
Sudah ada setengah jam Neta menangis namun tak kunjung juga ia membuka suaranya. Sebenarnya Nayla ingin bertanya, tapi ia mencoba menahannya terlebih dahulu menunggu Neta bersikap tenang.
"Ssst....udah Neta yang tenang, " ucap Nayla sembari mengelus punggung Neta. Karena posisinya Neta berada di pelukan Nayla dan membelakangi Nadia.
Nayla langsung menatap Nadia memberikan isyarat bertanya melalui tatapan matanya 'Neta kenapa?' seperti itulah yang disampai Nayla. Namun Nadia hanya mengedikan bahunya tidak tau.
Sudah dirasa cukup tenang, Nayla menguraikan pelukannya dan menatap Neta.
"Ada masalah apa Net. Coba lo cerita sama gue pelan pelan," ucap Nayla.
Dengan masih sesenggukan Neta akhirnya mau berbicara,"setelah kepulangan gue sama Brian dari London kemaren . Sikap Brian mulai berubah sama gue . Dia juga beberapa kali nolak buat ngelanjutin perjodohan ini. Tapi keinginan Brian langsung ditolak mentah mentah sama papanya . Brian marah besar,dia-dia bilang engga bisa lanjutin pertunangan ini karena ada perempuan lain yang dia cinta, dan akhirnya dia juga bertengkar sama papanya dan melampiaskan nya ke gue. Dia juga pergi dari rumah . Semua orang rumah panik banget, termasuk gue. Gue takut dia kenapa-kenapa,apalagi emosinya lagi engga stabil,dan akhirnya gue berusaha nyari dia,tapi tadi gue gak sengaja ketemu dia lagi di taman dan itu lagi bareng sama cewek" . Tangis Neta semakin pecah.
Nayla dan Nadia masih diam mencerna apa yang Neta ceritakan sesekali mengelus bahu Neta berusaha menguatkan. Jadi ini alasan mengapa mereka berdua beberapa hari tidak kelihatan,ternyata diam-diam pergi ke London.
"Gue liat nya sakit hati Nay. Disaat gue dan semua orang panik nyari dia. Malah dia asik sama cewe lain," sambung Neta dengan sesenggukan .
'Itu juga yang gue rasain dulu waktu liat Brian tunangan sama lo Neta'.
"Yang sabar ya Neta, " hanya kata itulah yang mampu Nayla ucapkan. Ia juga bingung harus berbicara apa, takut nya nanti ia malah memperkeruh keadaan. Ia hanya bisa menangkan.
"Jangan berburuk sangka dulu, siapa tau cewek itu gak sengaja ketemu di taman,atau cuma mau numpang duduk juga," sahut Nadia.
"Gue harus gimana? ,Brian emang kayaknya masih cinta banget sama pacarnya. Atau jangan jangan yang di taman itu pacarnya Brian. Karena dia pernah bilang ke gue pas awal-awal tunangan katanya dia punya pacar tapi dia gak mau ngomong namanya dan nunjukin gimana orang nya, " ujar Neta.
Nayla yang mendengar cerita Neta hanya menelan salivanya, hatinya tiba-tiba berdegup kencang.
"Orang tua lo udah tau yang masalah lo nemuin Brian?" ,Nadia mencoba mengalihkan pembicaraan agar Neta tak membahas pacar Brian, karena Nadia tau apa yang sedang Nayla rasakan sekarang.
"Belum Na. Orang tua gue juga lagi pergi keluar kota,gue juga belum cerita apapun".
"Kenapa gak lo bilang aja," ucap Nayla.
"Gue gak mau Nay . Gue udah cinta sama Brian, semenjak perjodohan itu gue udah berusaha buat nerima Brian sepenuhnya dan gue juga berusaha biar Brian bisa lupa sama pacarnya".
Deg!
'Gue udah cinta sama Brian' kata kata itu terus terngiang-ngiang dipikiran Nayla.
Kenapa dadanya tiba-tiba merasa nyeri . Sejujurnya sampai saat ini Nayla masih bingung dengan perasaannya . Namun yang pasti ia harus berusaha lebih keras untuk mengubur perasaan nya dalam dalam demi sahabatnya.
"Lo udah cinta sama Brian, Net?," tanya Nayla memastikan siapa tau tadi Nayla salah dengar dan Neta hanya menjawab dengan anggukan mantap.
Memang sudah saatnya Nayla harus bekerja keras untuk melupakan Brian.
Sebenarnya Nayla ingin mengucapkan yang sebenar nya pada Neta saat ini mengenai statusnya Brian yang menjadi mantan Nayla namun ia tak sanggup jika Neta harus merasa bersalah lagi dengan semua ini. Apa lagi setelah mendengar kalimat cinta dari mulut Neta. Nayla jadi tambah tidak tega.
"Gimana kalau gue coba buat bujuk Brian biar lanjutin perjodohan ini, " ucap Nayla tiba tiba. Nadia yang mendengarkan nya sontak melotot tak percaya.
Nayla hanya menatap Nadia, berusaha mengatakan bahwa ia bisa mengatasi ini.
"Emangnya dia bakal berubah pikiran Nay?," tanya Neta.
"Gak janji si,tapi gue bakal usahain ",jawab Nayla. Ia bertekad harus bisa mengikhlaskan Brian untuk Neta. Bagaimana pun juga Brian memang bukan jodohnya, ia tak bisa memaksakannya kan?.
"Jangan gila deh lo Nay,coba pikirin baik-baik lagi,masih ada cara lain juga",ucap Nadia lagi.
"Gue percaya sam-" . Suara dering telefon menggantungkan ucapan Neta. Ternyata suara tersebut berasal dari ponsel milik Neta.
"Hallo",ucap Neta.
"......"
"Apa! ," pekik Neta mengagetkan.
"....."
"Baik-baik, saya segera kesana". Neta langsung memutuskan panggilannya dan segera bangkit mengambil tasnya.
"Ada apa Net?," tanya Nadia.
"Kenapa lo nangis lagi," tambah Nayla.
"Brian Na Brian."
"Brian kenapa?," itu bukan suara Nadia melainkan suara Nayla.
"Brian tadi kecelakaan Nay. Sekarang lagi dirumah sakit. Gue mau ke sana sekarang".
"Hah ap-", kaget Nadia.
"Gue ikut," potong Nayla.
Mereka bertiga segera pergi menuju rumah sakit dimana Brian dirawat. Sesampainya di sana mereka segera bertanya dimana letak ruangannya .
Neta kembali menetes kan air matanya setelah melihat Brian terbaring lemah di atas brankar . Berbeda dengan Nayla yang hanya mampu menahan nya dalam diam , Nayla tak mau menunjukannya didepan Neta bahwa ia juga sangat sedih melihat Brian seperti ini.
Nadia sangat mengerti apa yang sedang Nayla rasakan karena dia sudah tau apa yang sebenarnya. Dia berusaha menenangkan Nayla dengan mengelus pelan bahunya.
"Sabar Nay," bisik Nadia pelan. Entah lah Nadia malah menenangkan Nayla dan membiarkan Neta menangis sendirian.
Dengan perlahan Nayla mendekat ke arah Brian dan berdiri di samping Neta yang sedang menggenggam tangan Brian.