
Waktu bergulir begitu cepat, Dafa sekarang sudah bisa dikatakan sukses menjadi seorang dokter ,sedangkan Nayla ? ,ia harus mengubur keinginannya untuk bekerja mencari pengalaman sebanyak banyaknya , bukan tanpa alasan ,karena Nayla tak diperbolehkan oleh suaminya .Namun Nayla tak mempermasalahkan,toh Dafa melarangnya juga karena sekarang Nayla sedang mengandung buah hati mereka ,ini semua juga demi kebaikan Nayla dan calon bayinya .
Lagipula selama ini, Nayla begitu menikmati perannya menjadi seorang istri dan calon ibu,bekerja bisa nanti ,bukan bermaksud menunda, tetapi untuk sekarang Nayla hanya ingin fokus pada Dafa dan calon bayinya.
Kandungan Nayla sekarang sudah memasuki bulan ke 9,dengan keadaan perut yang membesar, Nayla sering kesulitan untuk berjalan ,apalagi dokter memprediksi Nayla akan melahirkan minggu minggu ini.
Sebagai suami yang siaga dan calon ayah yang sigap, Dafa sudah mengurangi jadwalnya untuk bekerja dirumah sakit.
Selama kehamilan Nayla, Dafa sungguh dibuat repot dengan masa ngidamnya. Pernah waktu itu Nayla ngidam ingin jalan jalan berdua dengan Brian,sang mantan, kemana mana nempel terus . Kenapa juga Neta sebagai istrinya Brian menerima saja?, sungguh Dafa dibuat bingung, apa dia tak cemburu suaminya jalan dengan mantannya. Kalau Dafa? Jangan ditanya lagi ,ia sangat uring-uringan dirumah,karena ia tak diperbolehkan ikut oleh Nayla. Meskipun Brian adalah sepupunya tapi tetap saja Nayla dan Brian pernah menjalin hubungan.
Rasa rasanya Dafa ingin sekali menolak permintaan Nayla tapi istrinya itu sampai memohon nya, apa lagi sampai matanya berkaca kaca ,sungguh Dafa tak tega melihatnya, apa lagi ini demi calon bayinya.
Harusnya calon bayinya ini bisa mengerti perasaan ayahnya kan, kenapa harus dengan mantan, oke sekali lagi MANTAN!, apa tidak bisa ngidam yang lainnya?,Dafa berteriak dalam hati.
Pernah juga dulu Dafa masih berada dirumah sakit sedang memeriksa pasien-pasiennya, namun Dafa akhirnya membatalkannya dan segera digantikan oleh Nadia . Dafa dihubungi oleh asisten rumah tangganya yang memberitahukan bahwa Nayla sedari tadi menangis terus, Dafa yang mendengarnya langsung buru buru pulang karena merasa khawatir.
Begitu sampai rumah, ia dibuat melongo, ternyata Nayla hanya ngidam ingin Dafa menangkap kecebong , Dafa benar benar kehabisan kalimat untuk menggambarkan perasaannya waktu itu, ia disuruh menangkap kecebong. Ia jadi ingin anaknya cepat cepat lahir ke dunia saja.
Oh ayolah ,kenapa calon anaknya ini rese sekali, banyak maunya. Bukannya ia tak suka, kalau ngidamnya masih biasa-biasa saja si Dafa terima. Dafa berharap semoga anak keduanya tidak seperti ini. Eh apa?anak kedua? yang pertama saja belum lahir ia sudah memikirkan anak kedua. Dasar!
PRANG.
Dafa yang sedang berada dikamar tersentak kaget setelah mendengar suara pecahan gelas . Ia langsung berlari keluar kamar menuju sumber suara tersebut , Dafa sangat khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya .
Ia teringat ucapan dokter kandungan yang memeriksa Nayla bahwa Nayla akan melahirkan dalam waktu dekat ini.
"Aarrrggghh......sakitt", rintih Nayla kesakitan sembari perpegangan pada sofa di ruang tengah. Dafa yang melihatnya langsung membulatkan matanya terkejut, apalagi setelah melihat adanya genangan air disekitar Nayla,entah karena air minum atau air ketubannya pecah.
"Astaga Nayla,tunggu sebentar", Dafa berlari dengan panik menuju kamar lagi untuk mengambil kunci mobil dan tas yang berisi beberapa pakaian,setelah selesai ia langsung membopong Nayla memasuki mobil menuju rumah sakit, dirumah juga ia hanya berdua dengan Nayla karena pembantunya sedang izin pulang .
Dafa mengendarai mobilnya dengan sangat tidak tenang, apalagi selama perjalanan ia selalu mendengar rintihan dari mulut Nayla.
Selepas sampai dirumah sakit, Nayla langsung dibawa kedalam ruangan bersalin diikuti oleh Dafa.
"Sakit Daf", Nayla merintih kesakitan dan keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Dafa hanya menggenggam tangan Nayla erat berusaha menyalurkan kekuatan. Ia juga menyeka keringatnya.
"Sssstt ......arrrgggh ..... Dafa" ,nafas Nayla menjadi naik turun tidak karuan.
