
3 hari berlalu....
Hari ini adalah hari dimana Neta dan Brian akan melangsungkan acara pernikahannya . Nayla sudah cantik dengan dress model sabrina merah maron yang menampilkan pundaknya, lehernya dihiasi oleh kalung mutiara , rambutnya ia sanggul dengan rapi memperlihatkan lehernya yang jenjang. Tak lupa ia juga memakaikan aksesoris pada rambutnya tersebut.
Setelah selesai bersiap ,Nayla langsung turun kebawah untuk menunggu Dafa. Sesampainya dibawah ia melihat orang tuanya sedang duduk bersantai .
Menyadari ada orang yang berjalan mendekat, Fara segera menoleh. Betapa terkejutnya Fara setelah melihat penampilan Nayla.
"Mau kemana kamu rapi amat?".
"Ah iya ,Nayla lupa bilang sama kalian berdua, kalau sekarang Brian nikah sama Neta dan Nayla mau dateng kesa-".
"Ya ampun Nayla, kenapa kamu baru bilang sekarang, mama juga mau ikut tau . Kalau udah kaya gini kan mama repot Nay, mama belum beli dress baru buat kondangan. Aduh kamu gimana si ah, kebiasaan kamu itu," cerocos Fara memotong ucapan Nayla.
"Mama itu bajunya udah banyak ,masih bagus bagus lagi, Pakai apa adanya aja mama tetep cantik kok," ucap Raka menenangkan .
"Tuh dengerin ma".
"Kamu mau pergi sama siapa sayang?," tanya Raka.
"Sama Dafa pa".
"Dafa pacar baru kamu Nay?," sahut Fara heboh.
"Apa si mama. Cuma temen kok."
"Semua juga berawal dari temen Nay. Dulu kamu sama Brian juga gitu . Awal mula gak sengaja ketemu terus jadi temen, lama lama demen deh".
"Ah mama. Nayla udah usaha move on nih , mama ngapain buka lembaran lama si," ucap Nayla sebal.
" Maafin deh. Eh tapi mama serius Nay , mama pasti dukung kamu kalau sama Dafa ya meskipun mama belum bertemu sama dia si . Tapi mama percaya sama pilihan kamu dan menurut feeling mama, dia anak yang baik dan bertanggung jawab. Mama mau bilang nih resep biar cepet move on itu ya cari yang baru. Siapa tau Dafa itu orang yang dikirim tuhan buat gantiin Brian di hati kamu. Jadi mulai sekarang kamu harus mencoba buka hati buat siapapun termasuk si Dafa itu,tapi juga jangan asal nerima nerima ya Nay, harus selektif juga." begitulah petuah yang diberikan Fara.
Nayla hanya menyimak setiap ucapan mamanya. Ia membenarkan nya. Mungkin Nayla selama ini terlalu menutup hatinya . Ia terlalu berlarut larut dalam masalah ini. Ia akan mencoba membuka hatinya untuk siapapun termasuk Dafa 'eh apaan ini PD sekali gue, memangnya Dafa suka sama gue' batin Nayla menjawab.
Ting tong
Obrolan mereka terpaksa berhenti akibat suara bel rumahnya. 'Mungkin Dafa' pikir Nayla. Sebelum Nayla bangkit ,Fara sudah menahannya.
"Biar mama aja. Siapa tau itu Dafa, mama pengen liat. Ayok pa ,ikut mama," ajak Fara dan diangguki oleh Raka. Nayla sebenarnya ingin ikut menyusul tapi sebelum itu ia sudah mendapat pelototan tajam dari mama nya. Alhasil ia menurut saja.
Ceklek.
Mendengar pintu terbuka, Dafa yang semulanya sedang membenarkan penampilannya langsung terlonjak kaget, pasalnya yang membuka bukan lah Nayla, "Eh-...Assalamualaikum om dan tante," ucap Dafa sembari menyalami punggung tangan orang tua Nayla. Ia tak menyangka akan bertemu dengan orang tua Nayla.
"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya.
" Ganteng juga ya pa. Nayla gak salah pilih pacar nih," heboh Fara setelah melihat penampilan Dafa dari atas sampai bawah. Raka hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang sangat antusias itu .
"Hah...apa tante pacar, siapa?, " tanya Dafa kaget.
"Ya kamu dong siapa lagi disini yang ganteng".
"Papa juga ganteng ma," protes Raka.
"Iya-iya papa ganteng tapi tetap gantengan dia," . Raka hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Pertama kenalin om dan tante, nama saya Dafa dan saya juga bukan pacar Nayla tante , tapi soon, semoga om dan tante kasih restu," jawab Dafa terkekeh .
"Kami udah tau nama kamu kok".
"Eh apa apan ini, punya apa kamu mau jadi pacar anak saya," timpal Raka tak terima. Ia sedari tadi hanya sibuk menilai bagaimana Dafa ini. Jangan sampai Nayla salah pilih. Ia tak mau putrinya tersebut merasakan sakit hati kembali.
"Eh- emm.... s-saya punya cinta dan saya juga punya tanggung jaw-" Dafa langsung gugup apalagi setelah melihat raut wajah Raka yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap dirinya.
"Emang anak saya cuma butuh cinta kamu?, dan satu lagi apa yang kamu bilang tanggung jawab?, emangnya kamu hamilin anak saya," Raka langsung memotong ucapan Dafa. Dafa langsung mendelik kaget.
'Sabar Dafa ,ternyata camer lo galak juga'batin Dafa menguatkan .
