Nayla's Love Story

Nayla's Love Story
Tidak Direstui? •



Malam harinya sebelum Nayla tidur, ia menyempatkan untuk vidio call dengan Dafa. Melepaskan rasa rindunya.


"Udah malem tidur sayang "


"Belum ngantuk Dafa"


"Besok aku pulang, jalan jalan mau? "


"Mau"


"Iya udah ,sekarang tidur . Aku liatin dari sini"


"Iya ini mau tidur"


Nayla sudah bersiap merebahkan dirinya,ia menaruh ponselnya diatas nakas terlebih dahulu menghadap ke arahnya,untuk memudahkan Dafa melihatnya.


"Merem sayang, gak usah ngintip"


Nayla lantas terkekeh ," Yah ketauan".


"Good night baby"


"Good night to sayang" .


Tak berselang lama,Nayla sudah terlelap dalam tidurnya.


"Aku sayang banget sama kamu Nay, apapun yang terjadi kedepannya, semoga kamu tetap mau bertahan sama aku dan aku gak bakalan biarin kamu pergi dari hidup aku, atau aku bakalan hancur".


Setelah mengatakan itu, Dafa langsung mematikan sambungan telfonnya. Ia sudah bersiap untuk memejamkan matanya menyusul Nayla ke alam mimpi.


Dafa sudah tidak sabar untuk hari esok, untuk bertemu dengan kekasihnya,belum juga ada seminggu ia pergi, Dafa sudah sangat merindukannya.


...***...


Keesokan paginya .


Dafa sudah bersiap untuk pulang kerumahnya. Ia sungguh tidak sabar.


"Mama cepetan deh" ,ucap Dafa pada Winda.


"Sabar sayang, buru buru banget kenapa si?" ,tanyanya.


"Udah gak sabar pengen ketemu Nayla ,mama".


"Dasar, sekarang kamu udah jadi budak cintanya Nayla", sahut Reza-papanya.


"Papa juga dulu gitu kalau sama mama" ,balas Dafa tak mau kalah.


"Udah udah, ayo katanya buru buru. Kenapa masih ngomel" ,Winda langsung melerai, takutnya nanti malah berantem antara anak dan bapaknya.


Mereka bertiga lantas berpamitan terlebih dahulu kepada saudara saudaranya.


"Kami pulang dulu mah, jaga kesehatan ya",pamit Winda dan Reza.


"Dafa pulang dulu ya nek" ,pamitnya seraya memeluk neneknya dan mencium keningnya dengan sayang.


"Hati hati ya, sering sering main kesini. Ajak pacar kamu juga" ,jawabnya lembut.


Dafa kaget,ternyata neneknya tau kalau ia sudah punya pacar, " nenek tau darimana kalau Dafa udah punya pacar? " ,tanya nya.


"Mama kamu udah cerita sama nenek".


Mendengar jawaban neneknya, Dafa lantas tersenyum tipis. Apakah ini pertanda mamanya sudah bisa menerima kehadiran Nayla?,semoga saja begitu. Dafa yakin mamanya itu bakal merestui.


"Cerita apa aja nek".


"Dafa ayo, katanya buru buru mau ketemu pacar" ,obrolan mereka terpaksa berhenti karena ucapan Reza.


"Dafa pergi dulu ya nek. Kapan kapan Dafa kesini lagi ajak pacar Dafa. Biar nenek bisa kenalan". Dafa langsung menyusul kedua orang tuanya yang sudah masuk kedalam mobil.


Setelah Dafa memasuki mobilnya, Reza langsung menjalankannya. Selama perjalanan menuju rumah, Dafa sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia terkekeh karena berhasil menggoda Nayla. Dafa tau sekarang pasti Nayla pipinya sudah memerah. Ia jadi tak sabar untuk bertemu kekasihnya.


Dari kaca yang ada didalam mobil, Winda memperhatikan putranya yang tersenyum sendiri setelah melihat ponselnya. Winda paham pasti Dafa sedang chatingan dengan Nayla.


"Senyam senyum sendiri. Liatin apa kamu?", tanya Winda basa basi.


"lagi chatingan sama Nayla ma", jawab Dafa dengan tatapan yang masih mengarah pada ponselnya. Dugaan Winda benar, apa yang menyebabkan putranya senyam senyum sendiri.


"Kamu cinta banget sama Nayla?" ,tanyanya lagi. Winda berusaha mencari informasi mengenai Nayla dari Dafa langsung.


"Banget".


"Sayang banget?".


"Banget".


"Sebenarnya apa yang membuat kamu sebegitu cintanya sama dia?".


"Dafa cinta sama Nayla tanpa alasan mama,kesederhanaan dia yang membuat Dafa tertarik untuk mendekatinya. Pertama kali melihat Nayla menangis entah kenapa itu buat hati Dafa sakit ma. Nayla juga orangnya apa adanya gak pernah neko neko. Diajak makan dipinggir jalan dia mau. Setiap Dafa mau beliin dia sesuatu pasti nolak. Harus Dafa paksa paksa dulu. Berkat Nayla, Dafa jadi bisa melupakan Risa ma" ,jawab Dafa menjelaskan.


"Anak papa pinter banget ngomong nya kalau soal cinta" ,celetuk Reza.


"Ini itu dari hati pa, bukan sekedar omongan dari mulut", ujar Dafa.


"Dasar bucin", ledek Reza. Winda hanya terkekeh mendengar perdebatan mereka berdua.


"Mama tau gak?", tanya Dafa tiba tiba.


"Mana mama tau sayang, kamu kan belum bilang".


"Oiya hehe"ucapnya sembari cengengesan.


"Sebenarnya Nayla itu mantannya Brian loh" ,Dafa melanjutkan omongannya.


"Oh iya?" ,ucap Winda tak percaya.


"Iya ma, mereka udah pacaran 2 tahun tapi harus putus gara gara Brian tunangan sama Neta. Tau gak ma?,Neta itu malah sahabat dekat Nayla".


"Dunia ternyata gak seluas daun kelor ya", jawab Winda.


"Yaiya la ma, daun kelor itu kecil" ,sahut Reza.


"Apa si,papa ikutan aja",sahut Dafa. Sedangkan Reza hanya mengedikan kedua bahunya acuh.


"Daf"z panggil Winda.


"Iya ma".


"Kalau semisal mama gak ngerestuin hubungan kalian bagaimana?" ,tanya Winda.


Deg!


Mendengar penuturan mamanya, Dafa langsung terdiam. Apa benar mamanya ini tidak akan merestui nya?. Tapi kenapa mama harus cerita tentang Nayla sama nenek, kalau mamanya tak merestuinya.


"Maksud mama gimana?".


"Ah bukan apa apa. Lupakan saja".


Selama perjalanan, Dafa masih terus terdiam memikirkan ucapan mamanya. Bagaimana kalau hubungannya tidak akan direstui mamanya. Apakah dia harus terus bertahan dan meyakinkan mamanya ?,atau harus merelakan Nayla untuk yang lain? . No!, Dafa tidak setuju dengan opsi keduanya. Ia tak akan membiarkan Nayla pergi dari hidupnya. Apapun yang terjadi, ia harus bisa meyakinkan mamanya bahwa Nayla memang yang terbaik untunya.