
Wajah yang biasanya ceria serasa padam, dan senyuman yang biasanya selalu terpancar dibibir gadis ini seakan hilang begitu saja.
Semalam, Nisa memilih tidur dikamar lain dan mengurung dirinya sampai pagi ini. Derai air mata terus mengalir di pipinya. Mata panda, karena tidak tidur semalaman nampak sangat jelas. Sungguh sangat memperihatinkan sekali kondisi Nisa sekarang.
"Non Nisa, nggak sarapan? Bibi sudah bikin sarapan dibawah," ujar Bibi Ati sambil mengetuk pintu kamar.
Tidak ada jawaban.
"Non Nisa baik-baik saja," ucap Bibi Ati lagi dan mulai khawatir karena tidak ada sahutan dari Nisa.
"Ni--sa, nggak lapar Bi. Nisa baik-baik saja, Bibi tidak usah khawatir," jawab Nisa dengan suara serak didalam kamar, Ia masih menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Bibi bawa makanan kesini saja ya, Non," tawar Bibi Ati.
"Bibi, nggak usah di paksakan! nanti kalau lapar Nisa akan turun sendiri kebawah. Dia memang keras kepala," kata ustadz Rian penuh penekanan dan Nisa yang berada di dalam kamar masih dapat mendengarnya.
"Baik Tuan, Bibi pamit ke dapur," kata Bibi Ati lalu berlalu di hadapan ustadz Rian. Bibi Ati juga merasa aneh dengan sikap ustadz Rian yang tidak biasanya.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri di dalam situ. Kamu mau mati kelaparan," tutur ustadz Rian dan langsung pergi ke kamarnya tanpa berniat membujuk Nisa sedikitpun.
Nisa tertawa sumbang, air mata yang luruh tanpa perintah itu kembali Nisa seka secara kasar. Nisa menutup wajah dengan kedua tangannya, merasakan kembali sesak yang melanda dadanya.
"Maaf kan Nisa Hubb--y, hiks ... hiks ... " Nisa bergumam menunduk menyembunyikan kepalanya di atas lekukan lututnya.
Rian sudah siap dengan kemeja navy dengan setelan jas hitam dan dasi yang melilit di lehernya. Rian nampak sangat gagah dan tampan menggunakan pakaian itu. Rian hari ini, akan kembali kerja di perusahaannya. Setelah rehat selama enam bulan. Di usia yang masih muda, Rian sudah berhasil mendirikan perusahaan dengan hasil jeri payahnya sendiri. Namun, hal itu tidak membuat Rian untuk lebih mementingkan urusan duniawi dan sombong akan kedudukannya. Ia tetap rendah hati, dan selalu membelanjakan sebagian harta untuk orang-orang yang kurang mampu.
"Bibi, Rian pamit ke kantor dulu. Nanti kalau ada apa-apa sama Nisa telpon Rian Bi." kata ustadz Rian, marah-marahnya ustadz Rian, Ia tetap khawatir pada istrinya. Ustadz Rian akan menyelesaikan masalahnya dengan Nisa selepas pulang nanti. Ia tidak ingin membuat Nisa terlarut dalam kesedihannya.
"Baik Tuan."
***
Mobil BMW silver milik ustadz Rian, melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. Ustadz Rian tidak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk beribadah kepada Allah, saat bawa mobil saja Ia memilih muroja'ah ayat suci Al-Quran. Pria idaman bukan?
Setiap karyawan wanita yang berpapasan dengan atasannya langsung jatuh cinta dengan ketampanan dan kegagahan tubuh ustadz Rian.
"Pagi Pak," ucap serempak para karyawan wanita dan menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan.
Karyawan lainnya juga melakukan hal yang sama.
Ustadz Rian hanya membalas dengan senyuman tipis. Dan kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya dan diikuti oleh sekretarisnya. Ustadz Rian menaiki lift, dan menekan lantai 10 yang pastinya itu lantai paling atas di perusahaannya. Ustadz Rian sampai di depan ruangannya yang bertuliskan 'CEO Muhammad Apriansyah'.
