My Ustaz Is My Husband

My Ustaz Is My Husband
Takut



"Kenapa bengong, nggak makan?" tanya ustadz Rian kepada Nisa yang hanya melamun di meja makan.


"Nisa sudah bilang, Nisa kenyang ustadz," jawab Nisa.


"Jangan keras kepala, cepat makan. Mau ustadz suapin?" Goda ustadz Rian.


"Iya-iya, Nisa makan nih," sahut Nisa kesal dan segera makan dengan terpaksa karena dia tidak ingin ustadz Rian menyuapinya dan malu ketika di lihat bibi Ati.


"Ustadz tolong ambil air dong," ujar Nisa.


"Iya bentar," sahut ustadz Rian dan segera memberikan air ke Nisa.


Nisa membulatkan matanya ketika melihat ustadz Rian meminum air, di gelas yang di minumnya.


"Ustadz kok minum air bekas Nisa?"


"Emang kenapa?" tanya ustadz Rian balik.


"Ya nggak, ustadz tidak jijik gitu ..."


"Nggak, malahan ustadz senang bisa minum air bekas bibir istri ustadz sendiri."


"Maksud ustadz apa?" tanya Nisa masih tidak mengerti.


"Nggak ada apa-apa," ucap ustadz Rian sambil tersenyum kecil melihat kepolosan Nisa.


***


Selesai makan, Nisa langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa dan di susul oleh ustadz Rian duduk di samping Nisa.


"Nisa." panggil ustadz Rian.


"Iy--a, ada apa sih ustadz?" jawab Nisa gugup dan degdegan karena jarak ustadz Rian dengan dirinya sangatlah dekat.


"Nggak ada apa-apa, cuman pengen panggil aja."


"Dasar nyebelin," ketus Nisa bangkit lalu menarik hidung ustadz Rian.


"Nisa ....," teriak ustadz Rian kepada Nisa yang sudah berlari secepat kilat ke kamar.


"Hahaha, maaf ya ustadz. Makanya jangan nyebelin," ejek Nisa di atas tangga.


Ustadz Rian hanya memasang wajah kesal dengan tingkah Nisa.


***


Malamnya ... Nisa masih fokus belajar di kamar. Karena tinggal beberapa hari lagi, Nisa akan menghadapi ujian kelulusan sekolah. Dan Nisa sudah bertekad untuk mendapatkan nilai yang bagus.


"Nisa sudah shalat isya?" tanya ustadz Rian yang baru saja pulang shalat berjamaah di masjid.


"Ee ustadz dah pulang," sahut Nisa lalu bangkit dan mencium punggung tangan suaminya itu.


"Nisa sudah kok shalat isya, ustadz."


"Baguslah," jawab ustadz Rian mencubit pipi Nisa yang menurutnya sangat gemas.


Nisa langsung diam membeku dan jantungnya berdegup dengan kencang.


"Nisa, Nisa," gumam ustadz Rian melihat pipi Nisa yang sedang merona.


Beberapa menit kemudian hanya ada keheningan di dalam kamar itu, tidak ada satu pun dari mereka untuk membuka obrolan. Nisa masih sibuk belajar, sementara ustadz Rian fokus dengan mushafnya.


"Nisa, tidurlah. Sudah larut malam ini," tutur ustadz Rian memberikan saran.


"Sebentar lagi ustadz," sahut Nisa tanpa menoleh.


"Ya sudah, Mas turun dulu."


"Mau ke mana ustadz? tanya Nisa segera bangkit, Nisa takut ustadz Rian marah karena Nisa tidak menghiraukannya.


"Biar Nisa aja," jawab Nisa antusias.


"Kamu kan lagi belajar, biar Mas bikin sendiri aja."


"Suamiku, aku ini istrimu. Biarkan Nisa yang bikin teh yah," jawab Nisa dan segera pergi ke dapur.


Ustadz Rian hanya tersenyum bahagia melihat sikap Nisa yang sudah mulai berubah pada dirinya.


Tidak butuh lama, Nisa pun segera kembali ke kamar.


"Nih!" kata Nisa dan menaruh di teh itu di atas meja.


"Terimakasih istriku."


"Hmmm iya," sahut Nisa.


"Aaaa ustadz aku takut," teriak Nisa takut karena tiba-tiba listrik padam.


Ustadz Rian segera menyalakan senter di handphonenya lalu berjalan mendekati Nisa yang menutupi wajahnya dengan kedua telapak. Refleks Nisa langsung memeluk tubuh ustadz Rian.


Hiks ...hiks ...


Nisa menangis di pelukan ustadz Rian.


"Kenapa kamu menangis, Nisa?" tanya ustadz Rian khawatir.


"Aku takut ustadz, aku takut gelap," lirih Nisa.


"Tidak perlu takut ada ustadz di sini."


Nisa semakin memperat pelukannya sehingga membuat ustadz Rian sulit untuk bernafas.


"Nisa, mas nggak bisa napas nih!"


"Nisa nggak peduli, Nisa takut pokoknya," cerocos Nisa tetap keukeh.


"Sudahlah ayo kita tidur, mas juga sudah ngantuk."


"Ustadz jangan tinggalin, Nisa," ucap Nisa menahan tangan ustadz Rian.


"Siapa yang tinggalin kamu, mas mau pergi ke kamar mandi sebentar."


Nisa menggeleng kepalanya. "Nisa takut, ustadz nggak boleh pergi ke mana-mana!"


"Baiklah, sekarang kamu tidur ya," sahut ustadz Rian dan segera membaringkan tubuhnya di samping Nisa.


Nisa mendekatkan tubuhnya ke ustadz Rian, dan langsung memeluknya erat.


"Ustadz aku nggak bisa tidur, aku ketakutan," lirih Nisa sambil menyembunyikan wajahnya di bidang dada ustadz Rian.


"Tidak perlu takut ,Nisa. Terus Bagaimana dengan peraturan yang kamu buat kemarin malam itu?"


"Untuk malam ini tidak berlaku, karena aku sangat takut."


"Baguslah."


"Bagus apanya?"


"Nggak ada apa-apa, sudah jangan bicara terus. Tidurlah."


Tidak lama kemudian Nisa terlelap di dekapan ustadz Rian.


"Kau sangat manja istriku," batin ustadz Rian lalu mencium kening Nisa.


Keduanya pun terlelap dalam tidurnya masing-masing. Dengan posisi ustadz Rian tidur menyamping dan Nisa tidur di lengan ustadz Rian sambil memeluknya.