
Sore harinya, Dafa bangun dari tidur nya,ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata ia sudah tidak mendapati Nayla tak ada disamping nya. Ia langsung panik tentunya.
"Nay", teriaknya.
"Nayla!".
"Kenapa si Daf" ,itu bukan suara yang ia cari, tapi itu adalah suara mama nya sendiri. Bagaimana Winda tidak mendengar, suara teriakan anaknya itu bahkan sampai lantai bawah.
Karena panik, akhirnya Winda menyusul.
"Nayla mana?" ,tanyanya.
"Oh, dia pulang lah, kan udah sore".
"Kok gak pamitan sama Dafa".
"Kamu kan tidur, mana tega bangunin kamu."
Dafa hanya menghela nafasnya,ia kira Nayla benar benar meninggalkan nya.
"Mau kemana?", tanya Winda setelah melihat Dafa bangkit dari tidurannya.
"Mau mandi,badan Dafa rasanya lengket banget", ucapnya sembari melangkah kedalam kamar mandi.
15 menit Dafa sudah selesai mandi, ia keluar sudah tidak mendapati mamanya didalam kamar, mungkin keluar pikir nya.
Ia langsung mengambil kaos oblong warna putih dan celana pendek selutut. Sederhana tapi Dafa tetap terlihat tampan,meskipun masih sedikit terlihat pucat diwajahnya.
Dafa turun kebawah untuk menemui mamanya. Ia melihat mama nya sedang santai menonton acara drama yang sedang ditayangkan ditelevisi.
"Ma" ,panggilnya setelah duduk di sebelahnya.
"Kenapa?", Winda menjawab tapi tatapan matanya tetap fokus kearah televisi.
"Gak papa si". Dafa lupa ,apa yang akan dia tanyakan, jadi Dafa hanya menjawab seperti itu.
"Gak jelas deh". Mereka berdua akhirnya malah asik menonton. Sebenarnya Dafa tak berminat sama sekali dengan drama menye menye didepannya.
"Mau kemana?" ,tanya Winda setelah menyadari Dafa beranjak pergi.
"Mau kerumah pacar, dirumah bosen".
"Masih sakit udah pergi pergi aja. Ngga boleh!,dirumah aja sekarang",tolaknya.
"Apapun sakitnya, Nayla obatnya ma", teriaknya.
Winda hanya menggelengkan kepalanya pasrah,anaknya kalau sudah jadi budak cinta ya seperti itu. Tapi ia juga sedikit merasa bersyukur karena Dafa sudah kembali seperti semula, tidak ada lagi Dafa yang sering melamun dan berbicara sendiri
Berbeda dengan Nayla,sore hari seperti ini, ia malah sudah nangkring didalam cafe. Sendirian pula.
Sedari tadi, ia hanya mengaduk ngaduk minumannya. Pikirannya hanya tertuju, siapa wanita yang ada di foto bersama Dafa. Dan siapa pula yang mengirimkan foto padanya.
Makin dipikirkan makin ia tambah pusing,apa lebih baik ia tanyakan langsung pada Dafa, tapi mungkin setelah Dafa sembuh nanti.
"Lama lama gue stress" ,monolognya.
Mungkin lebih baik ia pulang dan beristirahat dirumah. Baru saja bangkit,tiba tiba bajunya basah terkena tumpahan jus dari seseorang.
Nayla geram, ia lantas mendongak untuk melihat si pelaku. Betapa terkejut nya, "lo" ,tunjuk Nayla.
"Ups sorry, gue sengaja" ,ucapnya tak bersalah.
Kalian bertanya siapa dia?. Tentu saja perempuan yang selalu mencari gara gara dengan Nayla.
"Maksud-".
"Dek" . Ucapan Nayla terpotong karena kedatangan seorang pemuda dengan menggunakan kaca mata hitam, tapi Nayla seperti pernah melihatnya. Tapi dimana?.
Pemuda tersebut menegang setelah melihat Nayla, tapi ia langsung menyembunyikan nya.
"Ngapain, ayo pulang" ,ajaknya.
"Bentar kak, gue masih ada urusan sama cewe ini", ucapnya sembari menunjuk Nayla.
Pemuda tersebut langsung panik, ia tak mau Nayla kenapa kenapa lagi, melihat Nayla sudah sembuh saja ia merasa sangat bersyukur, lantas ia langsung menarik tangan perempuan yang dipanggil dek olehnya.
Namun perempuan tersebut terus memberontak. Tapi tenaga pemuda tersebut lebih besar, alhasil ia bisa membawa perempuan itu untuk segera keluar. Sedangkan Nayla?ia bahkan masih terdiam, ia tak tau mengapa lidahnya terasa kelu untuk berbicara.
Nayla tersentak saat ponsel nya berbunyi. Ternyata Fara yang menghubungi nya.
"Hallo ma".
"Hallo sayang,cepet pulang ya. Ada tamu nih".
"Tamu siap-".
"Cepet gak pake lama".
"Iya iya ratu".
Nayla langsung mematikan sambungan telefonnya.