
Hubungan antara Nayla dan Dafa telah sampai ketelinga Fara, tentu saja itu adalah kabar baik untuknya , akhirnya anak gadis satu satunya sudah bisa membuka hati nya kembali. Fara selalu berharap yang terbaik untuk anaknya. Ia akan mendukung apapun yang terbaik untuk Nayla, selagi Nayla bahagia, tentunya Fara ikut bahagia .
Begitu pula sahabat nya, Nadia, ia sangat terkejut ketika mendengar Dafa, cowo yang selama ini ia kagumi ternyata sudah menjadi kekasih orang.
"Tega dirimu Nay, menikungku dari belakang",ucapnya dramatis waktu itu pada Nayla.
"Tapi ngga papa si, gue udah ikhlas. Selagi sahabat gue ini bahagia, gue juga ikut bahagia",lanjut Nadia.
"Terimakasih sahabat lope lope ku",Nayla langsung memeluk Nadia.
Hari demi hari telah dilewati oleh sepasang kekasih ini yang tak lain adalah Nayla dan Dafa, walaupun akhir akhir ini mereka jarang ada waktu untuk bertemu, jarang ada waktu untuk berdua, dikarenakan masing masing saat ini sedang sibuk dengan skripsinya. Namun sejauh ini hubungan mereka baik baik saja,meskipun mereka terkadang terlibat percekcokan karena masalah kecil ,namanya dalam hubungan pasti ada saja masalah, masalah itu seperti bumbu pelengkap didalamnya.
Tak terasa memang ,ternyata Nayla dan Dafa sudah menjadi mahasiswa dan mahasiswi tingkat akhir begitu pula dengan sahabatnya . Nayla ingin menargetkan skripsi nya bisa cepat selesai bulan ini setelah itu sidang dan lulus, ingin rasanya bisa cepat bekerja . Nayla akan mencari pengalaman sebanyak banyaknya dan tentunya mencari modal terlebih dahulu sebelum ia membuka usaha sendiri.
Sebenarnya mudah bagi Nayla untuk langsung membuka usahanya karena memang Nayla termasuk kedalam orang yang berada atau mampu. Ia bisa saja minta uang dengan papanya . Namun Nayla tak akan melakukan itu, ia tak mau terus merepotkan orang tuanya, ia ingin belajar mandiri. Ia benar benar ingin memulai semuanya dari nol.
Hari ini adalah jadwalnya untuk menemui dosen pembimbing nya. Sesampainya dikampus, Nayla langsung menemui pak Doni. Entah sebuah kesialan atau tidak, Nayla mendapatkan dosen pembimbing yang killer, apalagi pak Doni orangnya sangat detail dan teliti.
Sebelum memasuki ruangan pak Doni, Nayla berdoa terlebih dahulu semoga kali ini skripsinya bisa langsung di acc dan bisa cepat sidang.
Sudah berhari hari Nayla begadang hanya karena mengerjakan skripsi ini,cukup stress memang bagi Nayla ,apa lagi dospen nya seperti pak Doni yang tidak mentoleran adanya kesalahan sedikit pun .
Nayla heran setiap ia periksa skripsinya masih aman aman saja, tetapi setiap pak Doni yang memeriksa selalu ada kekurangan ,kurang titik lah, kurang koma lah bahkan sampai adanya typo.
"Assalamualaikum pak," salam Nayla.
"Waalaikumsalam, masuk Nay," ucap pak Doni . Nayla langsung masuk dan segera duduk berhadapan dengan pak Doni .
"Baiklah Nayla, bagaimana dengan skripsi kamu, sudah diperbaiki untuk bab akhir?," tanya pak Doni tanpa basa basi terlebih dahulu.
"Sudah ini pak", ucap Nayla sembari menyerahkan skripsinya. Pak Doni langsung membaca dengan sangat teliti setiap kalimat yang Nayla ketik.
"Apalagi ini Nayla,katanya sudah diperbaiki tapi kenapa masih ada typo", ada sedikit amarah disuara pak Doni.
"Masa sih pak? ",tanya nya tidak percaya. Padahal ia sudah baca berulang kali dan ia yakin tidak ada kesalahan.
"Baca yang teliti makanya",ujarnya sembari mencoret dimana letak kesalahan di skripsinya."Cepat perbaiki ,besok temui saya lagi!".
"Baik pak" ,Nayla mengangguk pasrah.
Dengan lesu Nayla keluar dari ruangan pak Doni. Rasanya ia ingin menangis sekarang juga, berhari hari ia begadang demi sebuah skripsi semua itu harus direvisi kembali akibat typo. Kapan ini selesainya ya Allah.
Nayla berjalan memasuki kantin untuk sekedar membeli minuman dingin . Selepas membeli Nayla mampir duduk sebentar di bangku kantin.
"Sayang", Nayla langsung menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata Dafa pelakunya.
"Kenapa melamun?", tanya Dafa lembut setelah duduk disamping Nayla.
"Aku harus revisi lagi tau, pengen nangis rasanya, cuma gara gara typo aku harus bongkar skripsi lagi" ,Nayla mengadu pada Dafa dengan cemberut.
"Aduh kasiannya pacar aku ini. Nanti aku bantuin deh. Kebetulan aku udah gak ada kerjaan apa apa, alhamdulillah aku udah lulus sidang tinggal nunggu wisuda",ucap Dafa lembut tak lupa dengan mengelus rambut Nayla.
"Wahh selamat".
Semenjak menjalin hubungan dengan Nayla, sifat Dafa berubah menjadi lebih lembut dan tentunya kian romantis. Entah kemana hilangnya sifat jail dan menyebalkannya itu . Padahal Nayla rindu dengan sifatnya tersebut.
"Oke janji ya", ujar Nayla dengan semangat.
