Nayla's Love Story

Nayla's Love Story
Bertemu Orang Tua Dafa•



Sesampainya Nayla didepan orang tua Dafa. Nayla hanya tersenyum canggung. Jujur saja ia sangat deg-degan kali ini dan tentunya gugup. Apalagi sedari tadi mamanya Dafa selalu menatapnya intens, terus memandangnya dari bawah hingga atas. Entah apa yang sedang beliau nilai dari diri Nayla.


Apalagi dengan teganya Dafa meninggalkannya berdua bersama mamanya, karena Dafa sedang ada urusan dengan papanya.


"Em hai tante. Perkenalan saya Nayla," ucap Nayla mencoba untuk memulai obrolan.


Namun tetap saja mamanya Dafa ini tak menjawab malah semakin gencar untuk memandangnya.


Jujur saja Nayla cukup takut sebenarnya. Sebegitu gak sukanya mamanya Dafa kepadanya atau memang ada yang aneh dengan penampilannya?.


"Cantik sih,keliatan anak baik-baik, " gumam mama Dafa lirih.


"Hah..tante bilang apa tadi". Samar samar tadi Nayla sedikit mendengar ucapannya.


" Bukan apa-apa. Nama kamu tadi siapa?," ucapnya dengan nada sedikit tidak suka.


"Nayla tante," ucap Nayla sopan. Meskipun sebenarnya ia bingung dengan respon yang diberikan mamanya Dafa.


"Oh".


Nayla langsung terdiam, ia bingung akan memulai obrolan seperti apa lagito. Akhirnya terjadilah keheningan diantara keduanya.


" Udah pacaran berapa lama sama Dafa?".


"Belum lama si tan," bohong Nayla. Sebenarnya Nayla ingin memberitahukan yang sebenarnya tapi keduluan Dafa yang mengatakan bahwa Nayla adalah pacarnya.


"Kamu satu kampus dengan Dafa?, " tanyanya lagi.


"Iya tan".


"Jurusan apa? ".


Sebenarnya Nayla bingung kenapa jadi malah sesi tanya jawab. Tapi ya sudahlah ia tetap akan menjawabnya.


"Fashion Design ,tan". Mamanya Dafa hanya mengangguk kepalanya saja.


"Em maaf tan sebelumnya sedari tadi saya belum tau nama tante, " ucap Nayla sopan .


" Nama saya Winda," Winda menjawab dengan cuek.


"Kenapa kamu bisa cinta sama anak saya? ," tanya nya.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu Nayla hanya terdiam, ia bingung padahal semua ini hanya pura pura tapi kenapa malah tambah runyam seperti ini. Memang kalau semua diawali dengan kebohongan pasti akan seperti ini. Akan ada kebohongan-kebohongan lainnya.


"Cinta itu datang tanpa alasan tan, hati kan gak bisa memilih harus sama siapa ia berlabuh. Kalau udah cinta ya harus gimana lagi," Cieelah entah dapat ide darimana Nayla berkata demikian.


"Kamu cinta sama anak saya bukan karena hartanya kan?."


"Maksud tante?," Nayla mengerutkan keningnya. Mengapa tante Winda berkata seperti seakan akan Nayla ini perempuan matre.


"Wah seru banget ngobrolin apa nih," sahut Dafa yang datang bersama papa nya.


Melihat kedatangan Dafa, tante Winda langsung merubah cara bicara nya menjadi lebih lembut. "Bukan apa-apa sayang" . Dafa hanya tersenyum, dia langsung melangkah mendekati Nayla .


"Maaf ya sayang aku kelamaan ya tadi," ucap Dafa pada Nayla dan sesekali mencium kening Nayla.


' Gapapa cari kesempatan dalam kesempitan' batin Dafa tersenyum geli.


Nayla yang mendapat perlakuan dari Dafa hanya bisa terdiam dan matanya melotot ke arah Dafa. Lidahnya cukup kelu untuk mengatakan protesnya. Namun dalam hatinya berdegup kencang.


"Dafa tolong jaga sikap,disini masih ada mama sama papa kamu," protes Winda.


"Sudahlah ma, Dafa pasti tau mana yang masih dalam batas wajar. Oh iya perkenalkan saya Reza, papa nya Dafa, " sahut Reza - Papa Dafa.


"Nayla om",jawab Nayla sembari mencium punggung tangan Reza.


"Tapi kan pa-" belum sempat Winda menyelesaikan protesnya Reza langsung menyela.


"Udah la ma ayo ikut papa ke depan ikut nyalamin tamu" Reza langsung mengajak Winda pergi.


Selepas mereka berdua pergi, baik Dafa maupun Nayla masih terdiam. Rasanya untuk berbicara susah sekali.


"Nay kenapa diem aja, " ucap Dafa. Nayla bahkan tak bergerak sama sekali. Dafa langsung menepuk pelan bahu Nayla.


"Hah! gimana Daf," Nayla tersentak kaget.


"Lo kenapa diem dari tadi? "tanyanya.


"Gak papa, gue cuma capek pengin pulang aja. Oh iya Daf, lain kali jangan asal cium sembarangan dong. Mana asal nyosor aja ngga izin dulu".


"Iya-iya deh maaf, tapi berarti kalau izin dulu boleh dong",jawab Dafa dengan nada menggoda.


"Ya-ya ngga gitu juga. Ah udah lah ayo pulang",Nayla jadi dibuat salah tingkah sendiri. Ia berjalan meninggalkan Dafa dibelakang. Ia juga masih berpikir kenapa tante Winda bisa berkata seperti tadi. Apa benar tante Winda tak menyukai nya..


Selepas berpamitan dengan Neta dan Brian, Nayla juga berpamitan dengan orang tua Dafa. Bahkan respon yang diberi kan oleh tante Winda tetap sama yaitu acuh. Sudahlah Nayla cukup pusing untuk hari ini. Ia langsung pergi kearah parkiran dan langsung disusul oleh Dafa


Baru saja Nayla akan membuka pintu mobilnya. "loh Nayla mau pulang. Mama baru nyampe loh ini," ucap Fara


"Eh tante," ucap Dafa sembari menyalami punggung tangan Fara dan tak lupa juga dengan Raka. Kedua orang tua Nayla hanya tersenyum pada Dafa.


"Nayla capek ma. Mending mama cepet masuk sama papa, keburu pengantinnya pergi istirahat nanti,".


"Lagian lama banget sampainya", sambung Nayla


"Biasa mama dandannya lama. Apalagi milih bajunya" sahut Raka.