Nayla's Love Story

Nayla's Love Story
El Berulah•



5 tahun kemudian


Canda, tawa, sedih dan amarah sudah dilewati pasangan Nayla dan Dafa. Hubungan mereka sekarang kian hari kian romantis meskipun terkadang terjadi percekcokan antara keduanya karena masalah sepele,namun Nayla menganggap masalah tersebut sebagai pelengkap kebahagiaan di keluarganya. Ia jadi tak akan merasa hidupnya akan monoton.


Sekarang Nayla sudah membuka usaha butiknya sendiri,apa yang Nayla impikan akhirnya bisa terwujud ia juga sangat berterima kasih pada suaminya karena Dafa benar benar menepati janjinya kalau anak mereka sudah besar Nayla diperbolehkan untuk bekerja, asalkan ia bisa membagi waktunya antara pekerjaan dengan keluarganya yang selalu menjadi prioritas utamanya.


Sekarang umur El sudah genap 5 tahun, anak itu sedang masa aktif-aktifnya. Semakin tumbuh besar ,Nayla paham bukan hanya wajah El yang mirip ayahnya tetapi juga sifat dan kelakuannya,Nayla memang benar-benar kebagian mengandung saja.


Terkadang Nayla dibuat kerepotan, namun ia harus tetap sabar menghadapinya. Ia benar-benar menikmati masa-masa menjadi seorang ibu.


Mengenai sahabat sahabatnya, sekarang Neta akan mempunyai anak kedua. Dan mengenai Nadia,ia sudah menikah dengan Gavin lima bulan lalu, entah apa yang ada dipikiran Nadia bisa kembali ke pelukan mantannya. Hubungannya dengan Rafa ternyata tidak bertahan lama, entah apa yang menyebabkan hubungan mereka kandas ,Nayla tak tahu karena mungkin itu privasi Nadia. Nayla tak mau ikut campur. Jika memang Nadia ingin bercerita padanya, maka ia akan senang hati untuk mendengarnya. Dan sekarang Nadia juga sedang mengandung anak pertama mereka. Melihat sahabat-sahabat nya sedang mengandung,Nayla sebenarnya ingin juga merasakannya lagi. Ia ingin sekali memiliki anak perempuan,biar makin lengkap keluarganya,namun sepertinya ia dan Dafa harus lebih berusaha lagi.


Pagi ini Nayla sudah bangun terlebih dahulu dari Suaminya, karena semalam suaminya lembur mengerjakan pekerjaan kantornya. Ya, sekarang Dafa harus bisa membagi antara profesinya sebagai seorang dokter dengan pekerjaan mengurus perusahaan ayahnya. Karena Dafa sadar ayahnya sudah tak lagi muda jadi Dafa yang mengambil alih pekerjaannya.


Sebenarnya Nayla sibuk mengurusi butik nya juga , tapi ia tak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan seorang ibu.


Seperti pagi ini, ia sudah selesai beberes rumahnya dan memasak. Sebenarnya ada asisten rumah tangga, tapi mereka semua sedang libur.


Baru saja Nayla duduk di sofa sembari mengelap keringat nya,ia sudah mendengar teriakan suaminya.


"Sayang" ,teriaknya.


"Aku dibawah" ,sahut Nayla. Namun Nayla tak mendengar sahutan lagi ,mungkin Dafa sedang turun kebawah.


Benar saja ,baru saja Nayla memejamkan matanya sembari menyender pada sofa, Dafa sudah duduk disebelahnya. Nayla hanya meliriknya sekilas.


"Kamu abis ngapain?", tanya Dafa.


"Biasa beberes rumah, masak terus ke kebun belakang ".


"Aku kan bilang kamu jangan kecapean, aku gak mau kamu sakit" ,ucap Dafa lembut sembari mengelus rambut istrinya dengan sayang.


"Aku gak papa Daf, ini semua kan udah tugas aku", Nayla langsung menegakan tubuhnya menghadap Dafa. Ia tersenyum. Dafa hanya menghela nafasnya, istrinya ini memang keras kepala, lebih baik ia mengalah saja daripada harus berdebat.


"Maafin aku ya, lain kali kalau aku masih tidur bangunin aja,tugas rumah itu bukan cuma tugas istri tapi tugas suami juga. Kita harus saling bahu-membahu".


"Aku mana tega,kamu pasti capek banget apalagi pegang 2 kerjaan sekaligus,selagi aku bisa kerjain sendiri aku engga papa kok,aku juga fine-fine aja",ucap Nayla.


"Tapi ingat ya kalau capek istirahat dulu, kamu biasanya capek tetep aja dilanjutin dan aku gak suka itu sayang". Nayla hanya mengangguk.


