
Hari sudah berganti malam. Namun Nayla dan Nadia masih dalam perjalanan pulang.
" Lo tadi ngilang kemana?," tanya Nayla.
"Gue ke toilet , tapi antri terus abis itu terima telfon dari nyokap".
"Oh pantesan" .
"Hari ini ada kejadian apa yang udah gue lewati?," tanya Nadia kepo.
"Banyak lah pokoknya," jawab Nayla sekenanya.
"Cerita dong Nay",ujar Nadia .
"Setelah lo pergi keluar sama Neta. Gue berusaha bujuk Brian biar dia bisa nerima Neta. Awalnya jelas Brian nolak mentah-mentah ,dan akhirnya terjadilah perdebatan gue sama dia . Brian itu anaknya emang keras kepala kaya gue ,jadi dia itu keukeuh sama pendirian nya. Akhirnya gue muter otak gue alesan kalau di hati gue itu udah ada penggantinya, padahal mah aslinya boro-boro kan Na".
"Terus terus gimana?," ucap Nadia antusias .
"Si Brian akhirnya kalah terus dia akhirnya mau ngabulin kemauan gue. Dia juga minta peluk gue ,katanya pelukan terakhir gitu ,eh malah pas lagi pelukan kepergok dah tuh sama si Neta," Nayla bercerita dengan menggebu-gebu . Sebenarnya Nayla malas harus mengungkitnya lagi, tapi daripada Nadia mulutnya gak bisa diem kalau belum puas dengan jawabannya, jadi ia terpaksa harus menceritakan kembali.
"Terus reaksi Neta? ".
"Ya jelas langsung salah paham lah . Dia langsung mencak-mencak ,nuduh gue selingkuh lah, nuduh gue nusuk Neta dari belakang lah . Gue langsung gak terima dong. Dituduh selingkuh apaan lagi, itu bukan gue banget kan".
"Harusnya si gue tadi cepet cepet balik jadi bisa liat perdebatan lo berdua,kan seru" ucap Nadia .
"Dih apaan," cibir Nayla
"Tapi gue lega dan bersyukur Na ,setidaknya gue udah bisa berdamai dengan masa lalu, udah bisa jelasin ke lo sama Neta. Sekarang beban gue tinggal satu, " sambungnya.
"Apa itu?, " tanya Nadia penasaran .
"Tinggal bilang sama orang tua gue masalah ini, Gue bingung mesti mulai darimana, " balas Nayla lesu.
"Rencana lo mau bilang kapan? ".
"Kapan ya? " . Bukanya menjawab pertanyaan dari Nadia, Nayla malah melontarkan pertanyaan balik.
"Ya terserah lo aja si. Gimana bagusnya, saran gue si secepatnya Nay. Biar orang tua lo gak tambah kecewa lebih dalem lagi," saran Nadia .
"Iya juga si. Gue usahain secepatnya deh" .
Terlalu asik mereka berdua bercerita di sepanjang jalan, sampai tidak sadar ternyata mereka sudah sampai dikediaman rumah Nadia.
"Gue langsung pulang aja deh Na," pamit Nayla dari dalam mobil tak lupa pula ia membunyikan klaksonnya.
"Hati-hati Nay," sahut Nadia.
...***...
"Assalamualaikum ," salam Nayla setelah sampai dirumahnya.
"Wa'alaikumsalam," sahut Raka dari depan tv sambil membaca koran.
"Loh pa, mama mana?," tanya Nayla.
"Ada di dapur tuh lagi bikin kopi," jawab Raka.
"Iya udah deh, Nayla pamit nyamperin mama dulu".
Nayla segera melangkah memasuki dapur dimana mama nya sedang membuatkan kopi.
"Ma, " panggil Nayla.
"Eh udah pulang Nay".
"Udah lah ini si udah didepan mama," sahut Nayla malas.
"Oh iya Nay,mumpung mama inget ,mama mau tanya sama kamu".
"Tanya aja," jawab Nayla sembari membuka kulkas untuk mengambil air minum dingin .
Mereka berdua pun langsung pergi menghampiri Raka.
"Kopinya pa, " ucap Fara pada Raka.
" Makasih ya sayang," sahut Raka .
"Cepetan ma,katanya tadi mau tanya, tanya apa emangnya, " ucap Nayla tak sabaran.
"Oh iya mama tadi gak sengaja liat orang tuanya Brian. Emang benar mereka semua udah pulang. Gak mungkin dong mama salah liat dua kali".
Nayla yang mendengar penuturan mamanya hanya menghela nafasnya kasar, Brian lagi Brian lagi. Haruskah ini waktu yang tepat buat menjelaskan pada orang tuanya?, tapi ya sudah lah siap atau tidak Nayla memang harus menjelaskan yang sebenarnya,lebih cepat lebih baik. Ia tak mau membuat mamanya terlalu berharap kepada Brian.
"Ehem," dehem Nayla sebelum menjelaskan.
