My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Pertama Kali



Setelah menunggu lama, akhirnya dokter yang menangani Nisa ke luar dari UGD. "Pasien kekurangan darah, apa ada keluarganya di sini?" tanya dokter.


Ustadz Rian yang sedang duduk di kursi tunggu buru-buru bangkit saat mendengar suara dokter. "Saya suaminya, Dok. Golongan darahnya apa, Dok?" tanya ustadz Rian.


"Golongan darah pasien adalah golongan darah A, rumah sakit kehabisan stok darah tersebut," tutur dokter.


Ustadz Rian mengembuskan napas berat.


"Kalian mempunyai golongan darah yang sama dengan, Nisa?" tanya ustadz Rian pada ustadz Fauzi, Nathan, Aldi, dan Riko. Ustadz Rian golongan darahnya tidak sama dengan Nisa.


"Saya Dok, golongan darah kami sama. Ambil berapa pun yang Dokter mau demi teman saya," ujar Nathan sangat mantap.


"Mari ikut saya, Dek." Seorang suster yang berdiri di samping dokter mengajak Nathan pergi. Nathan mengaguk, dan mengikuti suster itu dari belakang.


***


Nisa menggerakkan tangannya pelan, ia membuka bola matanya perlahan-lahan. Nisa mencoba memulihkan kesadarannya. Ekor matanya menatap sekelilingnya yang gelap karena dia terbangun tengah malam, hingga pandangan jatuh pada pria yang sedang menenggelamkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya di atas sajadah menutup doa dan tangisannya. Siapa lagi kalau bukan ustadz Rian.


Bibir Nisa terangkat menyungging senyum tipis. "Hubby," panggil Nisa pelan.


Ustadz Rian yang mendengar suara itu segera bangkit, lalu memeluk tubuh Nisa dengan erat. "Alhamdulillah, kamu sudah siuman," kata ustadz Rian penuh syukur.


"Hubby, badan Nisa masih sakit." Nisa menjauhkan tubuh ustadz Rian darinya.


"Maaf, sayang."


"Hubby baru selesai shalat tahajjud?" tanya Nisa dan di balas anggukan kecil oleh ustadz Rian.


Ustadz Rian mengecup kening Nisa cukup lama, melepaskan kerinduan selama ini. "Mas sangat mencintaimu, Nisa."


"Nisa juga," cicit Nisa lalu menarik hidung ustadz Rian. "Nisa rindu menarik hidung, Hubby. Hehehe ...," ucapnya lagi dengan cengengesan.


"Badan kamu masih sakit? biar mas panggil Dokter ke sini."


Nisa menggeleng kepalanya pelan. "Cuman sakit dikit kok, Nisa cuman butuh istirahat saja. Besok Nisa pasti sembuh, dan Nisa bisa pulang." Girang Nisa bahagia, tak sabar baginya untuk segera keluar dari rumah sakit.


"Kondisi kamu belum pulih sepenuhnya, besok kamu belum boleh pulang."


Nisa mengerucutkan bibirnya. "Hm, Hubby jahat," ucap Nisa kesal. "Nisa nggak suka di rumah sakit ini, bau obat-obatan Nisa nggak suka," tuturnya.


Ustadz Rian menaruh jari telunjuk di bibir Nisa, supaya gadis ini berhenti mengoceh. "Cerewetnya, sudah mulai deh. Jangan terlalu berisik sayang, masih banyak pasien lain yang lagi istirahat."


"Iya udah, Nisa nggak akan bicara lagi." Nisa memalingkan wajahnya dari hadapan ustadz Rian.


"Ngambek?"


Ustadz Rian mencubit pipi Nisa


gemas. "Besok kita lihat kalau kondisi kamu benar-benar sudah pulih, mas akan mengajak kamu pulang. Kenapa ingin pulang cepat sekali?"


"Nisa mau makan enak, pasti di sini cuman makan bubur setelah itu minum obat. Huh ... Nisa pasti akan bosan."


"Sudah, ini masih larut malam sekarang istirahat," ucap ustadz Rian lalu menyelimuti tubuh Nisa.


"Hubby, tidur di atas brankar sama Nisa aja," pinta Nisa.


"Nggak usah sayang," tolak ustadz Rian halus. Ustadz Rian tidak mau karena ukuran brankar itu kecil yang akan membuat Nisa tidak leluasa untuk tidur.


"Please ... Nisa mau tidur sama Hubby," rengek Nisa dengan manjanya.


Ustadz Rian menuruti keinginan Nisa, dia segera membaringkan tubuhnya di samping Nisa.


Nisa tidur menyamping menghadap ustadz Rian, Nisa memainkan tangannya di wajah ustadz Rian. "Hubby, orang yang menculik Nisa itu, tidak akan mengganggu Nisa lagi kan?"


"Itu tidak akan terjadi lagi selama mas ada di sisi kamu."


Jarak wajah ustadz Rian dan Nisa sangatlah dekat. Nisa mengembuskan napas gugup, dia menutupi matanya saat sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya. Merasakan sesuatu yang baru pertama kali dia rasakan.


"Hubby mulai nakal." Nisa mencubit pinggang ustadz Rian.


Ustadz Rian tersenyum kikuk atas apa yang dilakukannya pada Nisa barusan. "Mas, khilaf sayang."


Nisa memegang bibirnya. "Ciuman pertama Nisa, sudah Hubby ambil," pekik Nisa malu, dia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik ustadz Rian. Pipi Nisa sudah memanas karena gugup dan malu.


"Mas beruntung dong," jawab ustadz Rian penuh kemenangan.


"Mesum ... cari kesempatan dalam kesempitan."


"Biarin sama istri sendiri juga," jawab ustadz Rian enteng.


"Mau lagi Nisa?" goda ustadz Rian menaiki sebelah alisnya. Ustadz Rian tersenyum geli melihat ekspresi wajah Nisa yang malu saat ini.


"Kalau Hubby melakukannya lagi, Hubby tidur di bawah aja. Jangan mesum Hubby, ih ...," ucap Nisa kesal.


"Baiklah, mas cuman bercanda sayang. Tidurlah," ucap ustadz Rian sambil mengelus lembut rambut panjang Nisa.


Nisa masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik ustadz Rian. Nisa masih malu.