
"Nisa ini benar rumah, pak Rian? sumpah rumah ini mah hotel bintang lima kali!" kagum Nabila saat mobil memasuki halaman rumah.
"Hmm iya. Ayo kita masuk," ajak Nisa.
Mata Nabila tak berkedip sediki pun, sungguh dia kagum sekali.
"Kalau Pak Rian orang kaya, kenapa mau jadi guru di sekolah kita, Nis?" tanya Nabila.
"Sebenarnya ustadz Rian itu bukan guru, tetapi ustadz Rian sebagai donatur di sekolah kita. Katanya sih ustadz Rian cuman mau membagikan ilmu saja kepada kita. Makanya ustadz Rian ngajar di sekolah kita," jawab Nisa. Nisa bisa mengetahuinya karena Nisa pernah bertanya kepada suaminya itu. Maklumlah Nisa sangat kepo, kalau menyangkut urusan pribadi suaminya.
Nabila manggut-manggut
mengerti. "Kalau aku jadi istri kedua pak Rian nggak apa-apa deh. Udah ganteng, rendah hati, dan sholeh lagi. Memang suami idaman deh."
Nisa langsung menjitak kepala Nabila.
"Awww sakit, Nis!"
"Langkahin mayat aku dulu, nggak akan ada yang bisa ambil Hubbyku." Tegas Nisa sebal sambil menatap tajam ke arah Nabila.
Nabila cengir kuda. "Woy, aku cuman becanda kali. Nggak usah di masukin ke dalam hati. Maaf ya Nisa, sensi banget sih hehehe ...,"
"Dasar jomblo ngenes!" sindir Nisa.
"Sembarangan ngomong, aku nggak jomblo tapi cuman belum laku saja."
"Itu mah sama saja, nggak usah ngeles deh."
Nabila memanyunkan bibirnya, pura-pura kesal dengan sahabatnya.
"Nabila sahabat kesayangan Nisa nggak usah marah. Nanti Nisa cari cowok buat Nabila deh," goda Nisa sambil memeluk tubuh sahabatnya.
"Emang ada?" tanya Nabila melepaskan pelukannya.
"Ada lah."
"Siapa?"
"Rahasia Allah-lah, aku cuman bisa mendo'akan saja," kata Nisa antusias. "Lagi pula kamu itu harus fokus kejar impianmu dulu, dan memperbaiki diri untuk lebih dekat dengan-Nya. Urusan cowok dan jodoh itu urusan belakangan. Kan jodoh itu sudah menjadi takdir dari Allah," sambung Nisa lagi.
"Aku mah mau nikah muda, Nis. Lihat kamu rasanya aku ingin cepat di halalkan deh. Apalagi bisa kriterianya seperti Pak Rian," oceh Nabila yang mulai ngawur, membuat Nisa sumpek mendengarnya.
Nisa dan Nabila pun mengistirahatkan tubuhnya sebentar, dan di lanjutkan dengan belajar bersama. Sebenarnya mereka nggak belajar sih, cuman mengulas kembali materi pelajaran yang sudah di terima. Karena mereka berdua sudah belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi ujian kelulusan sekolah.
Selesai shalat isya' Nisa dan Nabila, bercengkrama di ruangan tamu bersama bibi Ati. Banyak hal yang di ceritakan mulai dari Bibi Ati yang menceritakan tentang ustadz Rian. Sehingga menjadi lelucon yang bisa di tertawa kan oleh mereka.
Pasti para pembaca bingung, kok author nggak pernah ada cerita tentang keluarga ustadz Rian sih? Ibu dan ayah ustadz Rian sudah meninggal sejak ustadz Rian berumur 2 tahun akibat kecelakaan maut. Ustadz Rian di besarkan oleh paman dan bibinya. Dan sekarang paman dan bibinya berada di Mesir, mengurus bisnis mereka di sana. Ustadz Rian sudah menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri dan begitu pun sebaliknya. Ustadz Rian juga mempunyai saudara laki-laki, tetapi mereka kehilangan kontak. Semenjak kakaknya itu diadopsi oleh orang lain. Dan ustadz Rian mulai lupa dengan wajah saudara laki-laki itu. Mungkin takdir Tuhan yang akan mempertemukan mereka kembali.
Di tengah-tengah asyik berbincang-bincang, ada ketukan pintu rumah.
"Bibi biar Nisa saja yang pergi ke depan membuka pintu," kata Nisa dan menyuruh bibi Ati untuk duduk kembali.
"Ada urusan apa kamu datang ke sini?" ketus Nisa dengan ekspresi tak suka.
"Seharusnya aku yang nanya, kenapa kamu berada di rumah ini?"
Nisa tersenyum kecut. "Terserah akulah, dan itu bukan urusanmu!"
Plak!
Vivi melayangkan satu tamparan di pipi Nisa, Vivi sangat kesal sekali dengan Nisa.
"Dasar bocah ingusan, rasain sakit nggak?" Vivi tertawa mengejek.
"Astaga, Non tidak apa-apa. Maafin Pak Non, perempuan ini terus memberontak ingin masuk Non." Pak satpam yang baru datang dan meminta maaf kepada majikannya.
"Nggak apa-apa, Pak," jawab Nisa tersenyum.
Sementara Vivi kebingungan, karena Vivi tidak mengetahui kalau Nisa sudah menjadi istri sah dari ustadz Rian.
Nisa menunjukkan cincin yang melingkar manis di jari manisnya tepatnya di depan muka Vivi.
"Aku sudah menjadi istri sah dari ustadz Rian! jadi aku harap kamu pergi dari sini. Sebelum aku menyuruh satpam menyeret kamu dengan paksa untuk keluar dari sini!" tegas Nisa dengan penuh penekanan.
Tenggorokan Vivi terasa kering, dan kehabisan kata-kata mendengar perkataan Nisa. Dia malu dengan dirinya sendiri.
Bibi Ati dan Nabila yang mendengar keributan pun bangkit untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Astaghfirullah pipi Non Nisa kenapa?" tanya bibi Ati khawatir yang melihat pipi Nisa memerah akibat tamparan keras dari Vivi.
"Tidak apa-apa kok, Bi."
"Siapa perempuan ini, Nis?" tanya Nabila sambil menunjuk Vivi.
"Biasalah perempuan genit yang masih mengejar suamiku," jawab Nisa menyindir Vivi.
"Oo, pelakor ya. Iii serem," timpal Nabila menatap sinis Vivi.
"Jaga omongan kalian bocah ingusan!" geram Vivi.
"Pak tolong keluarkan perempuan ini, dan jangan biarkan perempuan ini menginjakan kakinya di rumah ini lagi Pak!"
"Baik, Non."
"Aku bisa jalan sendiri. Lepasin!" tegas Vivi kepada pak satpam yang ingin menyeretnya.
"Mana mau Pak Rian sama kamu. Kasihan jadi malu sendiri," teriak Nabila mengejek Vivi yang berlalu di hadapan mereka. "Dasar pelakor!" teriak Nabila merasa geram.
"Tunggu saja pembalasanku," monolog Vivi, mengepal tangannya.