Ini baru pembukaan delapan, masih ada dua lagi. Bahkan Nayla semakin sering kontraksi. Dafa sebenarnya ngilu melihat Nayla selalu merintih, tapi ia harus bisa menjadi sosok yang bisa menguatkan istrinya, Dafa terus membisikan doa dan semangat buat Nayla.
"Sakit Dafa", Nayla geleng geleng kepala sembari tangannya meremas tangan Dafa.
"Tahan ya sayang, tarik nafasnya pelan pelan",bisik Dafa,ia lalu mengecup kening istrinya lama,"aku yakin kamu kuat, katanya udah ngga sabar pengen liat dedek nya".
Dafa juga terus mengusap perut Nayla dengan pelan berharap ia bisa mengurangi rasa sakitnya. Tak berselang lama Dokter Shinta memasuki ruangan.
"Baiklah ibu Nayla kita cek dulu ya,dan ternyata ini sudah mencapai pembukaan yang sempurna. Jadi tarik nafasnya dalam dalam ya bu ,lalu keluarkan dengan perlahan lalu mengejan," Dokter Shinta memberikan instruksi.
Nayla mengikuti instruksi yang diberikan Dokter Shinta, ia kembali mengejan.
"Aku yakin kamu pasti bisa, sabar sayang, aku disini", bisik Dafa. Ia terus berusaha menguatkan.
"Sabar sabar palamu ini tuh sakit banget arrgghh" ,Nayla kembali mengejan.
"Iya sayang aku tau sakit, aku tau kamu pasti kuat".
"Kamu mah enak bilang gitu karena kamu ngga tau rasa sakitnya". Astaga kenapa Dafa jadi salah terus dimata istrinya.
"Ayo bu Nayla, sebentar lagi ini sudah kelihatan kepalanya, anda pasti bisa".
"Ayo sayang kamu pasti bisa", timpal Dafa menyemangati.
"Aarrrggghh" ,pekik Nayla. Bertepatan dengan itu, suara bayi menangis langsung terdengar nyaring. Semua yang di ruangan bernafas lega bahkan Nayla sampai meneteskan air matanya terharu . Dafa merasa sangat bahagia setelah melihat buah hatinya lahir ke dunia dengan sehat dan selamat . Ia resmi menjadi seorang ayah. Dafa bahkan menyeka air matanya,ia tak kuasa untuk tidak menangis.
"Makasih sayang kamu hebat" ,bisik Dafa dan langsung mencium kening Nayla. Ia juga mengelap keringat Nayla.
Nayla tersenyum bahagia,meskipun ia masih sedikit ngos-ngosan. Ternyata perjuangan seorang ibu itu tidak lah mudah, ia menatap anaknya dengan mata yang berkaca kaca.
" Selamat pak ,anak anda laki laki . Silahkan untuk di adzani terlebih dahulu. Kami akan membersihkan ibu nya dulu" .
Setelah mengadzani anaknya, Perawat langsung membersihkan buah hati mereka dan memberi kan bayi tersebut pada Nayla untuk diberi asi , Nayla menatap anaknya dengan terharu, bayinya lahir dengan normal dan sehat.
Dokter dan perawat pun pamit undur diri .
Dafa yang melihat Nayla tersenyum bahagia lantas ia juga ikut tersenyum, begitu hebatnya perjuangan seorang ibu, ia jadi teringat dengan Winda mamanya. Jujur ia sangat gemetaran menyaksikan bagaimana proses orang yang melahirkan. Tapi semua terbayarkan sudah atas lahirnya putra pertama mereka.
Dafa sangat bersyukur ,istri dan anaknya bisa selamat,jangan lupakan pula ia juga bersyukur akhirnya rambutnya tidak jadi botak.
"Mirip aku banget ya" ,ucap Dafa setelah mendekat ke arah Nayla.
"Iya curang ih kamu, oh iya Daf kamu udah ngabarin mama papa?".
"Ya ampun sampai lupa saking paniknya aku tadi, aku kabari mereka dulu ya",Dafa pamit pergi sebentar keluar ruangan untuk menghubungi orang tuanya, lagipula Nayla akan dipindahkan keruang rawat inap.
"Udah? " ,tanya Nayla setelah melihat Dafa kembali, ia hanya mengangguk menanggapi.
"Ngomong-ngomong mau dikasih nama siapa anak kita ini", Nayla kembali bertanya sembari menatap anaknya.
"Elvano Putra Mahardika".
"Nama yang bagus, aku suka. Halo baby El, ini bunda nak,itu ayah say hello" ,ucap Nayla pada anaknya.
Dafa lantas tersenyum melihat interaksi Nayla dan baby El.
"hallo sayang, jadi anak yang sholeh dan berbakti sama orang tua ya nak" ,ujar Dafa sembari mengelus pipi anaknya dengan ibu jarinya.
Keluarga Dafa kian lengkap dengan lahirnya El ke dunia. Kalian tanya bagaimana perasaan Dafa saat ini?, tentu saja bahagia. Hidup dengan Nayla saja sudah membuatnya bahagia, apalagi sekarang telah hadir anggota baru yang akan ikut meramaikan suasana rumahnya.