Nayla's Love Story

Nayla's Love Story
Undangan pernikahan •



Sudah cukup lama mereka berdua berdiam di taman,cuaca pun sedikit panas, namun belum ada yang berniat membuka suaranya.


Yap mereka berdua yang dimaksud adalah Nayla dan Dafa. Jadi selama ini yang meneror Nayla dengan nomor tak dikenalnya ternyata seorang Dafa Melviano Mahardika.


"Nay," panggil Dafa memecahkan keheningan .


"Paan," ketus Nayla, melihat Dafa rasanya ia kesal.


"Lo marah sama gue ya".


"Ya jelas marah. Gimana si lo," sewot Nayla.


"Ah..elah,gue minta maaf . Waktu itu pikiran gue lagi kalut. Makanya langsung ninggalin lo".


"Halah ".


Masih ingatkan kejadian dimana Nayla ditinggal begitu saja ditempat makan waktu itu.


Dafa menghela nafasnya, " sumpah Nay waktu itu gue gak sengaja ninggalin lo di sana sendiri ".


Nayla hanya meliriknya sekilas dan langsung mengalihkan tatapannya.


"Aduh kalau lagi ngambek ternyata makin cantik ya," godanya .


"Gini deh gue bayarin lo makan apapun yang lo mau di kantin kampus nanti gimana," Dafa masih berusaha membujuk Nayla. Memang benar adanya waktu itu dia memang tak sengaja meninggalkan Nayla sendirian di sana.


"Lo mau nyogok gue?".


"Ahh...elah please deh Nay. Gitu aja marah, gue kan udah minta maaf sama lo," ucap Dafa dengan pasrah.


'Kasian juga ni anak lama lama'.


"Ya udah gue maafin. Tapi beneran bayarin di kantin nanti tetap jadi," putus Nayla,sok jual mahal dulu. Kalau urusan gratisan Nayla maju paling depan.


"Apapun buat lo deh Nay," balas Dafa sumringah.


"ya udah gue mau cabut duluan. Bentar lagi ada kelas,"


"ngikut dong, gue juga ada kelas,"


...***...


Pembelajaran bu Cahaya pun telah selesai ,saatnya Nayla pergi ke kantin untuk menagih janji Dafa padanya.


Setelah sampai di kantin, ia segera duduk di kursi dekat pintu masuk . Sembari menunggu Dafa, Nayla hanya memainkan ponselnya saja . Nayla lupa belum mengisi kuotanya, untung saja dibkantin kampusnya ada free wifi.


"Nay". Merasa namanya terpanggil, Nayla segera mendongak melihat kedepannya. Ternyata Neta sahabatnya.


"Eh iya kenapa Net?".


"Nay gue mau bilang makasih banget sama lo," ucap Neta senang. Nayla hanya mengerutkan keningnya. Menyadari kebingungan Nayla, Neta segera menjelaskan.


"Berkat bujukan lo, Brian sekarang udah mau berubah ke gue Nay, dia udah mau berusaha buat nerima dan mencintai gue".


"Syukurlah kalau kaya gitu, gue ikut seneng jadinya, " ucap Nayla dengan senyum tipisnya. Entahlah sekarang Nayla sudah tak merasakan sesak ataupun perasaan lain dihatinya kala Neta menyebut nama Brian . Apakah Nayla memang sudah bisa melupakan Brian dihatinya . Entahlah Nayla tak tahu, secepat itukah?.


"Gue juga mau ngasih kabar gembira ke lo," ucap Neta senang.


"Wah...apa tuh" .


"3 hari lagi gue nikah sama Brian. Ini undangan spesial dari gue buat sahabat tercinta," antusias Neta sembari menyerahkan undangan pernikahannya.


"Ah iya Net," balas Nayla kikuk.


"Ya udah gue pamit mau pulang dulu," pamit Neta.


Selepas kepergian Neta, Nayla hanya memandang undangan didepannya. Secepat itukah, tapi ya sudahlah ini bukan urusannya lagipula ia sudah bisa merelakan Brian untuk Neta. Niat baik emang engga boleh ditunda-tunda kan.


Tepukan di bahunya membuyarkan lamunan Nayla, dan ternyata Dafa pelakunya . Sejak kapan dia disini?, Nayla sampai tak menyadarinya.


" Wah dapet undangan dari siapa tuh," sahut Dafa setelah melihat undangan didepannya.


"Kepo banget si lo Daf," Nayla langsung menyembunyikan undangannya.


"Jujur aja Nay, gue beneran kepo nih," ucap Dafa setelah duduk didepan nayla.


Dengan malas Nayla menjawab ," dari sahabat gue yang mau nikah sama mantan gue. Puas lo!".


"Wah diundang acara nikahan mantan nih," ledek Dafa.


"Diem deh Daf. Cepet pesen makan gue laper".


"Iya-iya bawel" . Dafa langsung beranjak untuk memesan makanan untuk mereka berdua.


Tak berselang lama Dafa kembali dengan membawa makanannya,"nih makanan lo".


"Makasih Daf". Mereka berdua memakan pesanan mereka masing masing dengan diam.


"Eh ngomong- ngomong ya Nay", panggil Dafa disela sela makannya dan dibalas deheman oleh Nayla.


"Bentuk undangan sama warnanya kok mirip sama punya gue dirumah ya," heran Dafa.


"Hah! lo mau nikah juga," kagetnya untung saja tidak sampai tersedak.


"Bukan gue. Lagipula belum ada calonnya. Atau lo yang mau jadi mempelai wanitanya," jawab Dafa dengan menggoda .


"Apaan si lo" . Nayla berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Tapi beneran mirip deh. Tapi yang nikahan sepupu gue".


"Ya namanya juga undangan pasti ada aja yang nyamain lah. Orang di dunia ini aja punya kembaran apalagi ini cuma undangan, " ucap Nayla acuh.


"Iya juga si. Terus rencana lo gimana?, " tanya Dafa.


"Rencana apaan?".


"Rencana bakal dateng di acara nikahan mantan apa engga?".


"Ya bakal dateng lah. Yakali, ini tuh demi sahabat gue bukan mantan gue ya, " sewot Nayla.


"Gimana kalau gue temenin lo dateng. Biar lo gak keliatan jomblo banget gitu. Yakali dateng kenikahan mantan sendirian," Dafa berucap. Sebenarnya ini juga termasuk dalam proses pendekatannya. Entahlah Dafa seperti sudah merasa nyaman didekat Nayla.


Nayla menimang tawaran Dafa dan kemudian menyutujuinya,"Oke deh".


"Kapan acaranya?".


"3 hari lagi,"


"Tapi barengan harinya sama sepupu gue. Tapi ga papa gue temenin lo dulu,engga lama kan?",ucap Dafa santai.


"Ya belum tau juga si gue,lama engga nya".