"Apaan si pa, jangan gitu ah. Jangan bikin anak orang takut gitu, " ujar Fara.
"Mama diem dulu ini urusan lelaki " mendengar nada tegas dari Raka, Fara langsung diam.
"Aduh bukan gitu om, maksud saya itu saya punya tanggung jawab buat jagain dan bahagiain anak om gitu," Dafa menjelaskan dengan sedikit gugup.
Hening. Baik Raka maupun Fara hanya terdiam. Raka hanya mengambil kartu nama yang Dafa sodorkan,ia memandangnya sejenak.
Tiba tiba ,"Dafa-Dafa ,serius banget si kamu . ,Rileks aja jangan tegang gitu, " Raka langsung tertawa sembari memukul mukul pundak Dafa. Jika Raka tertawa terbahak bahak namun berbeda dengan Dafa dan Fara yang menatap heran. Apalagi Dafa yang sekarang sedang melongo melihatnya .
"Kok ketawa pa?," tanya Fara heran.
" Abisnya lucu , papa kan cuma bercanda cuma ngetes dia" . Dafa yang mendengarkannya langsung bernafas lega.
"Tenang aja Dafa, om akui keberanian kamu dan niat kamu. Saya bakal kasih restu kalau kamu buktiin semua niat kamu itu, jangan cuma ngomong doang."
"HAH! beneran?, iya pasti om",ujarnya antara senang dan kaget.
"Beneran dong,eh ngomong-ngomong kita dari tadi berdiri didepan pintu terus. Ayok masuk Daf, maaf ya tante sampe lupa, " ucap Fara.
Namun baru saja, mereka masuk, mereka sudah berpapasan dengan Nayla.
Sedari tadi emang Nayla sebenarnya sudah duduk gelisah . Sudah cukup lama kedua orang tuanya tak kembali. Ia takut Dafa diapa-apakan mamanya apalagi papanya. Akhirnya Nayla menyusul ke depan.
"Lama banget si ," ucap Nayla pada mereka.
Dafa yang mendengar suara Nayla langsung mengalihkan tatapannya menuju Nayla. Dafa dibuat kagum dengan penampilan Nayla kali ini.
'Ya ampun cantiknya'.
Begitu pula dengan Nayla. Ia juga terpesona dengan penampilan rapi Dafa ,memakai celana bahan warna hitam dipadukan kemeja batik dengan corak warna merah maroon. Entah mengapa mereka bisa sangat serasi. Padahal tidak janjian akan memakai warna apa.
"Udah lah pandangan pandangannya nanti lagi. Sekarang kalian berangkat. Nanti mama sama papa nyusul".
"Ayo Nay," Dafa mengulurkan tangannya. Awalnya Nayla ragu namun akibat paksaan mamanya ia segera menerima uluran tangan Dafa,"pamit om,tante kita pergi dulu".
"Kita berangkat dulu ya ma, pa",pamit Nayla.
Setelah mereka masuk kedalam mobil. Dafa tak langsung menyalakan mesin mobilnya. Dia masih sibuk menatap Nayla dari samping. Nayla yang menyadari Dafa memperhatikannya langsung salah tingkah sendiri .
"Ngapain lo liatin gue segitunya Daf. Ada yang salah sama penampilan gue ya?," tanya Nayla gugup
"Engga ada. Lo cantik banget Nay," .
Blush.
Pipi Nayla langsung memerah setelah mendengar pujian yang Dafa lontarkan. Entahlah padahal itu terkesan biasa saja, bahkan teman kampusnya banyak juga yang mengatakan ia cantik, tapi tak sampai membuat pipinya memerah.
"Ah apaan si lo. Berarti kemaren kemaren gue gak cantik gitu," ucap Nayla .
"Setiap hari lo cantik Nay," jawab Dafa sembari tersenyum manis.
'Duh kenapa gue deg degan gini si'.
"Udah cepetan telat nanti".
Dafa lantas menjalankan mobilnya. Selama perjalanan tak ada yang membuka suaranya. Dafa yang fokus mengendarai mobilnya dan sesekali curi curi pandang pada Nayla. Begitu pula dengan Nayla .
Nayla tak tau kenapa, berada didekat Dafa hatinya bisa berdegup kencang. Entah sejak kapan perasaan ini muncul. Entah perasaan cinta, suka atau hanya sekedar nyaman. Nayla belum bisa memastikannya.
Sesampainya mereka di gedung tempat akan dilangsungkan nya pernikahan Neta. Mereka berdua langsung turun. Sebenarnya Dafa merasa ada sesuatu yang janggal setelah melihat gedungnya, tapi ia menepis pikirannya.
"Nay beneran ini tempatnya?," tanya Dafa memastikan.
"Iya bener kok," balas Nayla.
Daripada bergulat sendiri dengan pikirannya, Dafa langsung saja mengajak Nayla untuk memasuki gedung, sekalian dia ingin memastikan apakah yang ada di pikiranya saat ini benar atau tidak
"Nay kok ngalamun" .
"Ha".
"Ayo masuk" ajak Dafa sembari mengulurkan tangannya bermaksud untuk Nayla gandeng. Dengan ragu ragu akhir nya Nayla menerima uluran tangan Dafa.
Sesampainya mereka didalam gedung, Nayla memandang sekelilingnya . Ternyata tamu undangan sudah banyak yang datang, untung saja acara belum dimulai. Mereka berdua langsung duduk di kursi yang sudah disediakan.
Berbeda dengan Dafa, ia tertegun, ternyata apa yang ada dipikirannya memang benar adanya. Pantas saja ia tak asing dengan ini semua.