My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Rindu



Nisa memasuki gerbang sekolah dengan perasaan masih sedih. Baru beberapa menit di tinggal oleh ustadz Rian, Nisa sudah rindu saja.


"Pagi, bebeb Nisa," sapa Riko dan Aldi kompak. Mereka berdua sudah menyukai Nisa sejak dulu kelas 10 dan sampai sekarang. Tapi Nisa tidak pernah meladeninya. Bahkan Nisa merasa ilfil, karena mereka berdua sangat genit dan lebay.


Nisa memutar bola matanya dengan malas.


"Apa sih kalian, bisa nggak jangan ganggu aku sehari saja. Huss pergi sana bikin mood pagi ku hilang saja." Usir Nisa dengan wajahnya yang di tekuk.


"Uu bebeb jangan marah mulu dong, kan kita kangen. Nggak ketemu sehari serasa satu tahun. Ya kan, Al," goda Riko dan meminta persetujuan Aldi.


"Iya bebeb Nisa. Kita kan cinta mati sama kamu," kata Aldi.


" Aku nggak peduli!" ketus Nisa lalu pergi meninggalkan Aldi dan Riko.


Sementara Riko dan Aldi tidak peduli dengan ocehan Nisa. Menurut mereka ocehan Nisa itu yang amat dirindukan. Mereka berdua mengekor di belakang Nisa.


"Kalian sungguh ngeselin ya. Kenapa kalian berdua ngikutin aku," ucap Nisa kesal dan memberhentikan langkah kakinya.


"Kita kan satu kelas beb, jadi arah jalan kita sama deh beb," ucap Aldi sambil tersenyum manis kepada Nisa.


"Yups, betul beb Nisa," timpal Riko lagi.


Nisa tidak lagi menggubris perkataan dua makhluk aneh yang terus-menerus mengejarnya. Padahal Nisa tidak pernah bersikap manis kepada mereka berdua. Tetapi mereka tetap saja mengejar Nisa.


Siapa yang tidak suka sama Nisa. Gadis cantik, dengan alis yang tebal dan tak lupa bulu matanya yang lentik alami. Dan memiliki warna kulit putih. Wajar saja bila Nisa menjadi idola bagi kaum adam di sekolahnya. Selain cantik Nisa termasuk siswi yang berprestasi. Nisa tetap saja menjadi juara kelas di dalam kelasnya. Nisa juga pernah menjadi ketua osis pada saat masih duduk kelas 2. Dan Nisa juga sering mengikuti berbagai perlombaan. Nisa pernah memenangkan peringkat pertama menulis cerpen, mewakili sekolahnya. Tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri bagi Nisa, tetapi Nisa tidak pernah sombong dengan berbagai prestasinya.


Saat Nisa hendak memasuki ruang kelas, tanpa sengaja kepala Nisa kepentok dengan dada bidang seorang laki-laki yang tak lain Nathan.


"Aww," lirih Nisa memegang kepalanya.


"Kamu tidak apa-apa, Nis?" tanya Nathan khawatir.


"Mmm nggak apa-apa kok, maaf ya Nat. Aku nggak sengaja menabrak kamu," kata Nisa dan di balas anggukan oleh Nathan. Nisa langsung berjalan ke bangkunya.


Nathan memandang tak suka dengan dua laki-laki di hadapannya, yang merupakan sahabatnya sendiri sejak Nathan pindah.


"Ee bos Nathan. Kami nggak apa-apain kok bebeb Nisa," kata Riko memandang Nathan.


"Awas saja kalau Nisa sampai kalian apa-apain. Gue nggak akan pernah menganggap lo berdua sahabat gue!" ancam Nathan kepada Riko dan Aldi.


"Nggak akan, kami juga kan sayang sama bebeb Nisa," jawab mereka berdua kompak dengan suara yang cukup keras sehingga penghuni kelas lainnya mendengarnya.


"Uuuu ... " teriak penghuni kelas mendengar pengakuan Riko dan Aldi.


***


Ujian sekolah hari ini berjalan dengan jalan lancar, Nabila dan Nisa saat ini berjalan menelusuri koridor sekolah. Nisa sudah siap untuk memberi tahu sahabatnya tentang pernikahannya dengan ustadz Rian. Toh, lama-kelamaan pasti akan ketahuan. Nisa juga tidak enak kalau tidak menceritakan kepada sahabatnya. Dan Nisa mengajak Nabila untuk nginap di rumahnya karena Nisa merasa kesepian nanti di rumah.


"Nis, kok aku baru lihat kamu pakai cincin sih?" tanya Nabila penuh selidik.


"Nanti aku akan jelasin, dan akan menceritakan semua kepada kamu. Kamu jadi kan nginap di rumahku?"


"Jadilah. Mau cerita apa Nis? jangan bilang kamu akan cerita bahwa kamu sudah nikah sama ,Pak Rian," ucap Nabila menebak-nebak.


"Tuh pintar, jadi aku nggak usah cerita lagi."


Nabila membulatkan kedua matanya tidak percaya.


"Apa! kamu sudah nikah Nisa? sejak kapan?" kaget Nabila tak percaya.


Nisa langsung menutup mulut sahabatnya karena suaranya sangat keras. Nisa cuman takut suara Nabila kedengaran oleh orang lain karena mereka masih ada di lingkungan sekolah.


"Nggak usah teriak Bil, nanti sampai di rumah aku ceritain semuanya."


