
Pagi ini Nayla sudah siap untuk berangkat ke kampus, ia masih akan mengurus suatu hal, sembari menunggu jadwal wisudanya..
"Selamat pagi", sapa Nayla saat sudah turun ke bawah.
"Pagi" ,jawabnya kompak.
Nayla terkejut ,dimeja makan ternyata sudah ada Dafa. Sejak kapan ia sampai. Dan lagipula mereka tidak ada janjian untuk berangkat bersama.
"Duduk Nay, kita sarapan sama sama", ajak Fara.
"Iya kasian Dafa udah nungguin dari tadi loh", Raka ikut menyahut.
Sedangkan Dafa?,ia hanya tersenyum.
Nayla langsung berjalan kearah mereka dan duduk tepat disamping Dafa.
"Dari kapan kamu udah disini?" ,tanya Nayla pada Dafa.
"Dari kamu belum bangun".
Nayla melongo, sepagi itukah Dafa datang. Terniat banget memang.
"Mingkem sayang", bisik Dafa.
Seakan tersadar Nayla langsung mengatupkan mulutnya.
"Sarapan dulu, ngobrolnya nanti aja", ujar Fara
Mereka ber empat memulai sarapannya.
"Padahal kita gak janjian mau berangkat bareng loh" ,ucap Nayla disela sela makannya.
"Emang harus janjian dulu?".
"Ya engga si".
"Lagian kerumah calon mertua sendiri,jadi gak harus janjian dulu".
Nayla langsung tersedak saat mendengar kata calon mertua dari mulut Dafa.
Dafa langsung menyodorkan minum pada kekasihnya itu, dan diterima dengan senang hati.
"Kalau makan jangan sambil ngobrol" ucap Raka.
"Betul itu, kalian ini gak sabaran banget, ngobrol nanti kan bisa", sahut Fara.
"Gimana Nayla gak kaget mam, dia bilang calon mertua".
"Ya emang bener kan, tante calon mertua" ,dengan tidak tahu malu Dafa berkata demikian.
"Iya Dafa".
"Tuh dengerin" ucap Dafa.
"Udah mulai gila nih kayaknya" ,gumam Nayla pelan.
...***...
Setelah selesai sarapan, mereka berdua langsung berangkat ke kampus. Ya, mereka berdua adalah Dafa dan Nayla.
Selama perjalanan mereka berdua hanya diam, Nayla yang sibuk bermain ponsel. Dan Dafa yang sibuk menyetir.
Sebenarnya Dafa merasa kesal, kenapa kekasih nya ini mengabaikan nya. Sebenarnya ada apa di dalam ponselnya. Apakah Nayla selingkuh?,tapi ia yakin Nayla tak akan seperti itu. Kenapa pikirannya jadi kacau si.
"Sibuk banget kayaknya", sindir Dafa.
"Iya", singkat Nayla tanpa menoleh sedikit pun pada Dafa.
Dafa merasa geram, akhirnya ia merebut ponsel Nayla dengan tangan kirinya.
"Apaan si Daf" ,sentak Nayla.
"Tuh kan pikiran nya jelek banget" ,Nayla mendengus kesal.
"Ya abisnya main hp mulu. Kalau lagi bareng itu jangan main hp. Paham!" ,Dafa berucap dengan tegas.
"Paham".
"Udah sampai, yuk turun", ajaknya kemudian.
Saking asiknya main hp dan berdebat, Nayla sampai tak sadar sudah sampai.
Dafa keluar terlebih dahulu, ia langsung membukakan pintu mobil untuk Nayla.
"Makasih", ucap Nayla.
"Sama sama, udah sana masuk. Nanti ketemu di kantin ya tapi kantin fakultas kedokteran ".
Nayla hanya mengangguk.
"Oh iya ponsel kamu aku yang pegang, nanti dikantin aku balikin", ucap Dafa.
Nayla sudah bersiap untuk memprotes.
"Eits gak terima bantahan apapun" ,Dafa berkata sembari meletakan telunjuk nya di depan bibir Nayla.
Kata kata yang semula ia sudah siapkan agar bisa membujuk Dafa hanya sampai ditenggorokan. Sudahlah biarkan saja.
Tapi Nayla takut Dafa akan membuka Whatsapp nya dan membaca pesan dari Brian. Bagaimana ini?, malu nanti kalau ketahuan ia kepo mengenai Risa mantannya..
...***...
Urusan Nayla kali ini telah selesai,ia segera pergi menuju kantin kedokteran. Ya, sesuai perintah baginda raja.
Siapa tau nanti dia bisa bertemu dengan Nadia. Akhir akhir ini memang ia jarang bertemu bahkan berkumpul dengan Nadia.
Sesampainya dikantin ia mengedarkan pandangannya,siapa tau Dafa sudah ada dikantin. Tapi nihil,dia belum datang.
Akhirnya Nayla langsung mencari tempat yang masih kosong. Setelah mendapatkannya ia langsung duduk disana.
Satu kata bagi Nayla yaitu bosan!. Bagaimana tidak bosan, hpnya masih sama Dafa, dan dia sampai saat ini belum datang.
Sudahlah ia akan memesan minuman terlebih dahulu,setelah ikut mengantri untuk membeli jus,Nayla kembali ketempat semula. Dan lihatlah Dafa bahkan belum datang.
Satu gelas jus telah tandas,bahkan ia sampai membeli lagi dan Dafa baru saja datang.
"Maaf ya, aku tadi ada urusan sama dosen,lama banget" ,ucapnya setelah duduk didepan Nayla.
"Hem".
"Marah?".
"Engga".
"Ngga marah kok cuek,oh iya nih hp kamu". Dafa menyerahkan ponsel pada Nayla dan langsung disambut dengan senang.
"Aku mau ke kamar mandi dulu", pamit Nayla buru buru karena ia sudah tidak tahan untuk buang air kecil, itulah sebabnya karena terlalu banyak minum tadi.
Nayla terus berlari dikoridor fakuktas kedokteran,bahkan ia sampai lupa bahwa ia juga tidak tahu letak toiletnya ada dimana, gedungnya luas sekali.
Ingin bertanya tapi lumayan sepi, mahasiswa lebih banyak dikantin.
Akhirnya Nayla menemukan ditoilet tapi jauh ,yaitu dibelakang dekat gudang fakultas. Cukup ngeri memang tapi ya sudahlah ia sudah tidak tahan.
"Ugh leganya" ,ucap Nayla setelah keluar dari toilet. Ia mampir sebentar untuk membasuh wajahnya.
Baru saja melangkahkan kakinya di luar toilet, ia samar samar seperti mendengar percakapan dua orang yaitu laki laki dan perempuan, suara tersebut sepertinya berasal dari dalam gudang.
Antara takut dan penasaran, seperti itulah perasaan Nayla saat ini. Takut karena gudang itu sangat sepi, tapi ia juga penasaran, akhirnya dengan sangat hati hati ia melangkah mendekati gudang itu dan mengintip ke dalam.