"Sebenarnya ada yang mau Nayla omongin sama mama sama papa udah lama. Sebelum Nayla bercerita, Nayla minta maaf ma,pa, udah bohongin kalian berdua,udah nyembunyiin sesuatu. Semua Nayla lakukan karena Nayla belum siap . Jadi--" Nayla menggantungkan ucapannya, jantungnya berpacu lebih cepat. Tangannya sudah berkeringat. Ia tak menyangka secepat ini kah.
" Jadi apa sayang," penasaran Raka.
"Jadi sebenarnya Brian sama keluarganya udah pulang udah lama ma,pa," ujar Nayla.
"Apa! ",pekik Fara heboh,"kenapa juga kamu engga cerita sama mama. Mama kan mau ketemu mereka, melepas rindu sama calon besan terus mama mau tanyain kapan rencana Brian mau lamar kamu,engga baik loh pacaran lama-lama," ucap Fara antusias .
"Nah itu masalahnya ma. Brian pulang bukan buat nemuin Nayla. Tapi dia malah tunangan sama Neta" .
"AP-APA! ," kaget Fara lagi,kali ini Fara benar- dibuat syok.
" Apa itu bener?," tanya Raka memastikan .
"Bener pa. Kalian berdua tau kan Neta udah tunangan, lah tunangannya itu ya si Brian ,pacar Nayla, tapi sekarang udah jadi mantan si," jelas Nayla.
"Kenapa kamu nyembunyiin ini semua Nayla,harusnya kamu bicara dari awal, " ucap Fara lesu.
"Nayla cuma belum siap ma. Nayla nunggu waktu yang tepat buat jelasin ini semua sama kalian. Itulah kenapa kalau setiap mama bahas Brian, Nayla selalu mengelak. Karena Nayla belum siap ngomongnya, takut nanti mama kecewa. Ya meskipun ujungnya kecewa juga si".
"Ngga ada yang namanya waktu tepat Nayla, sebenarnya kamu yang terlalu menunda nunda. Semua waktu itu tepat," jawab Fara pelan.
"Nayla tau mama sama papa pasti kecewa sama Nayla karena Nayla engga jujur masalah ini dari awal,Nayla tau gimana antusiasnya mama tiap bahas Brian. Tapi Nayla punya alasan sendiri,Nayla waktu itu bingung ," ujar Nayla.
Nayla menatap kedua orang tuanya bergantian,baik Fara maupun Raka masih sama sama terdiam,mungkin mereka masih berusaha mencerna setiap kalimat yang Nayla jelaskan.
Nayla tau kedua orang tuanya pasti sangat kecewa. Ya memang semua ini salahnya. Ia tidak jujur sejak awal.
"Tolong maafin Nayla ma,pa,maafin karena udah bohong sama kalian," pinta Nayla memohon.
Tak ada sahutan dari kedua orang tuanya. Hanya suara helaan nafas mamanya.
"Kenapa bisa Brian tunangan sama Neta?," Raka kembali bersuara.
"Brian dijodohin pa, katanya wasiat dari kakeknya".
"Papa marah sama Nayla ya?".
"Engga marah sayang, papa awalnya kecewa sama kamu karena kamu berbohong masalah ini ,tapi ya mau gimana lagi nyatanya kaya gitu,kita juga ngga bisa maksain kan ,kamu harus berjodoh sama dia. Meskipun papa sama mama udah ngerasa srek sama Brian apalagi kita udah kenal banget sama orang tuanya, " senyum Raka mengembang membuat Nayla ikut tersenyum.
Nayla beralih menatap Fara penuh harap, "ma?", panggilnya pelan.
"Mamah marah banget sama Nayla ya?",lanjutnya.
Fara hanya menghela nafasnya kasar, sebenarnya ia kecewa tapi mau gimana lagi,"seperti papa. Awalnya mama kecewa tapi mama gak bisa harus maksain Brian harus sama kamu. Mungkin udah takdirnya gitu. Maafin mama juga kalau selama ini selalu tanya tanya Brian dan buat kamu ngga nyaman, kecewanya mama itu bukan karena engga jadi besanan sama keluarga Brian,mama kecewa karena kamu engga mau terbuka dari awal,mama ngerasa engga bisa jadi mama yang baik karena anak mama lagi sedih, lagi patah hati mama engga tau. Mama tuh pengen kalau anak mama ini kalau lagi ada masalah apapun cerita,jangan dipendam sendiri", jelasnya panjang lebar.
"Jadi mama maafin Nayla?," tanyanya penuh harap.
"Tentu. Mama gak bakalan bisa marah sama kamu sayang,mama harap anak mama yang cantik ini bisa dapet gantinya yang lebih baik,mama harap kamu engga sedih-sedih lagi,kamu harus bisa bahagia " ,jawab Fara sambil merentangkan tangannya. Memberi kode untuk Nayla memeluknya, merasa paham Nayla langsung menghambur ke pelukan mamanya. Raka tersenyum melihat keduanya ,pada akhirnya Raka ikut bergabung untuk memeluk istri dan anaknya.
Rasanya sungguh melegakan, beban yang ada dipundaknya kini telah menghilang. Awalnya Nayla takut kedua orang tuanya akan marah besar, namun semua diluar dugaan.
Mungkin Brian memang bukan jodohnya.
Tuhan pasti punya rencana baik dibalik semua ini.