"Bagaimana perkembangan perusahaan, selama saya tidak ada?" tanya ustadz Rian pada Pak Bambang yang merupakan sekretarisnya.
"Alhamdulillah makin maju dan berkembang Pak."
"Ini berkat bantuan Bapak. Terimakasih ya Pak, sudah menjadi orang kepercayaan saya selama ini." Ustadz Rian tersenyum simpul dan menepuk pundak pria parubaya di sampingnya. Ustadz Rian sudah menganggap Pak Bambang seperti ayah kandungnya sendiri.
"Sama-sama Pak," jawab Pak Bambang.
"Sebentar lagi, ada meeting dengan klien Pak." lanjutnya lagi.
Ustadz Rian mengangguk dan kembali fokus dengan berkas-berkas perusahaannya.
Disisi lain, bibi Ati di landa ketakutan dan kebingungan di depan pintu kamar Nisa. Bibi Ati mondar-mandir, mengetuk pintu untuk memastikan keadaan Nisa. Nihil, tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar.
Hari sudah semakin siang, tetapi Nisa tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Ya Tuhan, kenapa perasaan saya tidak enak dengan keadaan Non Nisa." gumam bibi Ati.
Brugh!
Brugh!
Kang Jamil mendobrak pintu kamar. Bibi Ati meminta bantuan kepada Kang Jamil yang merupakan tukang kebun di rumah ustadz Rian untuk membuka pintu kamar secara paksa.
"Astaghfirullah, Non Nisa." Pekik Bibi Ati, lalu berlari masuk ke dalam kamar dan betapa terkejutnya bibi Ati yang melihat tubuh Nisa tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri.
Bibi Ati dan Kang Jamil segera memindahkan tubuh Nisa yang tidak berdaya ke atas kasur.
[ Assalamu'alaikum Tu---an ] ucap Bibi Ati melalui sambungan telepon. Bibi Ati berucap dengan suara gemetaran.
[ Wa'alaikumussalam, ada apa Bi? ]
[ Anu, maksud Bibi, Non Nisa. Non Nisa---]
[ Nisa kenapa Bi? ]
[ Non Nisa, tidak sadarkan diri di dalam kamar Tuan. ]
[ Inalillahi, Rian akan segera pulang Bi. ]
Tutt ... tutt ...
Ustadz Rian segera mengakhiri telpon, Ia segera keluar dari ruangan meeting. Ustadz Rian tidak peduli dengan kliennya yang protes, karena meeting di batalkan. Ustadz Rian sangat khawatir dengan kondisi Nisa.
"Bibi, Nisa sekarang di mana?" tanya ustadz Rian yang baru saja sampai rumah.
Cklek ...
Pintu kamar di buka perlahan -lahan oleh ustadz Rian.
Ustadz Rian memasuki kamar dengan rasa cemas dan khawatir. Di lihatnya wajah Nisa yang sangat pucat dan masih tidak sadarkan diri.
"Sayang, maafin Mas," lirih ustadz Rian dan menggenggam tangan Nisa yang terasa panas.
Nisa perlahan-lahan membuka kedua bola matanya. Ia memandang sekilas ke arah ustadz Rian, lalu membuang pandangannya ke arah lain.
"Nisa kenapa kamu seperti ini, apa yang sakit? kita ke rumah sa---"
"Bukankah Hubby tidak peduli lagi dengan Nisa?" potong Nisa cepat dan menarik tangannya yang digenggam oleh ustadz Rian. Bulir air mata kembali jatuh di pipi Nisa.
Ustadz Rian diam sejenak.
"Maafin mas, karena Mas sudah membentak kamu semalam. Mas tidak bisa mengendalikan emosi, Mas cuman cemburu melihat kamu dengan lelaki itu," jelas ustadz Rian dengan nada suara melemah.
