Nayla's Love Story

Nayla's Love Story
Ada Apa Dengan Nayla? •



Sudah ada 2 hari, Nayla selalu menolak kehadiran Dafa saat menjenguknya di rumah sakit. Selama itu pula Dafa selalu merasa frustrasi.


Ia bahkan belum tau letak kesalahannya dimana. Berulang kali Dafa meminta maaf , namun Nayla hanya diam.


Dan sekarang adalah hari ke 3 ,Dafa belum juga ada tanda tanda untuk menemuinya,Nayla juga sudah boleh pulang kerumah. Keadaan nya sudah cukup membaik, tapi ia harus tetap istirahat dirumah.


Ia sudah tak betah terus berada dirumah sakit. Apalagi ia tak terlalu suka bau obat obatan.


Sesampainya dirumah, Nayla langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ia menatap langit langit kamarnya. Ia masih tak percaya dengan perlakuan Dafa.


Bahkan Dafa tak menjelaskan apapun. Dia hanya terus mengucapkan kata maaf. Sebenarnya Nayla tak tega melihat Dafa seperti ini. Tapi hatinya cukup kecewa. Biarlah ia akan membuat perhitungan dengan Dafa. Enak saja, Nayla menunggu di cafe berjam jam, tapi apa yang dilakukan Dafa, ia malah enak enakan.


Nayla sebenarnya cukup merasa khawatir ,takut terjadi sesuatu dengan Dafa, karena biasanya Dafa selalu datang menemuinya walaupun Nayla selau mengusirnya.


Pikirannya bercabang kemana mana. Nayla takut ternyata Dafa menyerah dan meninggalnya .Tapi ia langsung menepisnya. Nayla yakin Dafa tidak seperti itu.


Atau Dafa sakit?. Banyak sekali pertanyaan dibenak Nayla.


"Nayla makan dulu sayang", suara lembut milik Fara terdengar membuyarkan lamunan nya.


"Iya mam" ,sahut Nayla dari dalam kamar. Nayla langsung keluar kamar untuk makan bersama orang tuanya.


"Gimana masih ada yang sakit sayang? ",tanya Raka disela makannya.


"Udah sedikit mendingan pap" ,jawab Nayla sekenanya.


"Nay" ,panggil Fara.


"Iya mam".


"Kamu ada masalah apa sama Dafa?".


Mendengar pertanyaan mama nya, Nayla hanya terdiam.Ia hanya melanjutkan mengunyah makan nya, sebenarnya ia tak mau melibatkan orang tua nya dalam masalah hubungan nya.


Fara sebenarnya tak puas dengan jawaban Nayla, tapi ia hanya mengangguk saja, toh benar, dalam hubungan pasti ada saja masalah nya. Ia yakin putrinya bisa menyelesaikan nya sendiri.


"Kalau ada apa apa cerita aja sayang" ,Raka ikut menyahut.


"Iya pap".


...***...


Pagi pagi sekali Nayla sudah bangun, sebenarnya semalam ia tak bisa tidur nyenyak, kalau dulu ia tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan Brian, kalau sekarang malah memikirkan sepupunya alias Dafa yang notabennya adalah kekasihnya.


Ia meregangkan otot otonya yang terasa kaku,setelahnya Nayla mencoba untuk mengecek poselnya, siapa tau ada kabar dari Dafa .Namun nihil tak ada pesan dari siapapun termasuk Dafa.


Nayla menghela nafasnya kasar. Ia berfikir apakah Dafa marah padanya?.


Sudah lah, daripada terus bergelut dengan pikirannya yang kelamaan makin ngawur, lebih baik mandi saja. Mungkin mandi sepagi ini bisa menyegarkan badan dan tentu pikirannya.


Nayla hanya mengenakan kaos polos berwarna merah maron dan celana pendek setengah paha, lagi pula ia akan dirumah saja.


Ia langsung turun kebawah untuk membuat nasi goreng, baru bangun tidur tapi sudah sangat lapar.Tak butuh waktu lama nasi goreng buatannya telah siap.


Nayla langsung menaruh nasi gorengnya diatas meja makan,baru saja ingin menyuapkan nasi nya. Suara Fara mengagetkan nya.


"Tumben udah bangun, udah mandi juga lagi. Eh udah lagi sarapan" ,cerocosnya.


"Iya mam" ,singkat Nayla, ia langsung menyuapkan nasinya kedalam mulut. Sedangkan Fara sudah melenggang pergi kearah dapur, mungkin akan membuat sarapan. Lagipula asisten rumah tangganya sedang cuti.


Selesai dengan sarapan nya, Nayla langsung pamit untuk pergi ke kamar. Baru saja sampai dikamar,Nayla mengecek ponselnya lagi dan benar baru saja dibuka banyak sekali panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenalnya. Ia hanya memandang nya. Tiba tiba ponselnya berbunyi dengan nomor yang sama.


Karena penasaran akhirnya Nayla langsung mengangkat telfonnya. Entah apa yang dibicarakan orang diseberang sana, tapi Nayla cukup panik. Ia langsung mengganti pakaiannya. Dan langsung berlari turun.


Bahkan ia pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu.