My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Rencana Bulan Madu



Kebahagiaan akan terasa sangat kental saat bersama dia yang di harapkan. Bersama dia yang memberikan kasih sayang yang tulus dari hati tanpa pamrih. Bersama orang-orang yang menyayangi kita. Mereka akan menuntut kita, mengulurkan tangan, dan tersenyum tulus saat mencapai puncak yang di perjuangkan.


Tengah malam Nisa terbangun karena tiba-tiba perutnya merasa sangat kelaparan sekali. Nisa baru ingat bahwa Ia tidak makan malam, Nisa hanya memakan kue saat di pesta pernikahan saja, itupun tidak seberapa. Wajar saja saat ini Nisa sangat kelaparan.


"Hubby, bangun! Nisa lapar sekali," aduh Nisa lalu menepuk pipi ustadz Rian yang tertidur pulas di sampingnya.


Ustadz Rian masih tidur dengan pulas dan tidak ada tanda-tanda akan bangun.


"Hubby, bangunlah. Huft ... Nisa lapar," rengek Nisa, Ia tetap keukeh untuk membangunkan ustadz Rian. Nisa terus menggoyangkan tubuh ustadz Rian agar segera bangun.


Mendengar suara melas dari istrinya, ustadz Rian membuka matanya


dan menggeliatkan badannya, dia menguap satu kali.


"Ada apa Nisa?" tanya ustadz Rian dengan suara khas bangun tidur. Ia menarik selimut berniat melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Tetapi, Nisa segera menahannya.


"Nisa lapar Hubby, temenin Nisa pergi ke dapur yah. Nisa takut."


"Sayang, makan jam segini enggak baik untuk kesehatan kamu." Ustadz Rian memberikan saran dan menarik Nisa ke dalam pelukannya. Agar Nisa tidur kembali.


Nisa menggelengkan kepalanya cepat.


"Perut Nisa nggak bisa di ajak kompromi. Kalau mau sekarang, ya sekarang Hubby! Hubby mau penyakit maag Nisa kambuh." Nisa tetap keras kepala.


"Malam ini saja Hubby, Nisa sangat lapar. Hubby mau temenin Nisa yah ...," mohon Nisa sambil memainkan tangannya di wajah ustadz Rian.


Ustadz Rian berpikir sejenak. "Baiklah."


"Tentu ada syaratnya juga," lanjut ustadz Rian lagi.


"Syaratnya apa?" tanya Nisa, ia menunjukkan ekspresi kesal.


Ustadz Rian menunjuk pipinya. "Cium pipi Mas."


"Hmm, enggak ada syarat lain apa. Itu saja mau Hubby." ketus Nisa.


"Tidak ada sayang, katanya lapar. Cepatlah," kata ustadz Rian sambil tersenyum jahil.


Nisa menghembus nafas berat, lalu mengecup singkat pipi ustadz Rian.


Ustadz Rian tersenyum penuh kemenangan. "Terima kasih, sayang."


Ustadz Rian beringsut duduk lalu menampakkan kaki ke lantai yang berkali-kali lipat lebih dingin.


Nisa mengulurkan kedua tangannya ke ustadz Rian.


"Hubby, gendong yah," pinta Nisa tersenyum manis ke arah ustadz Rian.


"Kamu sangat manja sekali."


Ustadz Rian mau tidak mau menuruti perintah Nisa. Ia segera menggendong tubuh Nisa untuk turun ke bawah.


"Suamiku baik sekali." kekeh Nisa.


Ustadz Rian, menurunkan tubuh Nisa secara hati-hati di kursi.


"Kamu makan apa?"


"Nisa mau masak mie instan aja, biar nggak repot."


"Biarkan Mas saja yang masak, kamu duduk saja di situ."


"Nggak usah Hubby, Nisa bisa sendiri."


Ustadz Rian mencubit gemas pipi Nisa.


Nisa mengaguk kepalanya, yang pertanda Ia setuju.


Ustadz Rian segera berjalan ke dapur, dan memasak mie instan untuk Nisa. Tidak butuh waktu lama mie instan buatan ustadz Rian sudah siap disajikan.


"Makanlah." Ustadz Rian menaruh mie instan itu di hadapan Nisa.


"Makasih, Hubby," ucap Nisa dan segera melahap makanannya.


Ustadz Rian menggelengkan kepalanya melihat Nisa yang sangat rakus sekali saat sedang makan.


Setelah selesai Nisa makan, ustadz Rian mengajak Nisa untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat malam.


Mereka pun melaksanakan shalat malam dengan khusyu'.


"Nisa, besok kamu terima kelulusan, kan? tanya ustadz Rian lalu membaringkan tubuhnya di samping Nisa.


"Iya, ada apa Hubby?" tanyanya balik.


Ustadz Rian mengelus perut Nisa yang masih datar, sontak saja Nisa kaget.


"Hubby apa sih." Nisa menjauhkan tangan ustadz Rian dari perutnya.


"Tidak akan lama rumah kita akan terdengar tangisan bayi," ucap ustadz Rian menatap lekat Nisa.


"Maksud Hubby apa?"


"Besok kamu terima kelulusan kan, dan besok juga kita akan pergi bulan madu sayang."


Deg!


Mendengar kata bulan madu membuat jantung Nisa berdegup dua kali lebih kencang.


"Bulan madu Hubby?" Nisa memastikan pendengarannya salah.


"Iya."


Nisa diam, pikirannya sudah ngawur kemana-mana sekarang.


"Jadi mulai besok, Nisa akan memenuhi kewajiban sebagai istri kepada Hubby?"


"Iya, sayang."


Nisa mengigit bibir bawahnya.


'Habislah riwayat hidup untuk besok, kenapa pengumuman kelulusan begitu cepat sih.'


Melihat raut ketakutan di wajah istrinya, ustadz Rian menarik Nisa ke dalam dekapannya.


"Tidurlah, jangan pikir macam-macam," ucap ustadz Rian sambil mengecup kening Nisa.


'Ibu bantu Nisa, besok Nisa nggak perawan lagi,' batin Nisa, Ia terus memikirkan kejadian apa yang harus di hadapi besok olehnya.


.


.


.


.


-Bersambung-