
Setelah melaporkan kasus tersebut dan menunjukkan bukti kepada pihak berwajib. Risa ditangkap diapartemen kediaman nya, namun ia terus mengelak bahwa bukan dia yang menyuruh untuk menabrak Nayla. Tetapi polisi tetap memaksa untuk membawa Risa ke kantor polisi. Berbeda dengan Aldi yang dinyatakan tidak bersalah.
Seperti saat ini,Dafa dan Nayla bersama Raka dan Fara sudah di dalam kantor polisi.
"Bukan gue yang nyuruh nabrak lo" ,Risa terus saja mengelak.
"Lo gak bisa nolak lagi, semua udah jelas terbukti" ,jawab Dafa.
"Bebasin gue Daf, tolong" ,pinta Risa memohon.
"Berani berbuat lo harus berani bertanggung jawab" ,jawab Dafa lagi.
Sedari tadi Nayla bersama kedua orang tuanya hanya diam.
Merasa mendapat penolakan, Risa merasa geram.
"Semua itu gara gara lo", tunjuknya pada Nayla.
"Gara gara lo hadir dikehidupan Dafa, dia jadi berpaling dari gue" ,ucapnya marah.
"Gak usah nyalahin orang lain Sa, semua masalah itu berasal dari lo. Ingat lo itu selingkuh dari gue" ,ujar Dafa.
"Gue masih cinta sama lo", ucap Risa.
"Lo cuma terobsesi" ,Nayla akhirnya ikut berbicara.
"Hahahaha" bukannya menjawab,Risa malah tertawa seperti orang gila.
"Gue cinta sama Dafa", rancaunya.
"Gue cinta Dafa".
Polisi lantas langsung membawa masuk Risa,sedangkan dia selalu merancau tak jelas.
"Tunggu".
Mereka semua kompak menoleh ke arah sumber suara, ternyata berasal dari Aldi. Polisi juga menghentikan aksinya.
"Tolong Nay, cabut laporannya Risa", pinta Aldi memohon.
"Apa maksud lo?" ,tanya Dafa tak terima.
"Lepasin dia,gue mohon".
"Emang dia siapa lo?" tanya Nayla.
"Dia adik gue, lebih tepatnya adik tiri" ,jawab Aldi.
"Adik?" ,Nayla membeo.
"Iya dia adik gue, adik tiri. Bokap gue nikah sama nyokapnya Risa".
"Gue mohon lepasin Risa,gue janji bakal jaga Risa, gue pastiin dia gak berulah lagi. Sehabis gue wisuda, gue sama keluarga gue bakal pindah keluar negeri. Dan untuk mengobati Risa" ,lirih Aldi diakhir kalimatnya.
"Ngobatin?" ,sahut Fara.
"Iya tante, adik saya em maaf kejiwaannya terganggu" ,penjelasan Aldi membuat Dafa dan Nayla tercengang. Pantas saja sedari tadi sikapnya seperti itu, merancau tak jelas ,tertawa tak jelas.
"Gimana pa?" tanya Nayla pada Raka.
"Papa terserah kamu aja".
"Daf? " ,Nayla beralih menatap Dafa.
"Aku bingung", jawab nya singkat.
"Ya udah,gue bakal cabut laporan ini tapi lo harus tepatin janji lo", ucap Nayla.
"Makasih banget Nay, maafin gue dulu sempat kerja sama dengan adik gue buat hancurin hubungan kalian, Gue tergiur dengan iming iming bisa dapetin lo karena gue itubsuka sama lo. Tapi sekarang gue sadar, cinta ngga bisa dipaksain guebudah relain lo sama Dafa", ujar Aldi dengan tersenyum tulus.
"Iya gue maafin, jangan diulangi lagi" ,jawab Nayla.
"Pak, saya cabut laporan tentang kasus ini" ,putus Nayla pada akhir nya.
Polisi tersebut langsung menyerahkan Risa pada Aldi. Bahkan saat diserahkan pun Risa terus merancau dan tertawa tak jelas.
"Terus rencana lo?", tanya Dafa.
