
Kali ini Dafa sedang berada dikampus, karena ada urusan ,selama ini pun Dafa selalu banyak melamun. Bahkan wajahnya tampak pucat. Dafa merasa hidupnya ada yang kurang. Apalagi sudah 2 minggu ini Nayla belum ada tanda tanda untuk membuka matanya.
Dafa setiap hari rutin menjenguk Nayla. Bahkan sampai menginap disana. Terlalu memikirkan Nayla. Dafa bahkan sampai tak memikirkan dirinya sendiri. Mata yang sembab menandakan bahwa ia sering menangis.
Memang benar adanya, selama berminggu minggu ini Dafa sering sekali menangis melihat kondisi Nayla yang belum ada peningkatan.
Nadia yang melihat kondisi kekasih sahabatnya ini merasa kasihan. Ia mendekat ke arah Dafa.
"Jangan kaya gini Daf. Lo tetep harus jaga kesehatan . Nayla gak suka lo kaya gini" ,ucap Nadia.
"Lo gak bakal tau gimana rasanya Na".
"Gue tau rasanya Daf, disini bukan cuma lo yang merasa sedih. Gue juga!. Yang lebih lagi kedua orang tua Nayla".
"Hidup gue merasa ada yang kurang Na. Nayla sampai saat ini bahkan belum menunjukan tanda untuk membuka matanya".
"Gue takut dia kenapa kenapa Na" sambungnya.
"Jangan mikirin macem macem. Sekarang lo mending banyak banyak berdoa".
"Nanti gue mau langsung kerumah sakit. Lo ikut?" tanya Dafa pada Nadia.
"Jelas gue ikut".
Tanpa mereka berdua ketahui dari seberang ada yang mendengar pembicaraan mereka. Seseorang tersebut langsung pergi dengan tergesa gesa.
Ditempat lain
Brak
Suara pintu yang dibuka secara kasar.
"Apa si kak. Kasar banget bukanya" ,ucap seorang perempuan didalam kamar.
"Gak usah basa basi lagi. Lo pasti yang ngerencanain untuk menabrak Nayla kan?" tuduhnya.
"Jadi Nayla beneran ketabrak sekarang?" ,balasnya dengan senang.
"Keterlaluan lo. Itu diluar dari rencana kita berdua".
"Apa si kak. Suka suka gue la".
"Lo itu licik ternyata ", ucap seseorang yang dipanggil kakak.
"Apapun bakal gue lakuin demi Dafa balik ke pelukan gue" ,sinisnya.
"Lo itu terlalu terobsesi sama dia", bentaknya.
"Gue cinta sama dia kak."
"Gue malah seneng kalau Nayla koma. Jadi gak bakal ada yang gangguin gue. Kalau bisa mati aja", balasnya dengan merasa tak bersalah.
"Lo perempuan licik. Yang dibutakan dengan rasa obsesi yang mengatasnamakan cinta. Cih! Nyesel gue kerja sama, sama lo".
" Nyesel gak ada gunanya kak semua udah terjadi. So nikmati aja".
"Coba gue balik, lo yang ada diposisi gue. Kalau semisal Dafa koma. Pikir baik baik".
"Ngapain mikirin itu kak. Nyatanya Nayla yang koma bukan Dafa" ,jawabnya enteng.
Dengan nafas memburu menahan emosi, pemuda tersebut langsung keluar kamar dan membanting pintunya dengan keras. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya yang terlalu obsesi dengan Dafa.
Aarrrgg pemuda tersebut mengacak rambutnya frustasi. Nasi sudah menjadi bubur, adiknya itu ternyata sangat licik. Terlalu buta dengan rasa obsesi.
...***...
Dirumah sakit,Dafa hanya duduk dikursi samping brankar Nayla. Ia terus menggenggam tangan Nayla. Dafa selalu berdoa semoga ada keajaiban yang datang pada Nayla.
Diruangan tersebut hanya ada Dafa dan Nayla. Karena Nadia sedang ada dikantin rumah sakit bersama kedua orang tua Nayla.
"Bangun sayang. Kamu gak kangen aku apa", ucapnya.
"Mimpi apa si, sampe betah banget kaya gitu". Dafa terus berbicara sendiri.
"Jangan mimpi macem macem Nay, apa jangan jangan kamu mimpi ketemu cowo lain".
"Awas aja kalau itu terjadi" ,monolognya.
Ceklek
Pintu ruangan dibuka. Dafa langsung menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Fara dan Nadia. Entah kemana perginya Raka.
"Dafa kamu makan dulu ya" ,ucap Fara lembut dan tetap mencoba untuk tersenyum . Meskipun matanya sembab seperti Dafa.
"Dafa gak laper tan" ,tolaknya.
"Sedikit aja gak papa yang penting perutnya isi".
"Iya Daf, mending lo makan dulu. Kalau Nayla tau lo kaya gini pasti dia marah banget sama lo", sahut Nadia.
Mendengar kata Nayla, dengan berat hati Dafa akhirnya menurutinya. Ia segera makan meskipun ia sedang tak bernafsu makan sama sekali. Toh semua demi Nayla. Ia tak mau membuat Nayla marah.
"Lo gak pulang dulu Daf. Mandi gitu" ,ucap Nadia.
"Mandi disini aja Na. Gue udah bawa ganti" ,jawabnya sekenanya.
"Terniat banget", ucap Nadia dengan nada menggoda. Tapi Dafa hanya diam saja. Nadia hanya menghela nafasnya. Sebegitu hebatnya efek Nayla pada Dafa.