"Iya sayang, aku pasti bantuin biar kamu cepet sidang jadi nanti kita bisa wisuda bareng".
"Siap bos" ,senyum Nayla langsung mengembang.
Pipi Nayla langsung memerah . Andai Dafa tau, Nayla mati matian menahan degup jantungnya yang selalu berdetak tak karuan.
" Kamu lucu kalau pipinya lagi merah gini", tawa Dafa langsung pecah ,ia mencubit pipi Nayla gemas.
"Apa si Daf ini masih area kampus ya" ,ucap Nayla memperingati.
"Oh kalau bukan di kampus berarti boleh dong" ,balas Dafa menggoda.
"Udah lah ayo pulang katanya mau bantuin ngerevisi",sebenarnya itu hanya alibinya saja, karena ia sudah tak tahan jika harus digoda oleh Dafa terus menerus.
"Iya udah ayo",Dafa langsung menggenggam tangan Nayla dan mengajaknya pergi meninggalkan kampus.
Namun mereka harus terpisah karena Nayla mengendarai mobilnya sendiri sedangkan Dafa mengendarai motor sportnya. Tapi tetap saja dengan setia Dafa membuntuti nya dari belakang.
Sesampainya mereka dirumah Nayla,mereka langsung mulai mengerjakan skripsinya sebenarnya bukan mereka tapi cuma Nayla, Dafa hanya akan menelitinya jika ada typo atau kekurangan lainnya. Karena memang kesalahan Nayla tak banyak jadi tak butuh waktu lama Nayla telah selesai mengerjakannya.
"Alhamdulillah selesai, semoga besok ngga ada kesalahan lagi",ucap Nayla.
"Aamiin" ,balas Dafa.
"Eh sampai lupa belum ngasih minum sama kamu."
"Ngga usah sayang ,mending kita jalan jalan aja yuk . Lagian orang tua kamu lagi ngga dirumah jadi gak enak kalau cuma berduaan dirumah",ajak Dafa.
"Iya udah deh ". Tiba tiba ponsel Dafa berbunyi.
"Sebentar ya ,aku angkat telefon dulu ", ucap Dafa.
"Em maaf ya sayang jalan jalannya lain kali aja ya, sekarang mending kamu ikut aku kerumah ya",pinta Dafa. Tentu hal itu langsung ditolak oleh Nayla, ia belum siap untuk bertemu dengan mamanya karena usahanya selama ini untuk bisa dekat dan akrab dengan tante Winda belum berhasil. Tapi berkat bujukan Dafa akhirnya Nayla menyetujui .
Mereka berdua segera pergi kerumah Dafa menggunakan motor sport milik Dafa. Sesampainya mereka disana,Nayla hanya berdiri terdiam saja dipinggir motor, sedangkan Dafa sudah berjalan didepannya. Merasa Nayla tak mengikuti nya, Dafa langsung menghentikan langkahnya dan membalikan badannya.
"Kenapa berhenti disitu si sayang",ucapnya bingung.
"Aku takut Daf" ,cicitnya. Mendengar ketakutan kekasih nya, Dafa lantas berjalan mendekati Nayla.
"Semua bakal baik baik aja okay, kamu gak usah takut. Ada aku disini", ujar Dafa lembut dengan penuh pengertian . Akhirnya Nayla mengangguk menyetujui.
"Assalamualaikum mama" ,salam Dafa.
"Waalaikumsalam" ,balas Winda. Dafa dan Nayla lantas berjalan mendekat untuk mencium punggung tangan Winda.
"Kamu duduk disini dulu ya ,aku mau keruang kerja papa udah ditungguin" ,Dafa berkata sembari mengelus rambut Nayla sayang.
"I-iya Daf".
"Gak usah takut, mama gak gigit kok" ,Dafa berbisik. Selepas berkata demikian Dafa langsung melengang pergi meninggalkan Nayla.
Selepas kepergian Dafa, hanya keheningan yang menyelimuti keduanya.
"Ngapain kamu ikut kesini?", tanya Winda tiba tiba.
Nayla berusaha membuang rasa takutnya ,"pengin ketemu tante aja hehe".
"Ngomong ngomong, sebentar lagi kamu wisuda kan?. Mau kerja apa setelah lulus kuliah? ,ngga mungkin langsung nikah kan, apalagi sama anak saya. Anak saya nanti mau jadi dokter dulu dan pasti nanti banyak uangnya. Kamu gak ada niatan buat jadiin anak saya ATM berjalanmu kan? ".
Nayla menghela nafasnya, setiap mereka berdua bertemu, tante Winda selalu membahas masalah uang, uang,dan uang. "Gini ya tante, saya pasti kerja sesuai dengan apa yang udah saya impikan dan saya cita citakan. Saya pengin buka usaha sendiri, tapi sebelumnya ,saya ingin bekerja terlebih dahulu dengan orang lain untuk mencari pengalaman . Dan masalah saya yang berpacaran dengan Dafa, itu tidak ada niatan saya buat jadiin Dafa ATM berjalan, bukannya saya mau sombong atau gimana tante, kebutuhan saya dari orang tua itu sudah melebihi cukup. Gini aja, kalau tante gak percaya, tante boleh tanya sama Dafa, apakah selama ini saya pernah menjadikan Dafa ATM berjalan?, apakah saya pernah memanfaatkan uang Dafa untuk senang senang?."
Mendengar penjelasan Nayla, Winda hanya terdiam, ia merasa kalah telak untuk menjawab pertanyaan Nayla. Winda tau siapa orang tua Nayla,karena sebelumnya ia sudah banyak mencari informasi yang berkaitan dengan Nayla. Apalagi Nayla ini tengah menjalin hubungan dengan anaknya. Sebagai orang tua mestinya ia harus selektif mana yang cocok dijadikan mantu.