My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Kepergian Ibu



Pagi ini suasana di SMA Bakti cukup riuh dan heboh karena ada siswa pindahan dari luar negeri, yang katanya ganteng dan pintar. Di kelas XII IPA 1 tak kalah hebohnya. Nisa yang baru saja datang memandang tak suka melihat teman-teman perempuan yang sibuk memakai alat makeup yang berlebihan. Seperti ibu-ibu yang pergi kondangan saja.


"Bil, kenapa semua cewek dikelas kita pakai makeup berlebihan gitu sih?" tanyanya lalu menghempaskan tas ransel diatas meja, ia duduk bertopang dagu di samping Nabila. Mood Nisa sangat tidak bagus hari ini.


"Ada siswa pindahan dari luar negeri, Nis. Dan akan masuk ke kelas kita, saingan baru kamu Nis." Nisa termasuk tipe cewek pintar di dalam kelasnya, setiap penerimaan raport semester ia berhasil menduduki peringkat pertama. Banyak lelaki yang mengejarnya mantan ketos itu. Namun, Nisa tidak pernah peduli dan cuek kepada lelaki genit yang mengejarnya.


Nisa manggut-manggut mengerti, dia sudah tahu siapa siswa pindahan itu.


"Nisa, tumben kamu nggak kepo tentang siswa baru itu. Seraya dia akan menjadi saingan baru kamu." Nabila menatap heran kepada Nisa, tidak biasanya gadis ini diam. Biasanya mulutnya sudah ngoceh


saja. "Kamu ada masalah, Nis?"


"Nggak ada, Bil."


Kring ... kring ... kring ...


Suara bel masuk berbunyi, semua siswa sudah duduk di meja mereka masing-masing.


Ibu Laili, yang merupakan guru bahasa Indonesia jam pertama pagi ini berjalan dengan seorang pria yang mengekor di belakangnya. Semua siswi menjerit histeris melihat pria itu yang tak lain Nathan.


"Assalamu'alaikum, anak-anak. Pagi ini, kalian kedatangan teman baru, yang cukup berprestasi di sekolahnya dulu. Suatu keberuntungan bagi sekolah kita mendapat siswa seperti ini," ucap ibu guru panjang lebar, lalu tersenyum tipis ke arah Nathan.


"Nathan sekarang perkenalkan diri kepada teman-teman kamu," ucap ibu guru.


"Iya Bu," jawab Nathan santai.


"Assalamu'alaikum, perkenalkan nama gue Nathan Maulana Fikri, panggil saja Nathan. Semoga kalian semua bisa menerima kehadiranku di sini, terimakasih," jelas Nathan singkat.


Siswa di dalam kelas menyambut kedatangan Nathan dengan ramah. Tetapi tidak dengan Nisa, dia hanya memasang wajah malas dan datar pada saat Nathan memperkenalkan diri.


"Baiklah Nathan sekarang kamu boleh duduk, di belakang meja Nisa dan Nabila."


Saat Nathan akan berjalan menuju ke mejanya, Nisa memprotes.


"Bu, saya tidak setuju dia. Ah, lebih tepatnya murid baru itu duduk di belakang kami Bu ...,"


"Khairunnisa, jangan banyak protes. Apa salahnya Nathan duduk di belakang kalian."


"Tapi Bu, di samping Ivan itu ada kursi kosong. Suruh aja dia duduk bersama Ivan Bu."


"Ini sudah keputusan ibu, Nathan tetap duduk di situ."


"Ta–" ucap Nisa terpotong.


"Sudah Khairunnisa jangan protes terus." jawab ibu Laili.


"Nathan silahkan duduk di meja kamu," titah ibu Laili.


Nathan kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya. Nathan memberikan senyuman tipis ke arah Nisa, Nisa membuang wajahnya dan enggan menyapa Nathan.


Jam pelajaran pertama telah usai, para siswa-siswi di dalam kelas berhamburan keluar untuk istirahat.


"Nisa kantin yuk," ajak Nabila.


"Yuk," jawab Nisa antusias.


"Nisa tunggu," ucap Nathan menahan tangan Nisa.


Semua mata siswi yang masih ada di dalam kelas, menatap Nisa dan Nathan. Mereka semua cemburu dan iri kepada Nisa karena di dekati oleh cowok ganteng.


"Apa sih, main pegang aja. Jangan sok kenal deh," ucap Nisa dingin dan melepaskan tangannya dari Nathan.


"Aku pindah ke sekolah ini karena kamu Nis, jangan bersikap seperti ini kepada aku karena aku tidak menyukainya," jawab Nathan.


"Oo, itu terserah kamulah. Dan bukan urusan aku," ketus Nisa.


"Nabila, ayo kita pergi ke kantin," ucap Nisa dan segera menarik tangan Nabila. Mereka meninggalkan Nathan yang masih mematung di tempat.


"Nisa, kenapa kamu bersikap seperti itu kepada Nathan?" tanya Nabila.


"Nabila, sudah jangan bahas tentang Nathan dulu. Aku tidak mau membicarakan dia lagi."


"Iya deh, judes amat sih."


