Nayla's Love Story

Nayla's Love Story
Jatuh Sakit•



Nayla mengedarkan pandangannya kedalam kamar Dafa. Cukup berantakan memang.Dafa hanya meringis malu.


"Begitulah kelakuan anak tante", ujar Winda. Sedangkan Dafa hanya menyandarkan badannya pada tembok. Entah kenapa ia merasa pusing, kepalanya seperti berputar.


Nayla hanya tersenyum tipis bahkan sangat tipis,tiba tiba ia merasa pergelangan tangannya seperti ada yang menyentuh nya, ternyata berasal dari Dafa.


Nayla panik, setelah merasakan hawa panas ditangannya. Tubuh Dafa bahkan sampai limbung,untung saja Nayla bisa menahannya.


"Kamu kenapa nak?" ,tanya Winda khawatir . Sedangkan Dafa masih sempat menggeleng. Samar samar ia masih mendengar ucapan mamanya tapi tak berselang lama dia pingsan.


"Bantu tante bawa Dafa", Winda meminta pertolongan pada Nayla. Karena memang rumah sedang sepi.


Nayla mengangguk.Ia langsung memapah tubuh Dafa dan membaringkannya dikasur. Setelah dicek suhunya ternyata 39,3°.


Winda langsung menghubungi dokter untuk segera mengecek putranya. Tak berselang lama dokter Arimbi datang dan langsung memeriksanya.


"Bagaimana dok?", tanya Winda.


"Anak anda hanya mengalami demam, dia kurang istirahat dan pola makannya tak teratur. Saya sudah tulis kan resep obatnya, nanti bisa ditebus diapotik rumah sakit kami" ,dokter Arimbi menjelaskan.


"Terimakasih dokter" ,ucap Winda.


Dokter Arimbi pun segera pamit.


Sedari tadi Nayla hanya diam,pandangannya terus ter arah pada Dafa. Mungkinkah Dafa sakit karenanya?. Nayla jadi merasa bersalah. Karena egonya, Dafa sampai sakit seperti ini.


Nayla tersentak setelah merasakan tepukan dibahunya. Ternyata Windalah pelakunya.


"Loh dokter Arimbi udah pulang tan",bahkan Nayla sampai tidak tau dokternya sudah pergi.


"Sudah. Tolong jagain Dafa dulu ya, tante mau ke apotik buat nebus obatnya".


"Iya tan, Nayla pasti jagain kok".


Selepas kepergian Winda, Nayla hanya duduk dikursi disamping Dafa, ia terus menggenggam tangannya yang masih terasa panas.


...***...


Nayla terusik dalam tidurnya, ia merasa ada yang mengelus rambut nya. Lantas ia mengucek matanya sebentar.


"Jangan dikucek" .Nayla terkejut setelah mendengar suara serak dari seseorang yang ternyata adalah Dafa. Sejak kapan dia sadar --pikir Nayla.


"D-Dafa" ,ucapnya.


"Iya aku" ,Dafa tersenyum manis.


"Sejak kapan kamu udah sadar?".


"Belum lama si", Dafa mencoba untuk bangun,merasa paham, Nayla langsung membantu nya.


Mereka berdua hanya diam setelahnya.


"Makan dulu ya nak,habis itu minum obat", ucap Winda. Sedangkan Dafa hanya menggeleng.


"Makan Daf biar cepet sembuh" ,sahut Nayla.


"Suapin" ,ucapnya lemas. Nayla mengumpat dalam hati, bisa bisanya dalam keadaan sakitpun Dafa masih bisa modus padanya.


Winda hanya tersenyum maklum ," suapin aja Nay,terus nanti suruh diminum obatnya .Tante keluar ya".


Winda langsung keluar dari kamar anaknya. Sedangkan Dafa sudah tersenyum kemenangan.


"Ayo buka mulutnya". Dafa menurut.


Nayla terus menyuapinya dengan sangat telaten. Meskipun Dafa mengeluh pahit dan memintanya untuk menyudahi tapi Nayla tetap memaksa sampai tak terasa buburnya telah habis.


"Udah habis, minum obatnya ya".


Lagi lagi Dafa hanya menurut. Setelah selesai, Nayla langsung bangkit membawa mangkuk kosong bekas bubur.


"Mau kemana?" ,Dafa langsung menahan tangan Nayla.


"Mau kedapur".


"Disini aja" ,pintanya.


"Sebentar aja Daf, nanti aku balik lagi" ,Nayla mencoba untuk bersabar.


"Disini aja", paksanya.


Akhir nya Nayla langsung duduk kembali ketempat semula.


"Nay,kamu udah maafin aku?", tanya Dafa tiba tiba.


Nayla hanya diam,sebenarnya ia ingin sekali menanyakan perihal foto yang ia dapat, tapi keadaan Dafa tak memungkinkan. Ia kan sedang sakit.


"Kok diam Nay".


" Sekarang mending kamu tidur aja, istirahat yang cukup biar cepet sembuh" ,Nayla mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Dafa terdiam,dalam pikirnya, apakah Nayla tak akan memaafkan nya?,apakah ia masih marah padanya?.


"Tidur Daf" ,perintah nya. Dafa langsung merebahkan tubuhnya kembali, sedangkan Nayla sudah menyelimuti nya.


"Merem", ucap Nayla.


"Tapi kamu disini aja".


"Iya".