
"Maaf, saya telat ya?".
"Engga tante. Nayla juga belum lama".
Setelah mendapatkan telefon tadi, Nayla langsung pergi menuju Cafe tempat mereka berdua janjian. Ya, mereka adalah Winda dan Nayla.
"Bagaimana kabar kamu?, sehat?. Tante denger dari Dafa, kamu habis kecelakaan dan masuk rumah sakit. Sempet koma juga. Maafin tante ya engga bisa jengukin kamu waktu itu".
"Alhamdulillah ,sekarang sehat tante. Iya engga papa kok tan,ngomong ngomong tante ngajak aku ketemu emang ada apa ya?",tanya Nayla sedikit canggung, bagaimana tidak, pasalnya yang Nayla tahu,Winda itu tak menyukai nya.
"Pesan dulu aja Nay", ucap Winda tersenyum.
"Iya tan" ,Nayla tersenyum kikuk.
"Pesan apa?" ,tanya Winda sembari membolak balikan buku menu.
"Aku pesan minum aja deh," putus Nayla.
Winda langsung memanggil pelayan dan menyebut kan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi,keadaan langsung hening. Mereka berdua saling diam, belum ada yang berniat untuk membuka suaranya.
Nayla tau, sedari tadi Winda terus menghela nafasnya. Kalimat yang ia sudah siapkan, hanya mampu sampai ditenggorokan. Rasanya untuk berbicara berat sekali.
"Tan?",panggil Nayla pelan. Lagipula Nayla sudah tidak tahan untuk tidak bertanya, ada masalah apa Winda sampai mengajak nya bertemu disini. Winda hanya berucap penting.
Winda menoleh kearah Nayla. Bukannya menjawab, Winda malah mengambil tangan Nayla dan menggenggam tangan nya.
"Maaf", hanya kata itulah yang keluar dari mulut Winda.
Nayla menatapnya heran, ada apa sebenarnya?.
"Tante mau minta maaf sama kamu, tante tahu sikap tante ke kamu itu kurang baik. Tante udah nuduh kamu kalau kamu itu cuma manfaatin anak tante".
"Meskipun nuduhnya ngga secara langsung, tapi lewat kata kata tante, kamu pasti tau ada maksud terselip didalam nya" ,Winda terus berceloteh.
"Tante cuma ngga mau, anak tante itu dapet pasangan yang cuma manfaatin Dafa,makanya tante bersikap seperti itu sama kamu . Setelah bertemu pertama kali sama kamu, tante langsung cari tahu".
Nayla diam, ia terus menyimak.
"Maafin sikap tante ya Nayla" ,ucapnya lagi.
Nayla tersenyum, ia membalas genggaman tangan Winda tak kalah eratnya.
"Nayla ngerti kok. Tante pasti pengen yang terbaik buat anak nya, termasuk tentang pasangan. Tante ngga usah khawatir Nayla udah maafin tante".
"Makasih. Kamu tahu kenapa tante bersikap kurang baik sama kamu waktu itu?".
Nayla menggelengkan kepalanya.
"Kamu tau Risa?" ,tanyanya lagi.
"Risa?" ,ulang Nayla.
"Iya Risa, dia itu mantan Dafa,awalnya tante kurang setuju pas Dafa ngenalin dia, entah kenapa tante merasa dia ini kaya ngga cocok aja sama Dafa, kayak sikap nya kurang baik. Tapi Dafa itu pantang menyerah, dia terus bujuk dan mohon mohon sama tante buat bisa nerima Risa. Karena tante ngga tega jadi tante mutusin mencoba buat nerima Risa itu. Sehabis itu mungkin semua berjalan normal, Risa juga kadang main kerumah meskipun ngga ada Dafa. Tapi lama kelamaan Risa ini kayak cuma manfaatin anak tante. Minta dibeliin barang barang mewah, kadang juga minta transfer uang, Pernah juga pas tante pergi ke mall waktu itu,tante liat dia lagi jalan berdua tapi bukan sama Dafa--".