Selama perjalanan ke kantin, mata Nisa terus mencari sosok ustadz Rian. Karena tidak biasanya ustadz Rian tidak nongol di hadapannya.


"Kamu cari siapa?"


"Nggak ada kok, Bil."


"Pasti cari keberadaan Pak Rian ya."


"Kepo," sahutnya jutek.


"Ngaku aja, Nis. Sama aku aja malu sih," goda Nabila mencolek lengan Nisa.


"Nisa ..." teriak seseorang panik dari belakang.


Nisa dan Nabila menghentikan langkahnya.


"Kamu ikut paman sekarang," ucapnya dengan nafas ngos-ngosan.


"Kemana paman? ini masih jam sekolah."


"Kita pergi ke rumah sakit sekarang, ibu kamu–" ucap paman Nisa terpotong.


"Ibu kenapa?" tanya Nisa khawatir.


"Nanti kamu akan tau sendiri, kita pergi secepatnya sekarang ke rumah sakit sebelum terlambat." Paman Nisa segera menarik tangan keponakannya itu.


"Nabila, nanti bilang sama guru aku izinya." teriak Nisa lalu berlalu dihadapan Nabila.


"Iya Nis, semoga ibu kamu tidak apa-apa." sahut Nabila.


***


Sesampainya di rumah sakit, Nisa segera menuju ruangan tempat ibunya di rawat. Saat Nisa memasuki ruangan tempat ibunya, terlihat ibunya sudah terbaring lemah, dengan tangannya sudah diimpus, dan alat bantu bernafas di hidungnya.


"Ibu ... kenapa bisa begini," isak Nisa kemudian memeluk tubuh ibunya.


"Kamu sudah datang, Nak," ucap ibu lemah.


"Ibu kenapa bisa begini, tadi sebelum Nisa berangkat sekolah ibu baik-baik saja," isak Nisa.


"Nisa, ibu tidak kuat lagi menahan penyakit ini."


"Ibu jangan bicara seperti itu, ibu pasti kuat. Nisa tidak mau kehilangan ibu," isak Nisa dengan derai air mata di pipinya.


"Nisa, tolong kabulkan permohonan ibu untuk terakhir kali ini."


"Permohonan apapun Bu, Nisa akan turuti asalkan ibu sembuh dan senang."


"Kamu menikah dengan ustadz Rian sekarang ya," ucap ibu Nisa dengan nada lemah.


"Nisa masih sekolah, Bu."


"Nisa, tolong penuhi permintaan ibu ini," ucap ibu sambil memegang tangan putrinya.


Nisa diam, air matanya terus mengalir melihat kondisi ibunya. Mau tidak mau, Nisa menuruti keinginan ibunya karena Nisa tidak ingin melihat ibunya sedih, dan semakin membuat ibunya sakit apabila menolaknya.


"Baiklah Bu, Nisa akan menikah dengan ustadz Rian sekarang," ucap Nisa meyakinkan ibunya.


Tanpa Nisa sadari ternyata ustadz Rian sudah ada di rumah sakit sejak tadi.


"Ustadz Rian sini sebentar," panggil ibu Nisa lemah kepada ustadz Rian yang berada di pintu.


"Iya Bu ada apa?"


"Ibu minta ustadz Rian menikahi Nisa sekarang di sini, ibu harap ustadz mengerti."


"Dengan izin Allah Bu, saya akan menikahi Nisa sekarang." jawabnya.


Paman Nisa segera menelpon penghulu dan acara akad nikah pun di laksanakan.


Surah Ar-Rahman menjadi mahar pernikahannya. Ustadz Rian melantunkannya dengan suara yang indah dan merdu.


"Sah," ucap beberapa orang yang menjadi saksi antara pernikahan Nisa dan ustadz Rian.


Innalilahi wa innailaihi raji'un ...


Selesai ijab qobul, ibu Nisa menghembuskan nafas terakhirnya.


Nisa menangis sejadi-jadinya, Nisa tidak bisa menerima ibunya meninggal dunia.


Hiks ... hiks ... hiks ...


"Ibu bangun, jangan tinggalin Nisa ....," isak tangis Nisa, sambil memeluk tubuh ibunya yang sudah meninggal itu.


Ustadz Rian mendekati Nisa dan langsung memeluk tubuh Nisa yang sedang rapuh itu.


"Nisa kamu harus menerima semua ini, ini sudah menjadi takdir dari Allah," ucap ustadz Rian mencoba menenangkan Nisa.


"Ustadz kenapa ibu meninggalku secepat ini, aku sekarang tidak punya siapa-siapa lagi dan tidak ada lagi yang peduli sama aku hiks ...," ucap Nisa menangis di pelukan ustadz Rian.


"Jangan bicara seperti itu Khairunnisa, ustadz sekarang yang akan menjaga dan menemani kamu, kamu tidak sendirian sekarang."


Nisa terus menangisi kepergian ibunya, dua orang yang sangat berharga dan sangat dicintai sudah kembali pada-Nya, meninggalkan dia seorang diri untuk selamanya.


.


.


.


B E R S A M B U N G