Nisa bangkit dari tidurnya, lalu memeluk erat tubuh ustadz Rian.
"Nisa sangat mencintai Hubby, Nisa nggak mungkin selingkuh di belakang Hubby ... " isak Nisa.
Ustadz Rian membelai rambut hitam Nisa dengan penuh kelembutan. Ustadz Rian tidak dapat membohongi perasaannya, Ia tidak akan kuat kalau melihat gadis kecil yang sekarang sudah sah menjadi istrinya ini, terlalu larut dalam kesedihannya.
"Jangan menangis lagi," kata ustadz Rian lalu menghapus bulir air mata di pipi Nisa dan mengecup kening Nisa.
"Nisa janji akan mempertemukan Hubby dengan Nathan, biar tidak ada salah paham lagi," jawab Nisa dan kembali memeluk tubuh ustadz Rian.
Bibi Ati yang berada di ambang pintu, jadi nggak enak untuk masuk. Takutnya mengganggu Nisa dan ustadz Rian
"Bibi masuk saja, taruh di atas meja," titah ustadz Rian.
"Iya, Tuan." Bibi Ati segera menaruh bubur dan teh hangat yang di buatkan untuk Nisa.
"Sayang, ada Bibi loh. Nggak malu," bisik ustadz Rian kepada Nisa yang masih saja memeluk tubuhnya dengan erat
"Nggak." keukeh Nisa.
"Non, Tuan. Bibi keluar dulu," pamit Bibi Ati dan dibalas anggukan kepala oleh ustadz Rian.
"Sayang, sekarang makan dulu ya. Kamu nggak makan dari pagi," bujuk ustadz Rian.
"Hm, Nisa nggak lapar. Nisa ngantuk dan pusing Hubby," tolak Nisa, "Nisa tidak tidur semalaman, gara-gara memikirkan perkataan Hubby," ucapnya lagi.
"Sayang, makan sedikit saja ya. Kamu mempunyai riwayat penyakit maag, jadi nggak boleh telat makan." bujuk ustadz Rian.
"Baiklah, tapi cuman satu sendok aja ya." tawar Nisa.
Ustadz Rian menyuapi Nisa dengan penuh kelembutan. Kesedihan Nisa hilang begitu saja, melihat sikap ustadz Rian yang sudah mulai baik seperti biasa.
"Sekarang tidur dan istirahatlah, supaya tubuhmu lebih fit."
"Hubby temani Nisa tidur ya," rengek Nisa dengan mata berbinar-binar seperti memohon.
"Iya sayang," jawab ustadz Rian sambil mencubit pipi Nisa gemes.
Ustadz Rian membuka jasnya dan langsung membaringkan tubuhnya di samping Nisa.
"Terima kasih Hubby," ucap Nisa dan mengecup pipi ustadz Rian singkat.
Ustadz Rian menaiki sebelah alisnya, melihat tingkah Nisa.
"Itu bonus karena Hubby temani Nisa tidur hehe," kata Nisa cengengesan.
"Hmm, tapi Mas mau lebih dari itu sayang," goda ustadz Rian dan mendekap erat Nisa kedalam pelukannya.
"Hoam ... Nisa ngantuk. Selamat tidur siang Hubby," ucap Nisa untuk menghindari godaan ustadz Rian.
Nisa pun terlelap dalam dekapan ustadz Rian. Ustadz Rian memperhatikan setiap inci dari wajah Nisa saat tidur.
"Sabar Rian, tinggal tiga hari lagi Nisa lulus," batin ustadz Rian lalu mengecup kening Nisa.
Ustadz Rian pun ikut terlelap di samping Nisa.
"Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Maka tidak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain. Cukuplah dengan ridho Allah bagi kita. Sungguh, mencari ridho manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai."
[ Al Habib Umar bin Hafizd ]
.
.
.