
Dengan sangat tergesa gesa Nayla berlari menuju kelasnya. Setelah sampai didepan pintu, Nayla berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya, ia mengintip sebentar kedalam kelasnya. Ternyata dosennya sudah ada didalam.
" Kenapa setiap pelajaran nya pak Doni gue sial mulu . Waktu itu ketiduran sekarang telat," dumel Nayla.
"Masuk gak ya atau bolos aja?, " ucap Nayla bimbang.
"Mau bolos tapi takut ketinggalan matkulnya".
"Ah gimana si,nih mulut pengin nya ngomong bolos,tapi kaki pengennya jalan masuk kelas".
Pada akhirnya Nayla memasuki kelas. Baru saja Nayla membuka pintunya. Ia langsung mendapati tatapan tajam dari pak Doni,dan jangan lupakan juga teman temannya ikut serta memandang ke arahnya . Nayla hanya meringis malu .
"Maaf pak saya terlambat tadi ada insiden dijalan pas saya mau ke kampus. Hampir saja saya nabr--".
"KELUAR SEKARANG NAYLA," belum sempat Nayla menyelesaikan ucapanan nya, ia sudah mendapatkan bentakan dari pak Doni.
"Please pak biarin saya masuk, " ucap Nayla dengan memohon.
"Sekali tidak ya tidak Nayla".
"Pakkk," rengek Nayla.
"Kamu sebenarnya niat untuk kuliah gak si. Setiap mata kuliah saya, kamu selalu berbuat ulah".
"Astagfirullah bapak ,ya jelas saya niat kuliah la, kalau gak niat mana mungkin, saya ada--".
"Sudah diam kamu, telinga saya panas mendengar alasan alasan kamu, begini saja saya punya pilihan. Kamu pilih keluar atau tetap masuk tapi kamu harus salin tugas yang saya berikan 10 lembar tapi dengan tulisan tangan ,"pak Doni mencoba memberi penawaran pada Nayla.
Nayla melotot tak percaya atas tawaran yang di berikan pak doni. 10 lembar kalau tulisannya sedikit si gak papa, lah ini berlembar lembar. Dengan berat hati Nayla akhirya memilih keluar saja daripada harus menyalin 10 lembar. Apa kabar nanti dengan tangannya. Bisa bisa keriting mungkin.
"Ya udah deh pak saya keluar aja," dengan lesu Nayla menjawab.
" Eits gak semudah itu Nayla. Enak saja kamu keluar dengan tangan kosong," ucapan pak Doni langsung menghentikan langkah Nayla. Akhir nya Nayla membalikkan badannya kembali menghadap pak Doni.
"Kamu tetap saya kasih tugas nyalin tapi cukup 4 lembar saja. Kalau bisa nanti dikumpulkan diruangan saya".
"Loh kok gitu si pak," protes Nayla.
"Kamu membantah, saya akan tambahin lagi hukumannya".
"Eh jangan pak. Iya saya kerjain sekarang".
"Bagus deh kalau gitu,terus ngapain masih disini ,sana cepat kerjain," balas pak Doni.
"Saya keluar pak. Permisi," pamit Nayla. Ia segera melangkahkan kakinya menuju kantin. Kantin memang tempat yang pas sebagai pelarian Nayla jika sedang menerima hukuman.
Sesampainya dikantin Nayla segera mencari tempat duduk yang nyaman. Pilihannya jatuh di kursi pojok kantin. Ia segera mendudukan bokongnya disana.
"Ini semua gara gara Dafa. Kalau aja tadi pagi gue gak ketemu dia ,gak mungkin gue sial kena hukuman pak Doni," gerutu Nayla sembari menyalin tugas nya.
Terlalu fokus mengerjakan tugasnya Nayla sampai tak sadar kantin yang semula sepi sekarang sudah ramai. Ternyata sekarang memang sudah waktunya istirahat.
"NAYLA" . Nayla yang sedang menulis tak sengaja menyoret tulisannya sendiri akibat teriakan seseorang. Ia jadi geram sendiri ,Nadia itu memang suaranya sedikit nyaring. Nayla hanya menatapnya datar kearahnya.
"Nay lo tau gak," ucap Nadia setelah duduk didepan Nayla dengan nafas terengah akibat berlari. Karena memang jarak dari fakultas nya lumayan jauh .
