My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Sakit



"Awww sakit, ibu perut Nisa sakit sekali," rintih Nisa memegang perutnya.


"Kamu kenapa Nisa, ayo pergi ke kamar biar kamu istirahat," ucap ibu khawatir dan membawa Nisa ke kamar.


"Nisa juga nggak tau Bu."


"Kamu tunggu sebentar, ibu akan pergi beli obat ke apotek," ucap ibu.


"Jangan lama ya Bu, Nisa tidak tahan lagi sakit perut ini."


Ibu Nisa pergi ke apotek dengan buru-buru, dan hampir saja di tabrak oleh motor.


"Astaghfirullah, maaf ya Bu. Ibu tidak apa-apa kan?" tanya pengendara dan memberhentikan motornya.


"Alhamdulillah saya baik-baik saja," sahut ibu dan berbalik badan ke arah pengendara motor itu.


"Ustadz Rian," ucap ibu.


"Ibu, maaf ya saya hampir saja menabrak Ibu," kata ustadz Rian.


"Seharusnya Ibu yang minta maaf karena Ibu menyebarangi jalan buru-buru dan tidak hati-hati."


"Ibu mau kemana, kenapa sampai buru-buru sekali?" tanya ustadz Rian.


"Ibu mau ke apotek beli obat."


"Siapa yang sakit bu?" tanya ustadz Rian khawatir.


"Nisa ustadz, tadi pas pulang sekolah dia merintih perutnya sakit," jawab ibu.


"Astaghfirullah Nisa sakit Bu."


"Biar saya antar kan ke apotek Bu," tawar ustadz Rian lagi


"Nggak usah ustadz, ibu takut ngerepotin ustadz."


"Ibu tidak ngerepotin saya, ayo naik Bu." ustadz Rian lalu mengantarkan ibu menuju ke apotek.


Ustadz Rian dan ibu pun pergi ke apotek dan membeli obat penghilang sakit perut.


"Pasti gara-gara makan bakso terlalu banyak tadi Nisa sakit perut, dasar bayi gede keras kepala." batin ustadz Rian di atas motor.


"Makasih ya ustadz Rian, sudah bantu Ibu hari ini," ucap ibu lalu turun dari atas motor.


"Sama-sama Bu."


"Ibu Nisa tidak kuat lagi menahan sakit perut ini," rintih Nisa lemah di ambang pintu.


Ibu Nisa dan ustadz Rian mendengar seperti ada seseorang yang jatuh di depan rumah dan benar saja ketika mereka melihat Nisa sudah tidak sadarkan diri lagi depan pintu.


Ustadz Rian dan ibu Nisa, sangat khawatir dengan keadaan Nisa. Mereka langsung membawa Nisa ke rumah sakit. Sampainya di sana Nisa langsung di bawa ke ruang IGD dan di tangani oleh dokter.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya?"


"Penyakit maag anak ibu kambuh, tetapi tidak perlu di khawatirkan anak ibu baik-baik. Dan sebentar lagi siuman," jelas dokter.


"Alhamdulillah," ucap ibu dan ustadz Rian barengan.


"Ya sudah saya mau menangani pasien lainnya," ucap dokter lalu pergi.


Ibu dan ustadz Rian pergi masuk ke dalam ruangan tempat di rawat Nisa.


"Nisa Ibu tidak tega melihat kamu terbaring lemah seperti ini." kata ibu Nisa sedih.


"Ini ujian dari Allah Bu, yakinlah bahwa ada hikmah di balik semua ini." sahut ustadz Rian menenangkan ibu.


"Permisi, ibu tolong selesaikan administrasi terlebih dahulu," ucap suster di depan pintu.


"Iya suster saya akan segera pergi."


"Ustadz Rian ibu titip Nisa sebentar, ibu mau menyelesaikan administrasi dulu."


"Biar saya saja Bu yang mengurusnya."


"Tidak usah biar Ibu saja, ustadz sudah banyak bantuin Ibu hari ini," ucap ibu lalu beranjak pergi.


