Nayla's Love Story

Nayla's Love Story
Berdamai? •



Sudah cukup lama mereka bertiga menunggu di dalam ruangan Brian. Sebenarnya Nayla ingin menghubungi keluarga Brian untuk memberi tahu masalah ini. Tapi ia urungkan karena Neta menolak. Neta beralasan tidak mau manambah beban pikiran keluarga Brian. Lagi pula Brian tidak ada luka yang sangat serius. Hanya luka kecil di dahi dan tangannya saja. Besok juga sudah bisa pulang ke rumah.


Tak berselang lama dari itu Brian membuka matanya ,ia mencoba untuk bangkit dan dengan sigap Neta membantunya untuk bisa duduk bersandar dengan nyaman. Namun perlakuan Neta langsung ditepis pelan oleh Brian.


Sedari tadi tatapan mata Brian selalu mengarah kepada Nayla . Neta yang menyadarinya pun hanya bisa menundukkan kepalanya,berusaha menahan rasa sedih akibat penolakan Brian.


Namun berbeda dengan Nayla yang langsung mengalihkan pandangannya untuk tidak melihat Brian.


Nayla merasa tak tega dengan respon yang Brian berikan pada Neta.


"Ada yang sakit Bi?," tanya Neta pada Brian.


"Udah lama disini Nay?," tanya Brian pada Nayla dan mengabaikan pertanyaan Neta.


"Em...lumayan si, " jawab Nayla ragu. Ia melirik tak enak pada Neta .


"Sebegitu ngga sukanya kamu sama aku Bi. Bahkan untuk melihat pun ngga mau," ucap Neta sendu.


"Jangan jangan kamu suka sama Nayla," tebaknya tiba tiba.


Nayla,Brian dan Nadia yang mendengar tuduhan Neta hanya diam saja tak ada yang berani mengeluarkan suaranya.


"Gue suka sama Nayla?. Jelas--".


"Apaan si Net ,ya gak mungkin lah", Nayla langsung menyela ucapan Brian.


"Tapi gue bisa liat tatapan Brian ke lo. Udah lama juga gue curiga sama kalian berdua".


"Ngaco lo," . Nayla segera memandang Nadia mengisyaratkan melalui tatapan matanya untuk membawa Neta keluar dari ruangan ini karena Nayla butuh waktu berbicara berdua dengan Brian. Nadia yang melihatnya mengangguk paham.


"Ikut gue sebentar yuk Net," ajak Nadia.


"Gue mau disini aja Na".


"Lo inget ucapan Nayla kan . Dia mau berusaha bujuk Brian, jadi lo nurut sebentar,mereka berdua juga ngga bakal macem-macem,lo percaya kan," bisik Nadia pelan . Akhirnya Neta dan Nadia keluar dari ruangan menyisakan Nayla dan Brian.


Sungguh canggung rasanya didalam ruangan hanya berdua apalagi dengan mantan kekasih. Sedari tadi Nayla dan Brian tak ada yang membuka suaranya untuk memulai pembicaraan.


Nayla yang awalnya ingin membujuk Brian akhirnya malah masih setia dengan keterdiamannya. Entah kenapa semua yang telah direncanakan Nayla lenyap entah kemana.


"Emm.....Brian."


"Nay" . ucap mereka berdua secara bersama.


"Kamu duluan aja Nay," ucap Brian kemudian dan Nayla hanya mengangguk, ia tak mau membuang waktunya lagi .


"Kenapa lo bisa kecelakaan Yan?", sebenarnya Nayla malas untuk berbasa basi,tapi ia juga penasaran bagaimana Brian bisa sampai kecelakaan.


"Gak fokus tadi Nay. Gak sengaja nabrak pembatas jalan".


Nayla mengangguk,ia harus mulai bertanya sekarang karena ia tak mau membuang waktunya hanya untuk basa basi, lagi pula berlama lama disini dan hanya berdua akan membuat Nayla lebih susah untuk melupakan.


"Neta udah cerita sama gue,kenapa lo nolak buat ngelanjutin perjodohan ini?".


"Kamu pasti tau kan,aku gak cinta sama Neta. Aku cintanya sama kamu makanya aku nolak semua ini supaya bisa balik lagi sama kamu. Sebenarnya ngga pantes si aku bilang kata 'balik lagi' nyatanya kita kan ngga pernah putus kan Nay," ucap Brian terkekeh.


"Tapi nyatanya kita emang udah putus Yan," ucap Nayla.


"Siapa yang bilang?. Bahkan diantara kita belum ada yang ngucapin kata putus."


"Sejak lo tunangan sama Neta sejak itulah kita memang udah ngga ada hubungan apa apa lagi, " putus Nayla.


"Ngga bisa gitu dong Nay. Itu namanya mutusin sepihak," protes Brian.


"Gue mau tanya sama lo?".


"Lo masih sayang sama gue? ," tanya Nayla.


"Ngapain pake nanya si Nay, ya jelas masih lah".


"Kalau lo masih sayang sama gue. Harusnya lo mau dong nurutin kemaunan gue," ujar Nayla.


"Apapun buat kamu Nay,"jawab Brian.


"Lo harus bisa lupain gue dan lo harus bisa belajar mencintai Neta."


"Kenapa Yan?,kenapa engga bisa," tanya Nayla pelan.


"Kamu udah tau jawabannya Nay."


"Lo ngga bisa karena lo belum usaha," ucap Nayla.