"Sekarang! aku sudah penasaran Nisa. Kamu tega sekali Nisa, nikah sama Pak Rian yang ganteng itu. Patah deh hatiku," kata Nabila mulai lebay. Nisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya ini.


"Nggak usah lebay deh. Ayo kita pulang," ajak Nisa dan menarik tangan Nabila.


Di depan gerbang sekolah, Nisa dan Nabila di kejutkan dengan dua laki-laki bertubuh besar dan tinggi.


Kedua lelaki itu berjalan mendekati Nisa dan Nabila. Sementara Nisa dan Nabila ketakutan melihat tampang dari lelaki di hadapannya sekarang.


"Anda, Non Nisa?" tanya salah satu dari lelaki itu.


"Iya dengan saya sendiri. Ada apa ya?" jawab Nisa gugup dan ketakutan.


Kedua lelaki tersenyum manis.


"Kami adalah bodyguard dari Non," jelas Pak Deni.


Sontak Nisa dan Nabila tak percaya dengan ucapan dari lelaki yang dihadapan sekarang.


"Maaf ya Pak tapi saya tidak pernah meminta bantuan dari jasa kalian," ucap Nisa.


"Kami hanya menjalankan tugas dari Tuan Rian, Non."


"What!" pekik Nisa kaget.


'Hubby, kau terlalu lebay deh,' gerutu Nisa dalam hatinya.


"Sebegitu perhatiannya Pak Rian Nis. Emangnya Pak Rian kemana?" bisik Nabila.


"Ke luar kota."


"Pak Rian orang kaya ya Nis?" tanya Nabila tak henti-hentinya membuat Nisa muak untuk menjawab.


"Baiklah Non, kita pulang sekarang. Karena Tuan Rian akan memarahi kami bila tidak mengantar Non pulang tidak tepat pada waktunya," kata Pak Juandi.


Nisa pun menurut. Nisa di perlakuan bak tuan putri oleh para bodyguardnya. Bodyguard membuka pintu mobil dan membungkukkan badannya sebagai bentuk penghormatan kepada atasannya.


Nisa dan Nabila duduk di kursi belakang mobil. Sementara kedua bodyguardnya duduk di kursi depan.


"Non, ini Tuan mau berbicara dengan Non," kata Pak Deni dan memberikan handphonenya kepada Nisa. Nisa menerimanya antusias.


[ Assalamu'alaikum istriku] sapa ustadz Rian di seberang sana.


[ Wa'alaikumussalam Hubby. Hubby kenapa harus ada bodyguard sih. Aku bisa jaga diri sendiri, Hubby berlebihan deh ] cerocos Nisa sementara ustadz Rian malah tertawa geli mendengar ocehan dari istrinya itu.


[ Istriku yang paling cantik dan cerewet, Mas cuman tidak ingin kamu di ganggu oleh siapapun. Mas tidak akan membiarkan badan kamu lecet sedikitpun. Karena mas sangat mencintaimu ]


Nisa senyum-senyum sendiri mendengar perkataan suaminya, membuat Nabila yang duduk di sampingnya heran mendengarkannya.


"Dasar pengantin baru," batin Nabila.


[ Hubby, aku boleh ajak Nabila nginap di rumah ya. Selama Hubby di sana ] ucap Nisa meminta izin.


[ Boleh sayang, asalkan jangan ajak lelaki saja. Hmm bagaimana ujiannya? ]


[ Alhamdulillah berjalan lancar Hubby, Hubby sendiri kapan sampai di sa--na? ] jawab Nisa gugup karena mendengar ustadz Rian memanggilnya dengan sebutan Sayang.


[ Barusan, sayang ]


[ Rindu ... ] rengek Nisa dengan nada manjanya. Membuat Nabila di samping ingin muntah mendengarnya.


[ Mas juga rindu, kalau rindu doakan Mas. Biar rindunya hilang. ]


[ Tentu saja Hubby. Hubby di sana jangan genit sama perempuan lainnya. ]


[ Mana mau mas genit sama perempuan lain sedangkan mas mempunyai istri yang sangat cantik dan shalihah. Di hati mas cuman ada nama Nisa loh. ]


[ Sejak kapan Hubby bisa gombal? Nisa pikir Hubby cuman tahu tausiyah saja hehehe ... ]


[ Nggak tahu. Mas akan melakukan istri kecil Mas bahagia. ]


[ Iya Hubby. Nisa sangat dan sangat sekali mencintaimu, Hubby. ]


[ Mas lebih mencintaimu. Ya sudah Mas tutup teleponnya, karena sebentar lagi mas akan berangkat sama ustadz Fauzi. ]


[ Hmm iya dah. Jaga kesehatannya ya Hubby. ]


"Iya, sayang. Kamu juga, assalamu'alaikum ... ]


[ Wa'alaikumussalam. ] sahut Nisa dan telpon pun berakhir.


"Dunia seakan milik berdua. Sampai lupa dengan orang sekitar," cibir Nabila.


"Bilang aja iri."


"Sombong!"


Nisa dan Nabila pun menikmati perjalanan pulang mereka. Tak lupa Nisa menyuruh bodyguardnya untuk berhenti di rumah Nabila terlebih dahulu untuk meminta izin kepada kedua orangtuanya.


Nisa sangat bahagia sekali hari ini. Nisa tidak pernah menyangka bahwa ustadz Rian sangat menghawatirkannya.