
"Dek, sepertinya kaka mau mundur aja dari kerja sama kita".
"Kenapa ka?".
"Kaka udah relain Nayla buat Dafa, dia mungkin memang bukan jodoh kaka".
Nayla terkejut,apalagi ia dibawa bawa dalam pembicaraan mereka. Ia makin penasaran sebenarnya mereka siapa?. Nayla mengintip sedikit dari arah kaca, tapi keadaan disana cukup gelap.
Nayla jadi punya ide, ia akan merekam semua pembicaraan mereka.
"Kaka jangan pesimis dong".
"Udahlah, kamu juga jangan gangguin hubungan mereka lagi".
"Aku pengen balikan sama Dafa".
"Tapi gak kaya gini caranya,cara kamu itu licik. Kamu bahkan sampai menyuruh orang buat nabrak Nayla sampai dia koma,belum lagi kamu jebak Dafa dengan rencana licik kamu supaya Nayla salah paham".
Nayla terkejut jadi mereka adalah dalang dari semua ini.
"Ya, awalnya cuma nabrak doang gak sampai dia koma. Nayla aja yang lemah gitu aja koma".
"Cuma? Gitu aja? ".
"Coba kamu yang ada diposisi Nayla gimana?".
"Ih kaka kok doain aku koma juga ya".
"Ya engga gitu juga".
"Udahlah, kaka kalau mau mundur ya mundur aja gak usah ngajak ngajak aku".
"Sadar dek sadar, kaka udah bilang kamu itu cuma terobesi bukan cinta".
"Aku cinta sama Dafa".
Plak.
Suara tamparan yang berasal dari dalam.
"Kaka kok nampar aku".
"Semua terserah kamu, kaka ingetin cepat atau lambat Nayla atau Dafa pasti tau pelaku tabrak lari itu. Kamu tau apa yang terjadi?. Dafa akan semakin membenci kamu,jangan berharap pas dia nolongin kamu didalam hotel itu pertanda dia memang masih perduli sama kamu?. Cih! dia itu cuma kasihan . Kaka nyesel udah ikutan cara kotor kamu itu".
Nayla benar benar terkejut jadi semua ini adalah rencana Risa, dan seorang laki laki yang belum Nayla ketahui.
"Ingat kata kaka baik baik,lebih baik kamu ngaku secepatnya".
"Gak akan pernah".
Nayla langsung mengumpet didekat tong sampah, saat Risa berlari keluar dari dalam gudang. Untung saja tong sampah itu besar,jadi saat ia jongkok tubuhnya tertutupi.
Dan masih tersisa satu orang didalam, sampai saat ini Nayla masih penasaran.
"Padahal Risa bukan mahasiswa sini tapi gampang banget keluar masuk perasaan deh" ,gumamnya lirih.
"Tuh orang didalem lagi ngapain si, gak tau apa gue udah tahan nafas, bau banget sampah".
Tak berselang lama, Nayla mendengar derap langkah kaki yang berasal dari dalam.
Akhirnya pemuda tersebut keluar. Begitu keluar,Nayla mengintip untuk melihatnya. Lagi lagi Nayla dibuat terkejut jadi yang bekerja sama dengan Risa selama ini adalah Aldi.
Ada hubungan apakah mereka, bahkan mereka memanggil kaka adek. Jangan jangan mereka memang saudaraan.
Untung saja tadi ia sempat memotret Aldi dan Risa,ia akan menjadikan itu sebagai barang bukti nanti.
Setelah merasa aman, Nayla keluar dari persembunyian nya, ia langsung berlari kedalam toilet lagi. Ia akan membasuh wajahnya lagi dan berkumur.
"Gila, kalau kelamaan gue bisa mati tadi", monolog nya.
Setelah selesai,ia langsung pergi menemui Dafa. Pasti sekarang Dafa sedang khawatir pada Nayla.
Sesampainya dikantin Nayla langsung duduk didepan Dafa dengan nafas yang ngos ngosan. Bagaimana tidak,ia berlari sepanjang koridor tadi.
"Kemana aja si kamu Nay?. Baru aja aku mau susulin" ,tanya Dafa dengan khawatir.
"Kan aku bilang ketoilet".
"Toiletnya diparis? lama banget", cibirnya.
"Tadi ada sesuatu yang sangat penting, makanya aku lama".
"Apa?"
"Udah engga si, ya udah ayo pulang. Tapi kamu nanti harus kasih tau sesuatu yang penting tadi".
"Iya Dafa sayang", ucap Nayla.
Mereka berdua berjalan meninggalkan kantin menuju parkiran.
...***...
Sesampainya dirumah Nayla, mereka berdua langsung masuk kedalam.
"Assalamualaikum" ,salam mereka berdua.
"Waalaikumsalam".
"Loh papa udah pulang?" ,tanya Nayla heran. Biasanya jam jam segini Raka sibuk dikantor.
"Iya papa pulang mau bicarain masalah pelaku yang nabrak kamu. Kebetulan kamu juga pulang",jawab Raka.
"Nah kebetulan banget, Nayla juga mau bicarain itu" ,ucap Nayla.
"Ya udah mending sekarang duduk", sahut Fara.
Mereka ber empat akhirnya duduk disofa.
"Jadi?", tanya Dafa memulai pembicaraan.
"Begini, orang suruhan papa udah berhasil nangkep pelaku yang nabrak kamu, tapi sayangnya pelaku itu belum ngaku siapa yang nyuruh" ,Raka menjelaskan. Sedangkan Nayla, ia hanya manggut manggut saja.
"Sepertinya kita harus ngancem dia om biar ngaku", ucap Dafa.
"Gak usah repot repot ngancem" ,ujar Nayla santai.
Mereka bertiga langsung memandang Nayla bingung.
Merasa menjadi pusat perhatian,Nayla tersenyum terlebih dahulu sebelum menceritakan.
"Jadi gini-" Nayla menjeda kalimatnya.
"Gini apa?", tanya Fara.
"Kalian udah gak usah ngancem pelaku biar ngaku ,soalnya Nayla udah tau siapa yang nyuruh".
"Apa!" pekik mereka bertiga kompak.
"Yang bener, emang siapa?" ,tanya Dafa penasaran.
"Risa, dia yang nyuruh".
"Risa siapa?", tanya Raka.
Dafa berdehem sejenak sebelum menjawab, " Risa mantan saya om",ucapnya tak enak.
"Bagaimana kamu tau Nay?", tanya Fara.
Nayla langsung menjelaskan apa yang ia dengar sendiri saat digudang.
"Tapi bener dia yang nyuruh, atas dasar apa?" ,Fara kembali bertanya.
Nayla akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekamannya.
Setelah selesai,Nayla langsung mematikan ponselnya.
"Itu ada suara cowo loh Nay", ucap Dafa.
"Aku ngga tau hubungan mereka itu apa, tapi asal kamu tau cowo itu adalah Aldi".
"Aldi?" ,Dafa membeo.
"Iya, Aldi temen satu fakultasmu".
"Berarti mereka kerja sama " ,ucap Raka.
"Oke, secepatnya papa akan urus semua pada pihak berwajib".
"Harus om" ,sahut Dafa.
"Tolong rekaman itu jangan dihapus ya Nay, biar jadi bukti".
"Iya pa".