"Aku seneng kamu perhatian sama aku" ,ucap Nayla.


"Makasih ya kamu udah mau jadi istri aku, udah jadi ibu yang baik buat El. Semoga kedepannya kita terus sama sama. Mungkin kamu juga udah tahu, tapi aku tetep mau bilang aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu"


Nayla hanya tersenyum, " iya aku tau kok" . Tiba tiba Dafa mendekatkan wajahnya pada Nayla, Nayla yang melihatnya hanya memejamkan matanya, tinggal beberapa senti lagi-.


"Ayah,bunda", teriak bocah 5 tahun berlari memasuki rumah dan itu sukses mengacaukan kegiatan Dafa dan Nayla. Dafa berdecak sebal.


"Iya sayang bunda didepan tv" ,sahut Nayla. Ia menoleh ke arah Dafa yang sedang memasang wajah masam.


"Bunda ,bunda tau gak", ucap El semangat.


"Bunda gak tau, emang kenapa sayang?" .


"Coba ayah sama bunda tebak, El bawa apa ?" ,tanyanya ia menyembunyikan sesuatu dibelakang tubuhnya.


"Emang bawa apa?" ,sahut Dafa.


"Sekarang El punya peliharaan baru yah, ini dia" ,ucap El sembari menunjukkan peliharaan barunya.


Dafa yang melihatnya langsung membulatkan kedua matanya, "ngapain kamu pelihara kecebong El!".


Astaga anak siapa ini, Dafa menepuk pelan jidatnya. Apa ini akibat dulu saat Nayla mengandung El, ia ngidam ingin menangkap kecebong. Ia tak habis pikir.


Nayla yang melihat interaksi antara anak dan ayahnya hanya tertawa geli.


"Gini ya El, mending sekarang El buang kecebong nya ,nanti ayah beliin peliharaan yang baru,yang lebih lucu kucing atau ikan misalnya", Dafa mencoba membujuk anaknya.


" Gak mau ayah, ini lucu, El kan udah bilang" ,El tetap ngotot. Dafa melirik Nayla mencoba meminta bantuan, tapi Nayla hanya mengedikan bahunya acuh.


"Kucing lebih lucu El".


"Kecebong ayah",


"Ikan aja,kan sama sama hidup di air tuh",


"Kecebong"


"Terserah El aja lah" . Ia sudah pasrah,Dafa lantas berdiri menuju kamarnya. El yang melihat ayahnya pergi langsung berkaca kaca.


"Ayah marah sama El ya bun?", tanya El pada bunda nya.


"Nanti juga sembuh sendiri, atau enggak coba El bujuk ayah sana, El gak mau jadi anak durhaka kan, makanya El harus nurut apa kata orang tua" . Dengan lembut Nayla memberi pengertian pada anaknya.


Dengan mata yang masih berkaca kaca El langsung berlari menyusul Dafa dikamar. Ia meletakkan kecebong nya di atas meja begitu saja.


"Ayah", teriak El setelah masuk kedalam kamar ayahnya.


"Ayah dimana ,,,,, maafin El, El mohon ayah jangan pergi".


"Ay-".


Ceklek.


"Hey kenapa nangis sayang", Dafa kaget setelah membuka pintu kamar mandi. Ia langsung mendekat dan jongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan El.


"Ayah marah sama El ya? jadi ayah tadi pergi , El minta maaf. El bakal nurutin apa kata ayah".


"Ayah gak marah sama kamu kok, tadi ayah udah kebelet banget makanya langsung pergi ke kamar mandi". El yang mendengar jawaban ayahnya langsung menghapus jejak air matanya.


"Beneran" ,ucap El dengan mata berbinar. Dafa hanya mengangguk.


"Syukur deh gak marah berarti El boleh pelihara kecebong ini?" .


"Eh apaan, El kan udah janji mau nurutin ayah".


Baru saja berbaikan, El sudah berulah lagi.


"Ah ayah salah denger kali", El berusaha mengelak.


"Mana mungkin ayah salah denger".


"El gak bilang gitu tuh".


"Ya ampun" , Dafa meraup wajahnya frustasi.


Nayla yang mengintip dari depan pintu hanya menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan kelakuan anak dan ayahnya . Tapi Nayla cukup merasa terhibur akan tingkah mereka berdua.


"Terimakasih ya allah engkau telah menghadirkan mereka di hidupku, aku sangat bahagia dengan hadirnya mereka.Semoga kami semua diberi kesehatan selalu, semoga aku bisa terus bersama mereka. Mereka adalah sumber kebahagiaan ku. Terimakasih pula dulu engkau pernah mengambil separuh kebahagiaan ku ,namun engkau menggantikan nya dengan yang lebih baik", Nayla berdoa dalam hati.