
"Nay jadi mantan pacar lo itu Brian Saputra?," tanya Dafa .
"Hah!".
"Ternyata Brian Saputra itu sepupu gue".
"Hah!," Nayla jadi cengo sendiri . Kenapa dunia sesempit ini. Memang selama berpacaran dengan Brian dulu, saat diajak bertemu atau berkumpul bersama keluarga besarnya ,Nayla tidak pernah melihat Dafa .Karena memang Dafa yang jarang ikut acara begitu. Maka dari itu ia baru tahu.
"Pantas aja gue ngerasa aneh waktu tau hari dan tempatnya sama,apalagi liat undangan nya waktu itu".
"Hah!,"
"Ah gue jadi punya ide gimana kalau kita pura pura pacaran aja".
"Hah! ".
" Hah hah mulu, lo mau lomba kelomang," Dafa mendengus sebal. Bagaimana dia tak sebal, sedari tadi dia mengajak Nayla berbicara responya selalu Hah. Apa tidak ada kosa kata lain.
"Coba ulangi ucapan lo yang terakhir, "ujar Naya.
"Gue rasa lo gak budek Nay".
"Apa untungnya buat gue?," tanya Nayla.
"Ya-ya gimana si ya, ya biar lo gak keliatan jomblo aja gitu. Yakali mantan udah naik pelaminan dan lo masih sendirian" . Dafa juga tak tahu kenapa dia tiba tiba mengajak Nayla untuk berpacaran ya meskipun pura pura.
'Itung itung latihan dulu lah nanti baru yang beneran'.
Cukup lama Nayla menimang tawaran Dafa. Ia jadi teringat ucapannya tempo hari bersama Brian. Ia akan membuktikan bahwa ia sudah punya pengganti Brian. Ya meskipun pura pura. Sedari tadi Dafa sudah was-was takut Nayla akan menolak ajakannya. Namun semua diluar dugaan nya .
"Oke," putus Nayla.
Dafa langsung bersorak kegirangan dalam hati. Namun nyatanya Ia harus tetap bersikap cool didepan Nayla meskipun hatinya menjerit tak karuan.
Nayla melihat ke arah depan dimana Brian dan Neta sudah duduk berdampingan ,Nayla cukup terpesona dengan penampilan Brian. Tapi ia langsung menggelengkan kepalanya. Ia kan sudah move on, jangan sampai tergoda lagi. Lagipula Brian akan segera menikah. Dafa yang melihat tingkah Nayla hanya mengangkat bahunya acuh.
"Bagaimana para saksi sah," suara penghulu membuyarkan Lamunan Nayla, ternyata Brian sudah selesai mengucapkan ijab kabul.
"Sahh" . Bahkan Nayla ikut menjawab kalimat sah dengan sedikit terbata.
Acara ijab kabul selesai, kini saatnya tiba untuk acara resepsi. Semua tamu undangan berbaris untuk memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru. Nayla masih duduk untuk menunggu gilirannya, ia menatap ke depan. Nayla sebenarnya heran mengapa Brian tidak ada ekspresi yang memperlihatkan dia sedang berbahagia ,berbanding terbalik dengan Neta yang selalu mengembangkan senyumnya. Tapi ya sudahlah ini bukan urusannya.
" Sekarang giliran kita Nay, udah ayok ke depan kasih selamat. Ohiya tapi gue punya pesen sama lo. Tolong jangan nangis nangis bombai karena ditinggal mantan nikah pas nanti udah didepan," begitulah petuah yang Dafa berikan untuk Nayla.
"Iya Dafa," ujar Nayla malas.
Mereka berdua akhirnya mendekat ke arah sepasang pengantin baru itu. Dari kejauhan Brian yang melihat Nayla langsung mengembangkan senyumnya ,tapi tidak bertahan lama karena Brian melihat tangan Dafa yang terus melingkar di pinggang Nayla. Sebenarnya masih ada sedikit perasaan tidak rela ia melepaskan Nayla. Oke cukup, sekarang Brian akui ia masih merasakan sedikit rasa cemburu.
"Selamat Neta, " suara lembut milik Nayla langsung membuyarkan lamunan Brian, ia segera mengalihkan tatapannya untuk menatap Nayla.