"Apa kamu udah ngga sayang lagi sama aku Nay?," tanya Brian sendu.


"Setelah lo nyakitin dan matahin semua harapan gue,lo masih berharap gue masih sayang sama lo?. Nyatanya rasa sayang itu udah perlahan hilang, " kali ini Nayla harus tegas.


" Apa udah engga ada kesempatan buat aku Nay?," tanyanya.


"Engga Yan,semua yang udah terjadi mungkin udah kehendak Tuhan, kita memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Awalnya mungkin berat bagi gue buat bisa ikhlasin lo, tapi gue bakal terus usaha" . Bahkan untuk mengucapkan kata kata ini pun Nayla berusaha menahan rasa sesak di dadanya.


"Kenapa Nay. Hati kamu udah ada pengganti nya?" . Nayla yang mendengar ucapan Brian hanya terdiam. Jujur saja Nayla masih labil untuk perasaannya. Terkadang ia memang harus merelakan namun terkadang hatinya belum siap .


Ya semacam meninggalkan sakit tapi kalau bertahan itu jauh lebih sakit .


Buat apa meneruskan hubungan dengan seseorang yang sudah terikat dengan orang lain. Bahkan orang lain tersebut adalah sahabatnya sendiri . Ia tak mau persahabatannya hancur dengan begitu mudahnya hanya karena laki laki.


Kali ini Nayla harus tegas, ia harus bisa merelakan Brian untuk sahabatnya , persetan dengan hatinya yang merasakan sakit. Belum apa apa ,juga memang sudah merasakan sakit kan . Nanggung sekali rasanya kalau sakitnya hanya setengah .


"Nay kenapa melamun. Jadi pertanyaan aku bener ya?,kalau kamu udah punya pengganti aku?," tanya Brian membuyarkan lamunan Nayla.


"Kalau iya emang kenapa," bohong Nayla.


"Kamu bahagia sama yang sekarang".


"Tentu," sahut Nayla,"jadi please Yan,kalau emang lo pengen liat gue bahagia, ikhlasin gue. Terima Neta",pinta Nayla sungguh-sungguh


Brian diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu,"kalau kamu emang bener-bener bahagia ,dengan terpaksa aku bakal nurutin kemauan kamu, kalau aku bakal berusaha ngikhlasin kamu ,tapi bukan untuk lupain kamu,kamu punya tempat tersendiri dihati aku" ucap Brian.


"Tapi jujur aja aku belum percaya Nay, kamu dengan mudahnya berpindah hati . Oke, kalau memang yang kamu ucapin benar aku pasti menuhin keinginan kamu tapi kalau nyatanya kamu berbohong, aku bakal berjuang kembali rebut kamu Nay," Brian kembali berucap dengan tegas.


"Hati orang engga ada yang tau Yan."


"Aku tanya sekali lagi. Apa bener kamu udah punya pengganti aku?," tanya Brian memastikan.


"Kenapa si. Sebegitu gak percayanya lo sama gue," ucap Nayla dengan suara setengah berteriak.


"Karena aku tau bagaimana sifat kamu Nay," bentak Brian.


" Tau apa lo tentang gue!. Dulu aja lo hubungin gue kalau lo ada waktu senggang bahkan seminggu gak ada kabar. Apa itu yang dinamakan tau segala sifat gue ," Nayla sudah sangat tersulut emosinya.


"Maaf Nay,aku tau aku salah. Harusnya aku engga cuekin kamu bahkan sampai hilang kabar, aku cuma bingung waktu itu,pikiran aku buntu Nay,aku engga tau mesti gimana," hanya kata itulah yang mampu Brian ucapkan.


"Udah lah Yan. Gue capek berurusan sama masa lalu, gue pengen terbebas dari bayang bayang lo , gue bener bener pengen damai," ucap Nayla frustasi.


"Apa susahnya si lo nurutin kemauan gue. Ikhlasin gue dan lo belajar mencintai Neta itu aja ,belajar nerima Neta di kehidupan lo. Gue kasian sama Neta, dia selalu sedih sama sikap acuh lo. Jadi please gue gak minta banyak sama lo ,tolong belajar mencintai Neta," pinta Nayla dengan memohon sambil menetes kan air matanya. Brian hanya menghela nafasnya kasar. Ia sungguh tidak tega melihat Nayla sekarang.


"Lo mau liat gue bahagia kan?," tanya Nayla pada Brian.


"Tentu," sahut Brian.


"Kalau lo mau gue bahagia tolong lo kabulin permintaan gue. Cuma itu aja," tegas Nayla dan langsung menghapus jejak air matanya.


"Oke kalau itu mau kamu Nay, aku kabulin".


"Ya seperti yang gue bilang tadi hati orang engga ada yang tau,jadi belajar mulai sekarang Yan".


"Tapi aku masih bisa temenan sama kamu kan Nay."


"Of course,ngga ada salahnya juga mantan jadi teman. Yang penting tahu batasan aja."


" Boleh aku peluk kamu Nay untuk kali ini aja,please", pinta Brian dengan memohon. Nayla memikirkan sejenak dan akhirnya ia menuruti.


"Boleh," ucap Nayla sembari memeluk Brian.


Bebarengan dengan pelukan mereka berdua. Tiba tiba ada seseorang yang membuka pintu.


"Oh jadi ini yang katanya mau bujuk tapi malah asik pelukan,".