
"Nisa buka pintunya." panggil ibu Nisa dari luar kamar.
"Iya bu, bentar Nisa lagi ganti baju." sahut Nisa.
"Ada apa bu?" tanya Nisa membuka pintu kamar.
"Nih buku dari ustadz Rian," ucap ibu menyodorkan kresek hitam itu kepada Nisa.
"Ini buku apa bu?"
"Ibu juga nggak tau, kamu buka aja. Ibu mau masak dulu," ucap ibu lalu pergi.
Nisa kembali ke dalam kamar, lalu membuka kresek hitam karena penasaran dengan buku yang di berikan ustadz Rian.
"Ha! gue nggak salah lihat ...." ucap Nisa kesal setelah melihat judul buku yang di berikan ustadz Rian.
"Buku apaan ini nggak jelas dan menarik, sudah judulnya cara menjadi istri shalihah dan meneladani sikap Fatimah Az-Zahra." batin Nisa kesal.
"Tu ustadz memang nyebelin, masa gue dikasih buku gituan. Ogah gue bacanya, kaya' nggak ada kerja lain saja." gumam Nisa kesal.
Nisa cukup lelah hari ini, dia langsung merebahkan tubuhnya dan tidur dengan nyenyaknya. Namun tidurnya terganggu karena suara handphonenya berbunyi.
Trutt... trutt... trutt...
Suara handphone Nisa berbunyi.
"Siapa sih yang menelpon larut malam ini." ucap Nisa mendengus kesal dan mengambil handphonenya.
"Ini siapa, malam-malam nelpon. Ganggu orang tidur saja."
"Assalamu'alaikum Khairunnisa, maaf ya ustadz ganggu kamu tidur." kata ustadz Rian dari telpon.
"Ustadz Rian, nggak ada kerja lain apa, malam-malam ganggu saya tidur saja." kesal Nisa
"Ustadz sengaja nelpon kamu larut malam ini, untuk membangunkan kamu shalat tahajud."
"Nisa tidak mau, kalau ustadz mau shalat ya shalat saja. Nggak usah ganggu tidur Nisa. Malam-malam bikin aku marah saja." ucap Nisa lalu memutuskan telpon.
Nisa mematikan handphone agar ustadz Rian tidak mengganggunya.
"Belum juga jadi suami, sudah ngatur hidupku saja. Bagaimana nanti kalau sudah nikah sama tu ustadz. Bisa gila aku nanti." Nisa mencebik dan berpikir keras.
Keesokan paginya ...
Jam sudah menunjukkan pukul 06:30, alarm sudah berdering kesekian kalinya, tetapi gadis yang masih menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Masih enggan membuka kedua bola matanya.
"Kok kaya ada hujan sih." batin Nisa karena seperti ada percikan air yang jatuh di wajahnya.
"Nisa bangun, ibu siram lagi kamu pakai air ini," ucap ibu Nisa geram sambil memegang gayung.
Hoam ....
Nisa mengucek matanya dengan malas
"Cepatan sudah bangun lihat itu jam sudah pukul berapa coba." sahut ibu marah.
Nisa langsung melihat malas jam dinding yang terpasang di kamarnya dan matanya langsung melotot karena terkejut melihat jam sebentar lagi menunjukkan pukul 7 pagi.
"Astaga, Ibu kenapa nggak bangunin Nisa sih..." Nisa langsung berlari terbirit\-birit ke kamar mandi. Sementara ibu Nisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya semata wayangnya yang selalu ceroboh.
"Nisa berangkat dulu bu." Nisa pamit kepada ibunya.
"Kamu nggak sarapan dulu dan itu\-\-" tunjuk ibu di wajah Nisa.
Belum sempat ibu selesai bicara Nisa sudah berlari kecil, Nisa hanya takut Ia telat.
Diperjalanan menuju sekolah Nisa masih kesal dengan ustadz Rian karena menurut Nisa, dia terlambat bangun gara\-gara ustadz Rian mengganggu tidurnya semalam.
"Aku harus cari tu ustadz." batin Nisa kesal dan mata mencari\-cari keberadaan ustadz Rian.
Nisa merasa aneh dan heran karena siswa di sekolah berbisik dan tertawa kecil ketika melihatnya.
"Ada apa sih, mereka melihat diriku sebegitunya. Mungkin nggak pernah lihat cewek cantik seperti diriku." bangganya memuji diri.
"Kebetulan tu ustadz baru datang, tak akan aku kasih ampunan!" ucap Nisa kemudian berjalan ke arah parkir tempat ustadz Rian memarkir motornya.
"Ustadz Rian." teriak Nisa dengan suara keras.
"Eee calon istri ada apa, kangen sama ustadz ya." kata ustadz Rian yang sedang membuka helm di kepalanya.
"Nggak, jangan geer' deh!" kata Nisa dengan ekspresi kesal.
Ustadz Rian malah tertawa geli setelah melepaskan helm di kepalanya saat melihat wajah Nisa.
"Kenapa ustadz Rian tertawa, nggak lucu! Nisa sedang marah pada ustadz. Gara\-gara ustadz, hari ini aku telat bangun dan hampir saja terlambat." cerocos Nisa.
*Deg!
Jantung Nisa berdegup dua kali lebih kencang, dengan sikap ustadz Rian saat ini*.
Nisa langsung diam membeku, bahkan tidak dapat berkata apapun karena tangan ustadz Rian berada di bawah dagunya.
"Itu bekas pasta gigi, masih ada di dagu kamu." tangan ustadz Rian membersihkan bekas pasta gigi itu di dagu Nisa dengan penuh kelembutan.
"Jadi cewek nggak bersih banget sih." celoteh ustadz Rian lalu menarik manja hidung Nisa.
*Nisa masih diam, seperti patung. Pipinya seperti kepiting rebus menahan malu*.
"Khairunnisa, kenapa bengong." ustadz Rian melambaikan tangannya di depan wajah Nisa.
"Aaa nggak, ustadz modus. Cari kesempatan dalam kesempitan." ucap Nisa gugup.
"Maaf, ustadz nggak tega saja, kamu nanti menjadi bahan tertawaan teman kelas kamu." kata ustadz Rian masih tersenyum geli.
"Tetap saja ustadz modus!" ketus Nisa.
"Nggak." keukeh ustadz Rian
"Sudahlah, aku mau ke kelas dulu." Nisa malu dengan dirinya sendiri.
Ustadz Rian langsung tertawa terbahak \-bahak setelah kepergian Nisa.
"Nisa kamu lucu sekali." monolog ustadz Rian melihat kepergian Nisa.