Ustadz Rian menatap Nisa penuh sendu.


"Bayi gede sadar dong, jangan buat ustadz khawatir. Mana Khairunnisa yang selalu ceria itu, ustadz rindu."


Sambil menunggu ibu Nisa, ustadz Rian memutuskan untuk membaca Al-qur'an.


Lantunan ayat suci Al-Quran yang indah dan merdu terdengar di telinga Nisa, Nisa membuka matanya perlahan-lahan dan melihat siapa yang sedang membaca Al-qur'an.


Terlihatlah wajah yang selalu ada di setiap hari Nisa, sedang fokus pada mushaf ya. Dan tidak lain adalah ustadz Rian.


Entah mengapa air mata Nisa lolos begitu saja di pipinya, saat mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran. Ayat-ayat suci Al-qur'an yang dilantunkan oleh ustadz Rian membuat hati Nisa tersentuh.


"Alhamdulillah akhirnya kamu siuman," ucap ustadz Rian tersenyum lega.


Nisa tidak menggubris perkataan ustadz Rian. Ustadz Rian melihat ada tetesan air mata yang jatuh dari mata Nisa.


"Kenapa kamu menangis, perut kamu masih sakit?" tanya ustadz Rian khawatir.


"Nggak kok," ketus Nisa.


"Ibu kemana ustadz?" tanya Nisa lagi.


"Ibu kamu sedang mengurus administrasi."


"Oh."


"Terus ustadz kenapa bisa ada di sini?"


"Ciee jangan-jangan ustadz nggak bisa jauh dari aku ya ...." ledek Nisa.


"Nggak, tadi ustadz tidak sengaja bertemu dengan Ibu kamu terus–"


Belum juga selesai penjelasan ustadz Rian, Nisa sudah memotong saja pembicaraan ustadz Rian.


"Nggak baik bohong ustadz."


"Ustadz sudah jujur dan tidak bohong Nisa."


"Nggak percaya, bilang aja kalau ustadz tidak bisa jauh dari Nisa. Nisa ini memang ngangenin." bangga Nisa.


" Dasar bayi gede keras kepala!"


"Ustadz nyebelin!" ejek Nisa sambil menjulurkan lidahnya.


"Tidak boleh menjulurkan lidah, nggak baik."


"Bodo amat, ustadz sini deh sebentar."


"Ada apa?"


"Sini berdiri di dekat Nisa sekarang," titah Nisa


Ustadz Rian mengikuti perintah Nisa.


"Nisa sakit lepasin dong." rintih ustadz Rian karena Nisa menarik hidungnya


"Ustadz stop panggil Nisa bayi gede dulu."


"Nggak mau."


"Harus mau, titik!"


"Nggak."


"Harus mau, pokoknya."


"Nggak, bayi gede keras kepala." keukeh ustadz Rian.


"Hmmm." deheman ibu yang baru masuk.


Nisa merasa terkejut kedatangan ibunya dan melepaskan tangannya di hidung ustadz Rian.


"Eee Ibu," ucap Nisa cengengesan.


"Nisa jangan bandel sama calon suami kamu."


"Apa sih Bu."


"Ibu becanda Nisa, bagaimana perut kamu masih sakit atau tidak?"


"Sudah mendingan Bu."


"Syukurlah kalau gitu."


Ustadz Rian masih memegang hidungnya yang terasa sakit.


"Jangan marahnya ustadz, hidung ustadz sih gemesin sekali hehe," ucap Nisa tersenyum kikuk.


"Hmm." ustadz Rian hanya berdehem.


"Ibu lihat calon mantu Ibu itu, cepat ngambek. Hu ...," tunjuk Nisa ke arah ustadz Rian.


"Sudah Nisa, jangan jahilin ustadz Rian." kata ibu untuk memberhentikan jahilan Nisa.


"Ustadz Rian ganteng. Nisa minta maaf ya."


Ustadz Rian pura-pura tidak mendengarnya, dan ustadz Rian sangat kesal dan ingin sekali mencubit pipi Nisa. Tetapi sayangnya belum halal.