"Sementara waktu, mungkin gue bakal masukin Risa ke rumah sakit jiwa. Sambil nunggu gue selesai wisuda", ucapnya.
Dafa hanya ber-oh ria. Sebenarnya ia tak rela kalau Risa bebas begitu saja, meskipun kejiwaannya terganggu. Harusnya Nayla tetap melanjutkan hukuman ini, apalagi Risa hampir saja menghilang kan nyawanya.
"Ya udah gue pamit dulu. Om tante, mari" ,pamit Aldi pada semua orang.
"Maaf ya tante" Aldi kembali berucap.
Fara mengangguk sebagai jawaban.
"Ya udah kami semua pamit juga pak. Terimakasih sebelum nya" ,pamit Raka pada polisi.
Mereka ber empat akhirnya pamit dan pulang dengan mobil masing masing. Raka dengan Fara, Nayla dengan Dafa.
"Mau pulang atau mampir kemana dulu?", tanya Dafa.
"Em, mampir kerumah Neta kali ya, aku pengen ketemu dia".
"Oke", Dafa langsung memacu mobilnya menuju rumah sepupunya.
Tak butuh waktu lama.
"Dah sampai" ,ujar Dafa. Mereka berdua langsung turun dan langsung masuk kedalam. Bukannya tidak sopan, pintunya juga sudah dibuka. Jangan lupakan pula itu adalah rumah sepupu Dafa.
"Woi".Brian yang sedang bermesraan dengan Neta di sofa sama sama tersentak saat mendengar suara Dafa.
"Gak sopan, main masuk aja" ,Brian mendengus kesal.
"Gak papa kali, rumah sepupu gue sendiri juga" ,sahut Dafa santai. Ia malah berjalan kearah dapur,mungkin akan mengambil minum.
Sedangkan Nayla, ia langsung duduk di sofa disebelah Neta, ia sudah berhasil mengusir Brian untuk duduk di karpet.
"Gue kangen banget sama lo, rasa rasanya kaya udah lama banget gak ketemu", ucap Nayla.
"Sama", jawab Neta.
"Oh iya, gue mau ngucapin makasih ya buat kalian, waktu itu nolongin gue pas kecelakaan. Baru ada waktu buat bilang. Mau bilang lewat whatsapp gak enak. Kan lebih afdol ngomong langsung".
"Sama sama Nay" ,ucap Brian dan Neta kompak.
"Lagian lo ,pas gue sadar gak ada disitu. Cuma ada Nadia", ujar Nayla cemberut.
"Iya maaf, gue waktu itu sama Brian lagi di London" ,jawab Neta tak enak.
"Lagian kita berdua rutin njengukin lo, tapi pas lo belum sadar" ,sahut Brian.
"Intinya makasih banget".
"Iya Nay".
"Wah seru banget, ngobrol apa tuh", Dafa datang dari arah dapur dengan berbagai camilan dan minuman.
"Mencuri makanan gue", ucap Brian sinis.
"Gak usah pelit" ,jawab Dafa.
Dafa duduk dibawah bersama Brian. Sedangkan dua perempuan tersebut sedang asik mengobrol.
"Wah selamat ya" ,pekik Nayla senang.
"Selamat apa?", tanya Dafa penasaran.
"Neta lagi hamil Daf", jawab Nayla.
"Widih, gercep banget", ledek Dafa pada Brian. Tapi yang diledek hanya acuh menonton televisi.
"Jadi kemaren lo tanya akun si Ris-mpphh" ,Nayla langsung membungkam mulut Neta dengan tangannya.
"Ris apa?" ,Dafa bertanya lagi.
"Risa mantan lo. Kan kemaren si Nayla tanya tanya dia".
Nayla mengumpat dalam hati, dasar si Brian mulut ember, Nayla kan jadi malu.
"Ooh itu, gue tau" ,jawab Dafa santai.
"Tau?" ,beo Nayla.
"Aku baca sendiri dichat kamu".
Astaga, Nayla benar benar sangat malu, ternyata Dafa sudah mengetahui nya tapi dia sengaja diam.