Nayla's Love Story

Nayla's Love Story
Koma•



Sesampainya dirumah, Dafa hanya meletakan barang bawaannya kedalam kamar, dan langsung pergi lagi. Karena ia sudah janji dengan Nayla. Sebelum berangkat, Dafa menyempatkan mengabari Nayla terlebih dahulu . Mereka akan langsung bertemu di cafe, karena kebetulan Nayla sedang ada diluar.


Setelah selesai mengirim kan pesannya, Dafa langsung menjalankan mobilnya keluar dari pelataran rumahnya.


Selama perjalanan Dafa terus tersenyum, mengingat nanti dia akan bertemu dengan kekasih hatinya. Untuk melepas rindu.


Namun tiba tiba ponselnya berbunyi, Dafa langsung menepikan mobilnya untuk mengangkat panggilannya dahulu. Dafa mengerutkan keningnya, ia kira awalnya Nayla yang menelfon tapi ternyata nomor tidak kenal. Akhirnya Dafa hanya mendiamkan nya saja, tetapi telefonnya terus berbunyi.


Dengan berat hati Dafa menekan tombol hijau, siapa tau itu memang penting. Setelah mendengar sahutan dari seberang telefon, Dafa langsung merubah raut mukanya menjadi tegang.


"Oke tenang dulu, gue segera nyusul lo kesana". Entah apa yang dibicarakan ,tapi Dafa langsung putar balik dan langsung menambahkan kecepatannya.


Disisi lain. Nayla sudah sampai dicafe tempat mereka janjian. Tapi belum ada tanda tanda dimana Dafa akan datang.


Berulang kali Nayla mengecek ponselnya, tapi nihil tak ada balasan apapun. Bahkan pesan yang tadi ia kirimkan belum dibalas sama sekali.


Nayla mencoba berfikir positif, siapa tau Dafa terjebak macet. Tapi ini sudah sampai satu jam Nayla duduk disini bahkan makanan yang ia pesan sudah ludes.


Akhirnya ia memesan minum lagi, sembari menunggunya datang. Nayla akhirnya menelfon Dafa tapi hanya suara operator yang menjawab.


Nayla langsung panik, ia takut terjadi sesuatu dengan kekasihnya.


"Lo kemana si Daf, gak usah bikin panik", ucapnya sembari terus menelfon tapi tetap saja hasilnya sama.


Menunggu memang hal yang paling menyebalkan bagi Nayla. Berulangkali Nayla menghela nafasnya. Satu jam lebih Dafa tetap belum datang. Tak biasanya dia bersikap seperti ini, kalau tak bisa datang, biasanya Dafa akan mengabarinya terlebih dahulu.


Tiba tiba ponsel Nayla berbunyi,dengan segera Nayla membukanya, ia berharap Dafa lah yang akan mengabarinya tapi ternyata dari nomor tak dikenalnya.


Nayla langsung membekap mulutnya sendiri setelah melihat isi pesan tersebut. Ternyata orang itu mengirim sebuah foto dengan pesan.


+6285741***


Dateng sendiri ke alamat sini kalau gak percaya!


Nayla sungguh kecewa dengan Dafa,ia sudah menunggu satu jam lebih tapi Dafa malah sedang berduaan didalam hotel. Entah apa yang sedang mereka lakukan, Nayla tak tau. Didalam foto tersebut tampak Dafa membelakangi kamera sedang mencoba melepas kemejanya sedangkan didepannya ada seorang perempuan yang Nayla tak tau siapa karena tak jelas wajahnya tertutup rambut. Perempuan tersebut duduk berhadapan dengan Dafa sedang memegang selimut.


Nayla berusaha untuk menahan air matanya supaya tidak jatuh. Ia masih menyangkal apa yang ia lihat. Tidak mungkin Dafa melakukan itu. Tapi difoto jelas sekali mereka hanya berdua saja.


Tanpa buang buang waktu ,Nayla langsung pergi keluar untuk mencari taksi, ia akan datang ke alamat itu. Nayla akan membuktikannya sendiri.


Tapi naas keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya. Disaat Nayla akan menyebrang jalan ternyata ada mobil yang dikendarai dengan kecepatan diatas rata rata. Karena Nayla tak fokus, mobil tersebut langsung menghantam tubuh Nayla. Tubuhnya pun langsung terpental.


Sebelum ia kehilangan kesadarannya, Nayla sempat melihat banyak orang yang mengerumuninya .Samar samar ia mendengar bahwa mobil yang menabraknya berhasil kabur.


Dari arah berlawanan Brian dengan Neta akan melintasi lokasi tersebut, tapi Brian langsung menghentikan laju mobilnya setelah ia melihat didepan ada banyak kerumunan.


