
Kring ... kring ....
Bel istirahat berbunyi, pertanda mata pelajaran matematika berakhir.
"Khairunnisa, ibu minta tolong bawakan buku paket ini ke meja ibu." pinta ibu Devi.
"Iya bu." sahut Nisa dari tempat duduk.
Khairunnisa kemudian berjalan menuju ruang guru untuk mengantarkan buku paket tersebut.
"Untung saja ibu Devi guru yang baik dan ku suka saat mengajar, kalau tidak aku mah ogah bawa buku ini." gumam Nisa saat berjalan ke ruang guru.
Sebuah pemandangan yang sangat membuat hati Nisa sakit ketika sampai di ruang guru, saat melihat seorang gadis berparas cantik dan seksi, yang sedang bermanja-manja
sama ustadz Rian.
"Aku cemburu, ha nggak mungkin." batin Nisa meyakinkan dirinya sendiri.
"Nih bukunya Bu," ucap Nisa sambil menaruh buku tersebut di meja ibu Devi.
"Khairunnisa terimakasih ya," ucap ibu Devi.
"Sama-sama Bu." sahut Nisa.
Nisa melewati meja ustadz Rian, dia hanya melihat ustadz Rian dengan perempuan itu dengan tatapan sinis dan benci. Sementara ustadz Rian mengetahui Nisa melihatnya, dan ustadz Rian takut Nisa akan salah paham. Ustadz Rian terus berusaha melepaskan tangan perempuan itu dari badannya.
"Kita sudah tidak mempunyai hubungan apapun, kamu adalah masa laluku yang kelam. Dan jangan pegang-pegang diriku." tegas ustadz Rian kepada perempuan itu.
Kalimat itulah yang terdengar di telinga Nisa saat berpapasan dengan ustadz Rian.
"Ustadz Rian aku membenci mu." teriak Nisa melepaskan kekesalan pada ustadz Rian.
Nisa duduk termenung di taman sendirian,
"Ustadz jahat sama aku, beraninya ustadz pergi melamarku, dan ustadz bermesraan sama perempuan itu hiks." isak Nisa dan tak terasa air matanya jatuh.
"Apakah aku benar-benar menaruh hati pada tu ustadz? ustadz Rian jahat!" batin Nisa menghapuskan air matanya.
"Aku harus kuat, masa gara-gara tu ustadz nyebelin aku menangis, aku tidak akan memaafkan tu ustadz." kata Nisa dan beranjak dari duduknya menuju ke kelas.
"Khairunnisa tunggu, saya bisa menjelaskannya!" teriak ustadz Rian dari arah belakang.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, ustadz pergi jauh dari hadapanku sekarang!" Nisa tidak peduli dengan panggilan ustadz Rian di belakangnya. Dadanya terasa sesak saat melihat ustadz Rian dengan perempuan lain.
~o0o~
Ustadz Rian terus mengejar Nisa, tapi Nisa tidak menggubrisnya.
"Khairunnisa, ustadz minta maaf. Semua yang kamu lihat tadi itu bisa ustadz jelaskan." jelas ustadz Rian yang membuntuti Nisa dari belakang.
Nisa memberhentikan langkah kakinya.
"Tidak usah minta maaf sama saya ustadz, karena saya bukan siapa-siapa ustadz. Mau itu perempuan pacar ustadz atau apapun itu. Aku tidak peduli." tegas Nisa menatap wajah ustadz Rian dengan tatapan sinis.
"Tapi, kamu calon istri saya." sahut ustadz Rian.
"Baru calon bukan istri!" tegas Nisa kembali.
Percakapan Nisa dan ustadz Rian terhenti karena perempuan yang bergelantungan manja sama ustadz Rian datang menghampiri mereka berdua.
"Lepaskan Vivi!" ucap ustadz Rian pada perempuan itu. Ya, nama perempuan itu Vivi.
"Dasar cewek genit." cibir Nisa.
*Plak
Vivi tidak terima dengan ucapan Nisa barusan*.
"Jaga omongan mu bocah ingusan!"
"Terserah gue." tantang Nisa tak mau kalah.
"Mau tampar lagi, nih pipi ku siap untuk di tampar. Ingat ini lingkungan sekolah, saya tidak segan-segan melaporkan kamu ke pihak berwajib, karena sudah melakukan tindakan kekerasan pada saya." lanjut Nisa.
"Lapor saja aku tidak peduli, dasar bocah tengil," ucap Vivi mendorong tubuh Nisa.
"Hello... bukannya kamu yang kaya bocah. Sudah gede tapi masih manja-manja," ketus Nisa.
Hampir saja Vivi menampar pipi Nisa lagi, tapi ustadz Rian menahannya.
"Vivi mendingan kamu pergi dari sini, jangan membuat ke ributan di sekolah ini." tegas ustadz Rian.
"Kamu usir aku Rian, dan kenapa kamu belain itu bocah. Dia siapa kamu?" tanya Vivi.
"Dia calon istri aku, jadi sekarang kamu nggak usah ganggu ke hidupkan aku lagi," ucap ustadz Rian.
"Apa ... calon istri, kamu becanda kan mana mungkin kamu mau sama bocah kaya dia." sahut Vivi tidak percaya.
Nisa mulai geram dengan perkataan Vivi, Nisa ingin sekali mengacak rambut Vivi karena Ia sangat kesal.
"Aku tidak becanda dia memang calon istriku." tegas ustadz Rian lagi.
"Kamu pergi dari sini sekarang." usir ustadz Rian.
"Oke aku pergi, ingatnya Rian aku tidak akan membiarkan orang lain memiliki mu, selain diriku." tegas Vivi.
"Awas loh bocah, aku akan kasih pelajaran buat kamu. Hidup kamu tidak akan tenang." ucap Vivi sambil menunjuk Nisa.
"Gue nggak takut dengan ancaman loh!" teriak Nisa.
"Tunggu saja pembalasan gue!" ucap Vivi sambil menabrak tubuh Nisa lalu pergi.
"Khairunnisa kamu tidak apa-apa kan?" tanya ustadz Rian khawatir.
"Buat apa ustadz peduli sama saya, mendingan ustadz kejar tu Vivi." ketus Nisa.
"Tapi pipi kamu itu merah karena ditampar oleh Vivi tadi." kata ustadz Rian khawatir lalu berjalan mendekati Nisa.
"Stop! jangan dekati Nisa, Nisa sudah bilang ustadz pergi jauh dari hadapanku."
"Aku membencimu." tegas Nisa kembali dan meninggalkan ustadz Rian.
"Kenapa urusannya jadi serumit gini, Nisa kamu kenapa tidak mau mendengarkan penjelasan ustadz." batin ustadz Rian setelah kepergian Nisa.
Terimakasih