirnya memasak bersama, sedangkan suami suaminya sedang ada di gazebo belakang sedang bermain catur.