"Gak," cuek Nayla dengan tatapannya masih fokus kepada tulisan tulisan didepannya.
"Ih kok responnya gitu si," rengek Nadia.
"Lah emang gue nyatanya gak tau,lo aja belum bilang apa-apa. Gue bukan cenayang".
"Ya udah gue kasih tau nih," ucap Nadia antusias.
"Tadi ada anak baru di fakultas gue. Ya ampun anaknya ganteng banget. Pokoknya pacar idaman banget," ujar Nadia dengan mata yang berbinar.
Nayla hanya diam saja.
"Nay kok lo diem aja gitu," ucap Nadia heran.
"Ya terus gue harus guling guling gitu atau teriak teriak 'ih ada cogan, aduh gantengnya' . Itu bukan gue banget Na".
"Halah hati sama mata lo itu emang udah ketutup sama kegantengan pacar lo. Makanya lo bilang gitu. Eh tapi gue penasaran sama muka pacar lo itu,tunjukin kali Nay. Pelit amat, sama sahabat sendiri juga".
Nayla yang mendengar kata pacar dari mulut Nadia langsung teringat dengan Brian. Sudah mulai lupa ,Nadia mengingatkannya kembali. Memang bukan salah Nadia si, ini semua memang salah Nayla yang belum bisa jujur padanya.
"Diem deh Na. Gue lagi ngerjain tugas. Jangan bahas itu dulu, " omel Nayla. Sungguh moodnya hari ini benar benar sangat buruk.
"Dikantin itu buat makan Nay bukan buat nugas".
"Gue dihukum gara gara telat masuk," jawab Nayla sekenanya .
"Lah kok bisa. Ngga biasanya lo gitu".
"Ceritanya panjang semua ini gara gara cowo rese".
"Hai... Nayla," sapa seseorang disamping nya langsung menghentikan pembicaraan Nayla dan Nadia. Nayla segera menolehkan kepalanya melihat siapa yang menyapanya. Ternyata Dafa.
"Ngapain lo?," ketus Nayla.
" Santai dong gue kan cuma nyapa," ujar Dafa sembari duduk disebelah Nayla.
"Minggir gak lo. Masih banyak tempat duduk ngapain lo duduk disini," usir Nayla.
"Pengennya duduk deket lo" . Nayla hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Nay," panggil Nadia.
Nayla bahkan sampai lupa bahwa disini masih ada Nadia. Ia pun menjawab dengan deheman
"Coba lo cubit gue" . Mendengar ucapan Nadia, Nayla hanya mengerutkan kening nya . Tak ayal Nayla tetap menuruti kemauan Nadia untuk mencubitnya
"Aww sakit tahu. Jadi ini beneran nyata?, gue kira mimpi," ringis Nadia sembari mengelus bekas cubitan Nayla yang sakitnya bukan main.
"Kenapa lo?," tanya Nayla heran.
"Yang duduk disebelah lo itu ,orang yang gue ceritain sama lo. Salah satu cogan di fakultas gue Nay. Dan sekarang dia duduk didepan gue. Oh my god" ucap Nadia dengan tatapan yang mengarah kepada Dafa dengan berbinar.
"Wah ketahuan kan ternyata lo ngomongin gue dibelakang ya Nay," ucap Dafa kepada Nayla.
"Gak guna ngomongin lo, buang buang waktu," ucap Nayla.
"Iya deh gue percaya. Ngomong ngomong lo rajin banget dikantin nugas," ucap Dafa.
"Semua gara gara lo. Gue jadi telat masuk kelas akhirnya kena hukuman," ketus Nayla sembari beranjak untuk mengumpulkan tugasnya karena sudah selesai.
"Eh mau kemana lo?," tanya Dafa setengah berteriak karena Nayla sudah perlahan menjauh.
"Mau ngumpulin tugas lah," sahut Nayla.
"Eh gue ngikut Nay" . Dafa segera bangkit dan langsung berlari mengejar Nayla dan meninggalkan Nadia yang masih setia duduk sendiri dengan mata yang berbinar kagum menatap Dafa. Seakan tersadar, Nadia langsung mendengus sebal .
"Tuh han Nayla itu hobinya ninggalin gue," ucap Nadia mengerucutkan bibirnya.