"--pulangnya tante langsung bilang sama Dafa, tapi anak tante itu keras kepala. Kamu tau itu kan?".
Nayla mengangguk membenarkan.
"Puncaknya dia sampai tau sendiri,Dafa pergokin kalau Risa selingkuh".
Nayla bahkan belum mengucapkan kalimat apapun, ia membiarkan Winda untuk terus bercerita. Lagipula Dafa belum menceritakan lebih detail masalahnya tentang masa lalunya. Ia hanya tahu Dafa diselingkuhi itu saja. Bahkan selama ini ia juga tidak tahu siapa mantan Dafa itu,dan Dafa juga tidak pernah membahasnya.
"Permisi ,pesanannya mba", pelayan tiba tiba datang menghentikan sejenak obrolan mereka. Setelah mengucapkan terimakasih, pelayan tersebut pergi.
"Makan dulu Nay, nanti dilanjutin lagi".
"Tante, tadi kan Nayla cuma pesan minum",Nayla bingung, pasalnya ia hanya memesan minum tetapi Winda malah memesan makanan untuknya juga.
"Ngga papa, makan aja temenin tante". Mereka berdua akhirnya makan dengan diam.
"Nay",panggil Winda setelah menyelesaikan makannya.
"Iya tan",
"Nanti pulang ikut tante kerumah ya".
"Eh ada apa ya tan? " ,tanya Nayla bingung.
"Tolong bujuk Dafa ya, dia sekarang jadi sering ngurung sendiri dikamar,waktu kamu koma aja, Dafa kaya orang yang ngga punya semangat hidup,makan jarang,sering melamun,kadang ngomong sendiri sambil liatin foto kamu. Tante bener bener ngga tega lihatnya. Sebegitu hebat efek kamu buat dia. Tante ngga tahu kamu lagi ada masalah apa sama Dafa, tapi tante mohon sama kamu jangan pernah tinggalin Dafa",Winda berucap dengan memohon.
"Tante sama Om sampai bingung harus gimana lagi bujuk Dafa".
Nayla terkejut, jadi selama ini Dafa sering mengurung diri dikamar. Dan jadi ini juga alasan kenapa Dafa tak lagi menemui nya.
"Mau kan Nay?",pinta Winda memohon.
...***...
Mereka berdua telah sampai didepan rumah Winda. Namun Nayla hanya berdiri disamping mobil, ia mencoba untuk menguatkan hati nya terlebih dahulu. Karena merasa tak ada yang mengikuti nya, Winda berhenti dan menoleh, "ayo Nay masuk",ajaknya.
" Iya tan" ,perlahan Nayla ikut memasuki rumah.
"Langsung ke kamar Dafa aja ya" Winda mengajak Nayla untuk mengikuti nya menuju kamar anaknya.
Sesampainya didepan pintu kamar, mereka berdua terdiam sejenak.
Tok..tok..tok
"Ini mama Daf, tolong buka pintunya sebentar",ucap Winda.
"Dafa lagi ngga mau ketemu siapa siapa ma" ,sahut Dafa dari dalam.
"Yakin ngga mau ketemu siapa siapa?, ada Nayla loh disini", Winda terus berusaha membujuk.
"Bohong!, mama juga kemarin bilang nya gitu".
"Ini beneran aku Nayla,Daf" ,ucap Nayla.
Tak ada sahutan sama sekali dari dalam.
Ceklek...
Pintu tiba tiba langsung terbuka lebar.
"Da-".Dafa langsung menerjang Nayla dengan pelukan yang sangat erat,bahkan ia tak membiarkan Nayla berbicara apapun.
Winda yang melihatnya hanya tersenyum tipis,semoga keputusan nya kali ini sangat tepat.
"Dafa" ,mendengar suara Winda, Dafa langsung melepaskan pelukannya.