
Nisa dan ustadz Rian sudah selesai melaksanakan shalat subuh. Pagi ini Nisa tidak bersemangat, karena Nisa masih mengantuk dan ingin tidur lagi. Mumpung hari minggu.
"Nisa," panggil ustadz Rian lembut.
"Hmm." Nisa hanya berdehem.
"Kenapa muka itu di tekuk?" tanya ustadz Rian sambil menaiki sebelah alisnya.
"Nggak ada apa-apa, cuman masih ngantuk," jawab Nisa malas.
"Pagi ini kita jogging yah," ajak ustadz Rian yang mampu membuat Nisa tersentak kaget.
"Eh, nggak-nggak," tolak Nisa menggelengkan kepalanya cepat.
"Nis ....," melas ustadz Rian, menampilkan ekspresi memelas terbaiknya.
Inilah salah satu kelemahan Nisa. Jika ustadz Rian sudah memelas, maka ia tidak akan bisa menolaknya.
"Iya .... iya deh," pasrah Nisa. "Tapi jangan jauh-jauh larinya, 5 meter aja yah. Udah itu kita pulang," sambung Nisa lagi.
"Apaan cuma 5 meter!" tolak ustadz Rian.
Nisa mendengus kesal akibat tawarannya yang tidak terima.
"Istriku, olahraga itu jangan setengah-setengah, lagian kan Mas tidak pernah melihat kamu jogging." Ustadz Rian tetap keukeh membujuk Nisa.
Nisa membuang napas pasrah. "Baiklah ..."
"Olahraga itu bagus untuk kesehatan. Mas nggak mau kamu sakit. Lagian hari ini, hari ahad, kan? kita habiskan waktu berdua," tutur ustadz Rian yang tiba-tiba genit dengan kedipan matanya.
Deg!
Jantung Nisa berdegup dua kali lebih kencang.
"Ya ampun! ustadz Rian genit sekali," batin Nisa.
"Ustadz Rian nggak usah gitu, Nisa jijik lihatnya," ucap Nisa sambil menirukan ekspresi seseorang yang sedang muntah.
Ustadz Rian terkekeh melihat ekspresi Nisa yang lucu dan gemas.
"Kamu siap-siap sudah. Sebentar lagi jam enam. Gh, istriku yang paling cantik. Ustadz tunggu di bawahnya," ujar ustadz Rian sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi.
Nisa mencebik, hari ini malas sekali untuk dirinya olahraga. Tapi, entah kenapa Nisa tidak bisa menolak permintaan suaminya itu.
Nisa berjalan dengan malas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, agar kantuknya hilang. Nisa sudah siap-siap memakai training, baju kaos berlengan panjang, yang ukurannya lebih besar daripada tubuhnya. Tak lupa di padukan dengan hijab instan yang membaluti kepalanya.
Ustadz Rian memang sengaja membelikan Nisa baju yang ukurannya lebih besar dari ukuran tubuh Nisa. Ustadz Rian tidak ingin jika istrinya menjadi tontonan para laki-laki lain selain dirinya di luar sana.
"Nisa sudah selesai ...," ucap Nisa yang turun dari tangga.
"Makan dulu sayang," panggil ustadz Rian dari meja makan.
Deg!
"Apa sayang? aku nggak salah dengar. Aa nggak mungkin," pikir Nisa keras.
"Makan dulu sayang ...," jawab ustadz Rian dan melakukan penekanan di kata SAYANG.
Seketika pipi Nisa memanas dan lagi-lagi jantungnya berdegup dua kali lebih kencang.
"Aku nggak salah dengar," batin Nisa.
"Kenapa diam di situ," ucap ustadz Rian membuyarkan lamunan Nisa.
"Mmm n--ggak kok," sahut Nisa gugup dan segera menuju meja makan.
Ustadz Rian tersenyum semringah melihat pipi Nisa yang merah merona.
***
"Mau jogging di mana?" tanya Nisa ketika mereka berdua sudah di depan rumah
"Sekitar sini sih, kita lari dari sini sampai pusat perbelanjaan yang ada di depan," sahut ustadz Rian.
"UU jauhnya banget, Nisa capek pastinya. Ustadz ... Nisa nggak jadi deh joggingnya," melas Nisa.
Ustadz Rian tidak peduli dengan ocehan Nisa, dia menarik tangan Nisa untuk segera berlari beriringan dengan dirinya, Nisa pun nurut aja.
"Wah," kagum Nisa, melihat banyak orang juga yang ikut jogging pagi ini.
Ustadz Rian hanya terkekeh dan beralih menarik tangan Nisa agar mulai berlari kembali.
Ustadz Rian dan Nisa berlari beriringan, sesekali ustadz Rian melirik ke arah Nisa di sampingnya, takut jika istrinya lelah dan ketinggalan. Ustadz Rian tidak akan membiarkannya.
"Ustadz ... Nisa capek Huf---t," ngeluh Nisa, membungkuk memegang kedua lututnya dengan napas ngos-ngosan dan menyeka keringatnya di wajahnya.
Nisa memang jarang olahraga. Baru beberapa meter berlari saja sudah sangat capek dan serasa ingin mati.
Ustadz Rian mundur dan berdiri sejajar dengan Nisa yang sempat ketinggalan.
Ustadz Rian menggendong Nisa ala bridal style yang mampu menarik perhatian semua orang di tempat itu. Membuat orang-orang di yang ikut jogging pagi itu juga iri melihat mereka besar. Keromantisan ustadz Rian hanya tertuju pada istrinya saja.
"Soswitt ..."
"Aku juga pengen!" pekik gadis lain yang menggigit kukunya melihat mereka berdua.
Nisa memberontak minta di turunkan, menatap kesal ke arah ustadz Rian, yang hanya di balas cengengesan oleh ustadz Rian.
"Ustadz, Nisa malu, turunin!" pekik Nisa menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Nggak usah malu, suami sendiri juga," balas ustadz Rian santai.
Nisa mendelik, suaminya ini sungguh menyebalkan dan ngeselin. Nisa sangat terganggu dan tidak suka menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di tempat itu.
Ustadz Rian menurunkan Nisa dengan hati-hati di depan kursi besi yang ada di bawa pohon. Nisa menggeram kesal dan duduk tanpa menoleh sedikitpun ke arah ustadz Rian.
Nisa sangat malu ....