"Makasih Nay. Semua ini berkat lo juga," balas Neta dengan meneteskan air matanya. Bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan. Nayla mengangguk, ia juga sempat bersalaman dengan kedua orang tua Neta dan Brian. Meskipun agak sedikit canggung saat bersalaman dengan mamanya Brian,karena mamanya Brian terus menatapnya,seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Selamat bro. Langgeng dong ya," ucap Dafa langsung memeluk Brian ala laki laki. Dan hanya dibalas ,"makasih",disela sela pelukannya.
"Iya nih" balas Dafa bangga. Bukan ini jawaban yang ingin Brian dengar dari mulut Dafa, tapi ternyata ah sudahlah.
'Duh kok nyesek ya' batin Brian.
"Sejak kapan", ucap Brian pelan.
"Udah lumayan lama sih" .
"Udah ah masa pelukan mulu," ucapan Nayla langsung menghentikan aksi pelukan dan bisik bisik tetangga yang dilakukan mereka berdua .
Nayla langsung menghampiri Brian. " Selamat Yan semoga lo bahagia selalu. Jangan pernah sakiti Neta, karena lo bakal berhadapan sama gue nantinya," ancam Nayla sembari terkekeh .
"Iya Nay makasih banget ya," ucap Brian.
'Sebenarnya gue pengennya bahagia bareng lo'.
"Gue mau bilang sama lo Yan . Terima kasih buat lo karena dari lo ,gue banyak menemukan apa itu cinta? Dan apa itu mengikhlaskan?, terimakasih karena sudah pernah menjadi bagian dari hidup gue,bagian dari semangat gue. 2 tahun itu bukan waktu yang singkat. Semoga lo bahagia selalu sama Neta," ucap Nayla tulus sembari menatap manik mata Brian.
"Makasih Nay. Bahagia selalu juga buat lo, semoga Dafa emang bener serius sama lo. Sekarang gue percaya kalau lo emang udah punya pengganti,gue lepas lo". Meskipun ragu Brian tetap mengatakan demikian,sungguh sakit sekali rasanya . Nayla hanya tersenyum tipis untuk menanggapi.
"Pasti gue serius dong Yan. Nanti kalau gue nikah lo dateng harus,kita kan sepupu, " sahut Dafa.
"Ahaha iya pasti lah," balas Brian sambil tertawa garing. Berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang kacau. Brian jadi ingat obrolannya dengan Nayla waktu di rumah sakit, sebenarnya Brian hanya pura pura menuruti kemauan Nayla, karena ia kira Nayla masih ada rasa untuknya jadi ia akan menunggu waktu yang tepat untuk merebut Nayla kembali. Namun semua sia sia, ternyata Nayla memang sudah mempunyai penggantinya .
"Udah lah kasian dibelakang udah pada ngantri. Sekali lagi selamat buat kalian," ucap Nayla dan kemudian berpamitan pergi.
"Nanti malem jangan lupa gas pol bos," ledek Dafa sembari melangkah mengejar Nayla yang sudah berjalan mendahului nya. Brian hanya menatap tajam ke arah sepupunya itu. Ada perasaannya tidak rela saat Nayla menjalin hubungan dengan Dafa yang notabennya adalah sepupunya sendiri. Kenapa harus Dafa? begitulah yang ada dipikiran Brian saat ini.
Sedari tadi Nayla mencari cari keberadaan Nadia sahabatnya. Sebenarnya Nadia sudah mengajaknya datang bersama tapi Nayla menolak karena sudah ada janji dengan Dafa.
"Nyari siapa Nay?," tanya Dafa.
"Nyari Nadia, dia belum kelihatan batang hidungnya nih" .
"Ya udah duduk dulu aja yuk ,capek gue berdiri terus. Nanti juga Nadia nongol," ajaknya dan langsung menggandeng tangan Nayla tanpa persetujuan nya.
Nayla hanya pasrah saja dan terus menatap tangannya yang sedang digenggam oleh tangan besar milik Dafa. Hatinya berdesir.
"Eh Nay itu ada orang tua gue. Samperin yuk," ucapan Dafa berhasil mengagetkan Nayla.
"Hah apa ?,ketemu orang tua lo," kaget Nayla.
"Iya emang kenapa kan mau ngenalin pacar," balas Dafa terkekeh.
"Kan cuma pura pura",jawab Nayla.
"Iya engga papa, mau pacaran beneran juga ngga papa. Udah ayo Nay. Orang tua gue baik kok gak bakal gigit".
Ini Dafa mengajaknya pacaran benerqn atau bagaimana si?,kenapa ngomong nya gampang banget kaya ngga ada beban.