
Pagi ini Nayla bangun pagi dan bersiap untuk pergi joging bersama Dafa. Itu semua juga atas paksaan Dafa, sebenarnya Nayla malas, hari libur gini penginnya malas malasan dirumah, tapi apalah daya, dasar Dafa si tukang pemaksa.
Lagipula Nayla semalam tak bisa tertidur nyenyak. Omongan tante Winda terus terngiang dipikirannya.
Baru saja Nayla menginjakkan kakinya dibawah, ia sudah melihat Dafa sedang duduk manis sedang bermain catur bersama Raka. Dafa yang menyadari ada seseorang yang menatapnya pun langsung mendongak.
"Eh udah siap Nay?," tanya Dafa.
"Udah," singkat Nayla sembari melangkahkan kakinya mendekati Raka papanya .
"Mau berangkat joging sekarang?".
"Ya udah ayo keburu siang entar panas," balas Nayla.
"Kita pamit dulu pap . Kalau mama nyariin ,bilangin Nayla pergi joging," ujar Nayla sambil menyalami punggung tangan Raka diikuti oleh Dafa.
"Duluan om,maaf ya main caturnya belum selese. Mungkin lain kali lagi".
"Tidak apa apa. Hati hati kalian berdua".
Mereka berdua langsung menuju taman didekat perumahan Nayla. Sebenarnya Dafa mengajak untuk joging ditaman perumahan Neta , taman dimana mereka pertama kali bertemu, tapi Nayla menolak,lagipula tempatnya lumayan jauh.
Sesampainya mereka berdua di taman , mereka langsung memulai lari-lari kecil mengelilingi taman.
Hari libur begini taman sudah ramai kebanyakan memang melakukan kegiatan seperti Nayla yaitu joging ,atau juga ada yang sekedar untuk beli jajan jajan dipinggir jalan, dan kebanyakan pula disini orangnya berpasangan . Untung saja Nayla bersama Dafa, ya setidaknya masih mending .
Baru beberapa putaran Nayla sudah mengeluh capek.
"Ah elah Nay segitu doang masa si," tukas Dafa.
"Diem deh Daf gue cape nih," balas Nayla ngos ngosan.
"Lemah ah. Gue aja masih kuat nih," jawab Dafa sembari lari lari ditempat.
"Ya itu lo, bukan gue" .
" Nayla lemah Nayla lemah," ledek Dafa.
"Dafa!, "geram Nayla.
"Apa sih sayang," ucapnya.
"Dasar nyeb-".
"Loh kalian berdua?, ternyata lagi joging juga, " ucapan seseorang menghentikan perdebatan Dafa dan Nayla.
Nayla dan Dafa kompak menoleh melihat siapa yang mengajaknya berbicara. Ternyata oh ternyata si pengantin baru, siapa lagi kalau bukan Neta dan Brian.
'Astaga ngga ketemu disana, ketemu disini' batin Nayla.
"Ah iya nih biasa mengisi liburan," sahut Dafa.
"Wah gimana kalau kita joging bareng. Seru kayaknya tuh," balas Neta semangat.
"Menurut kamu gimana Bi?," tanya Neta pada Brian
Nayla yang melihat interaksi keduanya hanya terdiam.
"Gimana kalian berdua setuju apa ngga?," tanya Neta lagi
"Gue ngikut Dafa aja deh,"
"Gue ngikut Nayla aja deh," balas Dafa dan Nayla bersamaan.
"Ciye barengan jangan jangan jodoh nih," ucap Neta. Sedari tadi Brian hanya diam, ia akan berbicara jika memang penting.
"Aamiin," balas Dafa semangat . Nayla hanya melotot mendengar respon Dafa, 'kenapa semangat banget, apa iya Dafa suka sama gue?. Ah mikir apa si lo, jangan baper siapa tau sifatnya Dafa emang gitu' Nayla membatin.
"Ya udah sekarang mending mulai joging aja," ajak Brian.
"Duh maap ni brother, pacar gue lagi kecapean jadi kalau lo mau duluan ya gak papa si, " jawab Dafa. Mendengar kata pacar dari mulut Dafa, Nayla baru ingat ia memang berpacaran dengan Dafa tapi pura pura! .
"Nanti aja deh barengan, kalau kalian mau istirahat kita ngikut,ngga papa kan Bi?, "Neta beralih menatap Brian.
"Iya".
"Oh ya udah, gue mau beli minum dulu, lo pada nitip gak" . Brian dan Neta kompak menggelengkan kepalanya pertanda tidak.
"Aku pergi dulu ya sayang, kamu disini aja," ucap Dafa pada Nayla sembari mengacak pelan rambut Nayla dan hanya dibalas anggukan oleh Nayla. Entahlah rasanya Nayla malas mengeluarkan suaranya.
Dafa dengan bergegas meninggalkan mereka bertiga . Selepas kepergian Dafa, mereka bertiga hanya duduk dibangku taman dengan suasana hening, rasanya cukup canggung duduk bertiga dengan mantan dan juga sahabatnya yang tak lain istri mantan Nayla. Duh ngomong apaan dah.
Nayla hanya diam dan akan bersuara jika ada yang mengajaknya berbicara. Lagipula Neta dan Brian sedang asik mesra mesraan.
Mungkin Brian memang sudah bisa mencintai Neta dan sudah bisa melupakan Nayla. Nayla bisa menilai dari tatapan mata Brian pada Neta. Ya semoga saja.
"Nih diminum dulu katanya haus," ucap Dafa tiba tiba. Entahlah Nayla sampai tak sadar Dafa sudah sampai didepannya.
Nayla langsung mengambil minum dari tangan Dafa, dan segera meminumnya lagipula tenggorokan nya sudah kering apalagi setelah melihat adegan mesra antara mantannya dengan sahabatnya.
"Udah ?", tanya Dafa pada Nayla.
"Udah nih," balas Nayla.
"Ya udah siniin botolnya," ujar Dafa sembari mengambil botol minum dari tangan Nayla dan segera meminumnya. Nayla yang melihat aksi Dafa hanya melotot tak percaya ,apalagi Dafa meminumnya ditempat bekas bibirnya Nayla. Itu sama saja ci---. Ah sudahlah.
"Kenapa sayang kok diem si, hem," kata Dafa lembut setelah menghabiskan minumnya.
"Lo kok-".
"Kamu bukan lo," sela Dafa cepat.
"Ah iya kamu kok minum dibotol aku si. Kenapa gak beli sendiri" .
"Ga papa dong punya pacar sendiri juga,satu untuk berdua, " balas Dafa dengan nada yang menggoda.
"Aduh kalau lagi kasmaran itu lupa ys sama orang sekitar ," sindir Neta.
Nayla pun langsung tersadar ternyata masih ada Neta dan Brian disini.