Karena penasaran, Brian lantas turun diikuti oleh Neta. Betapa terkejutnya setelah mereka berdua melihat apa yang terjadi.


"Nayla", teriak Neta panik.


Tanpa pikir panjang Brian langsung membopong tubuh Nayla untuk dibawa kerumah sakit. Namun sebelumnya ia memarahi orang disekitar yang tidak langsung membawa Nayla ke rumah sakit.


Selama diperjalanan Neta terus menangis,apalagi kondisi Nayla yang lumayan parah seperti ini.


"Cepet By. Aku takut Nayla kenapa kenapa" ,perintah Neta pada suaminya.


"Iya sayang sabar ya . Kamu yang tenang,kalau kamu panik aku ikut panik ".


Tak butuh waktu lama ,mereka telah sampai dirumah sakit, Brian langsung membopong Nayla masuk untuk mencari bantuan.


Setelah menenangkan istrinya. Brian langsung mencoba menghubungi orang tua Nayla. Dan orang tua Nayla sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Brian juga terus mencoba menghubungi Dafa. Bisa bisanya kekasih nya sedang berjuang didalam ,tapi Dafa tak ada tanda tanda akan menjawab telefonnya. Brian menyerah,biarlah yang penting ia sudah berusaha menghubungi Dafa.


"Brian,gimana keadaan anak tante", teriakan Fara langsung mengalih kan tatapan mata Brian.


"Nayla masih diperiksa tante" ,bukan Brian yang menjawab tapi Neta.


Fara langsung meneteskan air matanya ,"ya ampun anak tante". Dengan sigap Neta langsung memeluknya.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" ,tanya Raka pada Brian.


"Saya belum tau kejadiannya seperti apa om. Tapi menurut cerita warga yang melihat kejadian. Nayla sedang menyeberang jalan dan dari depan ada mobil dengan kecepatan penuh menabrak Nayla. Dan sialnya mobil tersebut langsung melarikan diri", Brian menjelaskan.


"Sepertinya ya om, kecelakaan ini menurut saya disengaja".


"Baiklah om nanti akan selidiki".


Tak berselang lama dokter yang menangani Nayla keluar.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?", tanya Raka tak sabaran.


Dokter yang diketahui bernama Satria hanya menghela nafasnya sebelum menjawab. "Kecelakaan yang dialami Anak bapak cukup parah, dan itu menyebabkan dia mengalami koma".


Bagai tersambar petir disiang bolong. Fara yang mendengar nya langsung jatuh pingsan. Sedangkan Neta langsung menangis histeris.


"Anak bapak itu kuat, saya yakin dia bisa melewati masa komanya. Banyak banyak berdoa saja",ucap dokter Satria.


Disisi lain sebenarnya Dafa sudah sampai dicafe tapi ia belum turun dari dalam mobil. Ia merasa bersalah . Dafa mencoba menghidupkan ponselnya karena tadi sempat lowbat. Setelah dibuka banyak sekali pesan dari Nayla dan juga Brian. Ada apa tumben sekali Brian sampai spam telfon pikirnya.


Tanpa pikir panjang Dafa langsung menelfon Brian balik. Tak berselang lama Brian sudah menjawab telfonnya. Belum sempat Dafa mengucap kan kata kata. Brian sudah menyelanya.


"Kemana aja lo bangsat!. Cepet dateng ke rumah sakit. Nayla koma" ,bentak Brian. Dafa langsung menjatuhkan ponselnya begitu saja karena syok.


"Gak mungkin", ucapnya. Ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Sesampainya dirumah sakit, Dafa hanya melihat Brian yang sedang menenangkan Neta. Ia perlahan mendekat.


"Yan" ,panggilannya pelan. Keadaan nya sungguh kacau.


"Dari mana aja lo. Dihubungin susah. Pacar lo didalem lagi berjuang lo malah ngilang" ,Brian langsung mengomelinya.


"Tadi gue ada urusan sebentar dan ponsel gue lowbat".


"Alasan! ".


"Beneran. gimana Nayla bisa koma? ",tanya Dafa.


"Tabrak lari", singkatnya.


"Apa! " ,pekiknya. Dafa langsung jatuh terduduk.Dafa tak percaya. Ini gak mungkin!.


Ia berharap semoga ini adalah mimpi, tolong bangunkan Dafa dari mimpi buruk ini. Ia tak kuat mendengar kabar seperti ini.


Tapi semua ini nyata!. Nyata bahwa Nayla mengalami koma.


Dafa berharap Nayla bisa cepat sadar. Ia tak mau kehilangan nya. Semua ini salahnya. Andai saja ia tak pergi tadi. Pasti nya tak akan seperti ini. Tapi semua hanya bisa berandai andai. Semua tak bisa diulang lagi. Ia akan mencari pelaku dari tabrak lari ini.